Thursday, August 2, 2018

Surat yang Tak Tersampaikan

Sembilan tahun terasa bagaikan interferensicahaya pada interferometer, sehingga jarak yang memisahkan kita selama ini menghasilkan interferensi konstruktifdan interferensi deduktif. kita berdua bagaikan dua gelombang cahaya yang berpaduan, sehingga dapat menghasilkan cahaya yang sangat terang dan kegelapan.
Aku kembali bermain dengan kenangan disaat kau mengulurkan tanganmu padaku. Kau hadir dengan gelombang cahaya yang menyinari kegelapanku saat itu. Aku langsung tersadar dari kegelapan, bagaikan kecepatan cahaya menerangi setiap sudut ruangan.
Ketika kau kembali menerangi kehidupanku yang sebelumnya gelap, kucoba untuk menulis beberapa surat untukmu, tapi aku masih saja menjadi pengecut dan tak berani sampaikan padamu.
Untuk Perawat Gila
Selamat pagi cantik yang tinggal di kawasan kekurangan listrik, saat ini tepat pukul 05:30, sepertinya kau masih tertidur di balik selimut. 
Pagi ini aku teringat padamu dan sengaja kukirim beberapa kalimat untuk memberimu semangat disaat kau terbangun nanti.
Jika nanti kau tersadar dengan cahaya mentari, jangan lupa untuk ucapkan syukur pada Sang Pemilik Fajar. 
Jika berbicara tentang mentari dipagi hari, aku teringat pada hari jumat pagi, saat aku ungkapkan perasaanku padamu yang merupakan awal dari hubungan kita. 
Sekarang kita memang tak memiliki hubungan lagi, tapi izinkan aku untuk mengingat kembali setiap kepingan kenangan disaat kita masih bersama.
Kenangan kita saat itu tak mungkin kulupakan, apalagi sifatmu yang selalu kuingat. Kadang kau pendiam dan kadang juga kau cerewet. karena terlalu pendiam, jika saat marah kau selalu diam bagaikan patung. Karena terlalu cerewet, kau yang selalu memulai percakapan terlebih dahulu dan yang mengakhiri percakapan kita.
Hai cantik, yang dulu pernah aku panggil dengan kata "Sayang". Sekarang kau telah tambah dewasa dan tambah cantik dengan tahi lalat kecil pada bagian atas bibirmu. Tidak terasa kau bukan anak SMA lagi seperti dahulu saat kita masih bersama.
kini kau merupakan seorang sarjana keperawatan. Setelah percakapan kita beberapa hari lalu, aku mengambil kesimpulan bahwa kau adalah perawat gila. Kalau kau sudah terbangun dari tidurmu, jangan lupa minum obat agar otakmu bisa sedikit waras.
Jumat pagi pernah menjadi hari yang spesial untuk kita berdua. Pagi yang mengajarkanku untuk berani mengungkapkan rasa padamu. Sekarang tepat pada jumat pagi, aku ingin terbang bersama dengan semua kenangan kita dulu.
Cepatlah bangun! Bangunkan dirimu agar sadar bahwa kau adalah perawat gila yang butuh obat agar kembali waras.
Cepatlah sadar! Sadarkan dirimu bahwa februari yang akan datang, kita masih bisa kembali bersama.
Untuk mengakhiri tulisanku di pagi ini, aku ingin ingatkan kembali bahwa nanti sore kita punya janji untuk bertemu. Oleh karena itu cepatlah bangun dan sambut pagi dengan obat waras, supaya kau tidak lupa akan janji kita hari ini.
Salam manis untukmu wahai perawat gila yang tinggal di kawasan kekurangan listrik.
Itu adalah surat yang kutulis dihari pertama kau kembali mengisi hariku. Ingin kusampaikan padamu, betapa bahagianya diriku disaat kau kembali, tapi surat itu hanya kutulis tanpa kusampaikan padamu.
Kepada: Yang Aku Perjuangankan
Boleh aku minta waktumu sedikit?
Kau tahu? Aku sangat senang bisa bertemu kembali denganmu, hatiku juga terasa tenang dan nyaman saat bersamamu. 
Sekian lama perpisahan kita, akhirnya bisa terobati dengan pertemuan itu. Aku harus jujur bahwa saat itu kau terlihat cantik, tapi aku merasa tak pantas lagi untuk memujimu.
Aku teringat pada kesalahanku sebelumnya, yang meninggalkanmu demi egoku. Kau juga harus tahu bahwa aku tidak meninggalkanmu sepenuhnya, aku selalu melihatmu dari kejauhan.
Apakah kau akan memaafkan semua tindakanku saat itu?
Ketika aku ingat kesalahan yang kulakukan sebelumnya, rasanya bagaikan air laut yang masuk ke dalam hidung. Sehingga membuat kepalaku terasa sakit dan pedih, serta badanku yang terasa lemah dan tak berdaya. 
Sungguh, aku menyesali tindakanku saat itu. Aku merasa tak pantas lagi untukmu, karena kesalahanku dulu yang telah meninggalkanmu demi egoku.
Mungkin aku hanya lelaki sederhana yang tak bisa menjadi pangeran tampan dan kaya seperti impianmu, tapi aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia di dunia dan di akhirat nanti.
Mungkin kau telah lewati banyak kesan dengan lelaki lain setelah aku, tapi aku masih memiliki rasa yang sama padamu dan berharap kau akan berikan kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku sebelumnya.
Rasa nyaman dan tenang saat bersamamu, memicu hormon endorfin yang diproduksi oleh kelenjar pituari dan syaraf pusat dikepalaku. Sehingga memberikanku energi positif yang membuatku ingin memilikimu kembali. Aku pun selalu berusaha untuk menahan energi tersebut, sehingga hanya kutuang dalam tulisan surat yang tak pernah kusampaikan padamu.
Kepada: Gadis Penunggu Takdir
Assalamu'alaikum.
Hai gadis penunggu takdir, bagaimana kabarmu sekarang? Apakah kau sudah temukan takdir yang kau tunggu? Padahal aku disini adalah takdirmu, hehehe becanda.
Mungkin saat ini kau masih merasakan sakit dari luka kehidupan yang kau katakan bernana dan membuatmu trauma. Sehingga kau putuskan untuk menunggu takdir. 
Kau mungkin masih merasakan pedihnya hidup yang pernah kau alami, tapi itulah estetika hidup.
Hai gadis penunggu takdir, kau terlihat tak lelah dalam menunggu, senyum yang kau berikan seperti menyimpan rasa yang kau sembunyikan. 
Kau memberikan kesempatan kepada semua lelaki untuk mendekatimu, tapi kau tak pernah berani memilih salah satu dari mereka.
Hai gadis penunggu takdir, janganlah hanya menyimpan rasa sakit dari luka itu, tapi kau harus merawatnya agar luka itu hilang. Sudah saatnya kau bangkit dan mengobati rasa sakit yang kau simpan, aku disini akan siap membantu disetiap proses penyembuhan luka itu.
Berhentilah! Berhentilah menjaga lukamu itu.
Hai gadis penunggu takdir, bagaimana kau bisa menunggu takdirmu dengan cara masih menyimpan luka yang bernana. 
Aku mungkin bukan takdirmu, tapi aku meminta kesempatan padamu untuk mengizinkanku menjadi penyembuh lukamu.
Salam manis untukmu, semoga kau siap untuk menyembuhkan luka bernana itu.
Aku bukanlah seorang fisikawan yang pandai tentang teori Fisika Kuantum, sehingga bisa menembus ruang dan waktu melalui kecepatan dan getaran yang kurasakan ketika bersamamu.
Aku ingin sekali menyerap energi dan gelombang kuantum itu, untuk pergi kemasa depan. Sehingga bisa melihat takdirku dan takdirmu nanti.
Kepada: Wanita Rebutan Para Lelaki
Hai sang juara, apa kabar? Iya, kau yang menerima surat ini, yang pernah menjadi sang juara hatiku. 
Maaf mengganggu aktifitasmu hari ini, aku hanya ingin meminta sedikit waktumu untuk membaca tulisanku, yang mungkin tidak terlalu penting bagimu.
Aku tahu sekarang kau telah bahagia dengan pilihanmu, yang merupakan sosok terbaik yang kau impikan. 
Aku tahu begitu banyak lelaki yang mengagumi dirimu, tapi maafkan aku yang telah mundur dalam memperjuangkanmu demi kebahagiaanmu.
Aku mundur demi memberikanmu kebebasan dan kemudahan untukmu memilih. 
Akhirnya kau telah membuat sebuah pilihan dan tampak bahagia. Kusampaikan salam untukmu dan pilihanmu agar selalu mendapatkan Ridha-Nya.
Semoga pilihanmu bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Siap di manapun dan kapanpun untuk menjagamu, selalu siap sedia saat kau susah dan senang, sedih dan gembira, serta berada di sampingmu saat kau sakit seperti yang pernah kau ceritakan.
Keikhlasan dalam melepasmu merupakan puncak perjuanganku padamu, dan itu adalah akhir dari kisah kita.
Sekarang kau telah bebas dan bahagia bersama pilihanmu, begitu juga denganku yang telah bebas bersama sejuknya angin laut disore hari.
Beberapa kenangan kita telah terkubur di dalam pasir putih yang kini tenggelam bersama pasangnya air laut. Kenangan tentang kita telah terganti dengan merdunya suara ombak yang dinamis.
Untuk mengakhiri tulisan ini, dengan senyum yang ikhlas bersama cerahnya langit dan mentari disore hari, kusampaikan salam untukmu agar selalu bahagia dengan pilihanmu.
Sekarang aku akan terbang mengikuti arus angin yang tak beraturan, hingga kutemukan seseorang yang telah menungguku.
Itu adalah surat terakhir yang kutulis dan belum berani kuberikan padamu. Aku mencoba ikhlas menerima apa yang telah ditetapkan oleh Sang Pemilik Takdir. Aku hanya berharap memiliki sifat-sifat cahaya yang dapat dijelaskan dengan teori partikel, berharap setiap gerakku terletak dalam kerangka ruang dan waktu yang relatif. Sehingga dapat mengalahkan waktu yang terlihat sok tahu saat mengingatkanku tentang takdir.

Wednesday, August 1, 2018

Setelah 9 Tahun

Perjalanan panjang yang kulalui ternyata tak semudah yang kubayangkan, tapi aku masih mampu bertahan melewati semua lika liku kehidupan, dan harapanku padamu hingga saat ini. Semua itu tidak sia-sia, bahkan kudapatkan banyak pelajaran yang bisa menjadi motivasi untuk tetap melangkah.
Aku masih mampu melihatmu dari kejauhan. Setiap hari kau disibukkan dengan urusan pekerjaan dan permasalahan dalam keluarga yang tampak sudah kau nikmati. Kesibukanmu itu juga menjadi masalahmu dengan lelaki yang masih bersama denganmu sekarang. Ingin sekali kutulis namanya dalam tulisanku, tapi bagimu itu hal yang tidak perlu kucantumkan.
Dia adalah lelaki yang sangat beruntung, yang masih direstui oleh semesta. Satu-satunya lelaki yang mematahkan komitmenmu, hingga mendapatkan kesempatan yang kedua dan ketiga, mungkin akan ada kesempatan berikutnya darimu. 
Aku beberapa kali melihat kemesraanmu dengannya, kau terlihat bahagia ketika berada disampingnya. Walaupun kau lelah dengan segala urusan pekerjaan dan masalah dalam keluarga, tapi semua lelah itu hilang terbayar ketika berada disampingnya. 
Aku bisa merasakan ketika kau tersakiti atau memiliki banyak beban kehidupan yang kau pikul. Semua itu tergambar pada raut wajahmu yang kusam dan cemberut. Kau diam dan tak ingin bersuara, seakan-akan kau sembunyikan rasamu dari semesta, tapi kau tak bisa sembunyikan semua itu dariku. 
Aku sudah lama mengenalmu, bahkan lebih lama dari lelaki yang menjadi pujaanmu. Dia memang mampu meluluhkanmu dengan sikap dan kasih sayangnya, serta perhatian yang dia berikan padamu. Tapi dia belum tentu bisa bertahan selama sembilan tahun memberimu kasih sayang dan perhatian, tanpa menuntut balas. Sepertiku yang masih bertahan dengan harapan dan kenangan kita.
Sudah lebih dari sembilan tahun kujaga harapan ini. Memberikanmu perhatian dan kasih sayang tanpa menuntut balas darimu, merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku. Melihatmu bahagia membuatku senang, tapi mengapa kau selalu menyembunyikan kesedihanmu dariku? Seakan-akan kau lupa bahwa aku bisa membedakan kapan kau marah, senang dan sedih.
Aku tahu saat itu kau sedang memikul beban yang terlalu banyak, entah dari urusan pekerjaanmu atau dari permasalahan dalam keluargamu. Sehingga membuatku harus memancing emosimu untuk menceritakan semua keluh kesahmu.
Saat itu hari semakin gelap, aku melihat jam di smartphone yang kugenggam menunjukkan pukul 00.15. Kita masih saling berbagi cerita hingga kau tertidur lelap, sehingga harus kita lanjutkan pembahasan itu pada esok hari. Padahal kau belum belum menceritakan semua permasalahanmu, dan begitu juga denganku yang masih ingin berbagi cerita denganmu. Sehingga kita harus mengakhiri pembahasan itu dimalam kedua.
Seperti itulah hidup, akan selalu ada hal baik dan buruk yang akan kita hadapi. Kita harus bisa menentukan langkah untuk memilih, jangan ada ragu ketika kau sudah berani melangkah, dan kau harus berani bertanggung jawab dari setiap langkah yang kau pilih.
Sakit, senang, sedih dan bahagia sudah menjadi hal yang lumrah oleh setiap manusia. Semua tergantung pada kita yang menjalaninya dengan cara mengeluh atau menikmati setiap perjalanan itu. Aku tahu sangat berat permasalahan yang membuat pikiranmu berkecamuk. Sehingga kau sempat berfikir untuk pergi menjauh dari rumah, tapi jangan sekali-kali kau berani lakukan itu.
Saat kau memiliki banyak permasalahan dalam hidupmu, beranilah mengahadapi masalah dan jangan pernah kau mencoba untuk lari dari semua masalah yang kau hadapi. Saat kau tak berani melawan, akan banyak masalah baru yang bermunculan dan menumpuk. Cobalah berani seperti yang kau ajarkan padaku dahulu.
Aku ingat ketika kau mencoba lari dari masalah yang sudah menumpuk. Kau mengirimkan pesan disalah satu media sosial yang sering kita gunakan untuk berkomunikasi "Kak dimana? Apakah Karin boleh tidur dirumah kak Zayn?" Pesanmu ini membuatku sedikit emosi, aku ingin sekali memarahimu. Kau tak perlu lari dari masalah, kau bukan wanita yang lemah.
Sekarang kau sudah dewasa, mampu membedakan mana yang baik dan tidak baik untukmu. Jika kau butuh tempat untuk mengeluh, aku akan selalu siap menampung keluhanmu dan berusaha mencarikan solusi disetiap permasalahan yang kau hadapi. Jika tidak ingin berbagi keluh kesahmu juga bukan masalah bagiku, karena berbagi cerita denganku atau tidak adalah hak pribadimu.
Setiap pertanyaanmu saat itu, telah kujawab dengan jujur, karena aku tidak mungkin mengatakan hal yang tidak mampu kulakukan. Aku jujur dan serius saat menjawab semua pertanyaanmu, karena pertanyaan itu merupakan salah satu bagian dari harapan yang masih kugenggam. 
Setelah sembilan tahun kau masih mengizinkanku untuk memberi perhatian padamu, dengan harapan yang masih kugenggam, itu sudah lebih dari cukup. Aku yakin kau tahu mana yang terbaik untukmu, yang mampu menuntunmu pada kebaikan, bertahan disampingmu disetiap kondisi tanpa berniat meninggalkanmu, menerima setiap kekurangan dan kelebihanmu, dan menjadikanmu satu-satunya wanita yang diperjuangkan hingga masa tua.
Kita berdua sudah dewasa, aku tidak pernah berfikir untuk merebutmu dari lelaki pujaanmu, aku bahkan mendukung setiap pilihan yang membuatmu bahagia. Sembilan tahun bertahan dengan harapanku padamu merupakan hal yang pantas aku lakukan, demi membayar satu kesalahan yang menjadi penyesalan bagiku. Yaitu meninggalkanmu tanpa memberikan alasan disaat hubungan kita berakhir.

Monday, July 30, 2018

Irama Hati yang Terluka

Hasutan waktu tak mampu melawan pikiran dan jari-jariku yang masih ingin berimajinasi dengan kenangan masa lalu. Kemudian aku tuangkan dalam setiap alfabet yang menjadi karsa, hingga tulisanku hidup dan bernapas bagaikan manusia.
Hatiku masih mampu menerima sosok lain dalam kehidupanku, sedangkan pikiranku masih bermain dengan bayangan Karin yang sudah jelas tidak akan memilihku. Karena sampai saat ini kenangan tentangnya masih tersusun rapi tanpa ada yang berani mencurinya.
Menghilangkan Karin dari pikiranku, hanya merupakan usaha yang sia-sia. Bahkan aku berani membentak jika ada malaikat yang mencuri kenangan itu. Biarlah kenangan itu menghilang dengan sendirinya, seiring dengan melemahnya otakku.
Hati ini bukan miliknya, karena aku masih mampu menghempaskan Karin dari hatiku. Walaupun harus melawan rasa sakit yang berlipat karena melawan hasrat dari pikiranku.
Memiliki hati yang lemah dan gampang tergores luka, bukanlah satu hal yang mudah. Pernah ada wanita yang menjaga hati ini dengan baik dan juga ada yang menggores hingga terluka, tapi bukan Karin. Karin hanya berani bermain dalam ruang otakku, sehingga menjadi pertimbangan disetiap langkahku.
Ada wanita yang sedang berjuang menjaga hatiku, yang menghiraukan sosok Karin dalam pikiranku. Wanita yang tangguh menyembunyikan rasa sakit dan selalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa, ketika dia tahu aku sedang bermain dengan kenangan Karin. Aku belum ingin menulis tentangnya, tapi aku tahu dia selalu membaca tulisanku secara diam-diam.
Hatiku pernah merasakan luka yang perih berbarengan dengan rasa bahagia oleh satu wanita. Satu-satunya wanita yang menjaga hatiku secara berlebihan, sedangkan aku membiarkan hatinya meloncat ke berbagai arah. Mampu membuat hari-hariku menjadi cerah dan mampu menjadikan hari-hariku gelap.
Wanita yang memiliki ego besar dan hati yang keras seperti batu, tapi selalu aku nikmati setiap perbuatannya. Dia yang melukai hati dan dia pula yang mengobati. Aku tidak marah pada waktu, yang telah meninggalkanku bersamanya. Apalagi menyesal pernah menjadikan wanita itu sebagai bagian dari kisah hidupku. Karena aku tidak pernah menyesali orang yang dekat denganku, walaupun hanya membawa luka.
Adakah yang pernah rasa bagaimana tergantikan dalam hitungan detik? yang diutamakan tapi dikhianati secara diam-diam. Hati bukanlah bola basket yang bisa dimainkan semau kita, dan dilempar ke berbagai arah. Terkadang aku membalas semua perbuatannya, tapi malah menjadi bumerang bagiku hingga dimusuhi oleh semua temannya.
Temanku pernah dijadikan musuh baginya, sedangkan temannya sudah ku anggap temanku sendiri. Aku tidak pernah marah atau menuntut keadilan, ketika teman-temanku pun memusuhiku disebabkan oleh hasutannya. Kubiarkan mereka memercayai setiap kalimat darinya, tanpa harus ada penjelasan dariku sebagai perbandingan. Aku rela tak dipercaya oleh orang terdekat, bahkan rela berjalan dikegelapan demi memenuhi hasratnya.
Pertengkaran, perdebatan dan saling meninggalkan sudah terbiasa kunikmati. bahkan menikmati setiap luka yang dia berikan. Ego yang besar menjadikannya percaya diri bisa lebih hebat dariku, bahkan selalu berusaha membuatku tak disukai banyak orang. Akupun hanya bisa diam dan menerima setiap perlakuan itu, karena hatiku sudah terbiasa dan tak ingin menghilangkan kebiasaan itu. kebiasaan menikmati rasa sakit itu pun menjadi candu bagiku.
Dia membuatku jauh dari setiap orang terdekatku, kemudian dia tinggalkan sendiri di dalam kegelapan tanpa ada cahaya sedikitpun, hingga akhirnya Karin datang mengulurkan tangannya. Dialah Yuni, wanita yang memusuhi sosok Karin bahkan pernah memusuhi wanita tangguh yang sekarang  sedang berjuang menjaga hatiku.
Hatiku juga pernah hanya dijadikan sebagai tempat berteduh sementara oleh seorang wanita, seakan dia hanya butuh perhatian saja. Wanita yang pernah termakan hasutan Yuni, tapi dia terima segala hasutan itu tanpa marah dan tanpa mengakhiri hubungan. Wanita yang manja dan selalu menyembunyikan rasa sakit, yang selalu memberikan perhatian, tapi akhirnya meninggalkanku sendiri dan dia kembali dengan masa lalunya.
Begitu banyak irama yang dirasakan hati ini, terluka dan tersakiti yang sudah menjadi candu. Tergores hingga berdarah bukanlah hal yang harus disesali, karena semua itu adalah pilihanku agar terus melangkah kedepan.

Lirik Janji yang Terlupakan

Malam ini aku masih terjaga karena memikirkan percakapan terakhir kita. Kucoba untuk mematikan lampu kamarku dan menutup kedua bola mataku, tapi aku malah masuk kedalam ruang otakku. Kemudian aku mencoba menyusuri ruang khusus yang telah menjadi tempat kusimpan rapi tentang setiap kenangangan kita.
Pernahkah kau tenggelam dalam kenangan? Aku temukan lirik-lirik janji kita didalam kenangan itu. Janji yang hanya kita ucapkan tapi telah kita lupakan. Waktu pun menyadarkanku sebelum terlalu dalam kutenggelam bersama semua kenangan itu, yang membuat air mataku berjatuhan tanpa sebab.
Kau pernah melukis wajahmu dengan tinta kasih sayang di dalam ruang hatiku. Kau juga pernah menitipkan bayangan senyum manismu di dalam pikiranku. Apakah harus kuhapus tinta yang terukir dikanvas hatiku, agar tak ada lagi bayangan tentangmu?
Membaca tulisanmu yang begitu emosi saat kita berbagi rasa, aku tak temukan diriku yang menjadi juaramu. Selama ini aku hanya menjadi juara kedua bahkan ketiga, keempat dan seterusnya.
Aku tahu, tidak ada namaku didalam ruang hatimu. Bukan aku orang yang selalu kau sebut menjadi lelaki kesayanganmu. Mataku menjadi saksi menahan rasa sakit ketika kau bermesraan dengan lelaki, telingaku yang telah terbiasa mendengar kalimat rasa bahagiamu, tapi bukan denganku.
Kenapa kau permasalahkanku sebagai lelaki pengecut yang meninggalkanmu tanpa alasan, sedangkan kau masih labil dengan perasaanmu. 
Waktu telah menghasutku agar menjauh meninggalkanmu bersama kenangan yang telah menjadi diksi-diksi disetiap tulisanku. Sedangkan logikaku masih menginginkan aku kembali bersamamu, padahal ruang itu bukan untukku. Lalu kenapa kau masih hadir kemudian pergi lagi.
Bagaimana bisa kau pertanyakan keberanianku, sedangkan lirik janji kita telah kau lupakan. Apakah aku harus berlaku curang? Melawan takdir kemudian berjalan kerumahmu dan bertemu dengan orang tuamu? Sedangkan kau masih belum bisa menentukan siapa pemilik ruang itu, yang merupakan tempat untuk masa depanmu seperti yang dikatakan oleh waktu.
Jangan kau tanyakan perasaanku, jika kau tak mampu untuk menentukan. Sungguh ini tidak adil, Sudah lama aku menjaga bayanganmu disetiap langkahku, dan kau mengetahuinya. Apalagi yang harus dipertanyakan?
Bukan maksudku menuntutmu, namun tak mudah melangkah bersama harapan yang berisi lirik janji yang telah kau lupakan. Tolong yakinkan saja raguku, Apakah aku harus pergi darimu dan membunuh perasaanku padamu?
Aku bisa mengikuti waktu untuk menjauh meninggalkanmu, tapi itu terasa berat bagiku. Berilah kisah kita sedikit waktu, karena aku belum melihat kau terasa berat saat aku berkata untuk pergi menjauh.
Setiap manusia memang memiliki seseorang yang menjadi pilihannya, yang mampu mengubahnya menjadi lebih baik, dan kau masih menjadi pilihanku.
Aku memang pernah bertemu wanita yang lebih cantik darimu, lebih cerdas dan lebih besar perjuangannya untukku, dibandingkan perjuanganku padamu. Tapi untuk apa jika hati ini milik orang lain sedangkan pikiranku masih membayangkanmu seperti lirik janji kita.
Coba tanyakan hatimu sekali lagi, sebelum aku benar-benar pergi menjauh darimu yang masih menjadi alasanku untuk bertahan. Apakah masih ada ruang untukku? 
Kisah kita memang sebentar, tapi semua kenangan itu terukir indah didalam ruang otakku. Aku tak pernah bosan dan berhenti mencoba membuatmu tersenyum dan memberimu perhatian. Aku juga tak menuntut balas darimu, karena bahagiamu adalah bahagiaku.
Aku ingin sekali memarahi waktu yang menuntunku berjumpa lagi denganmu dan harapanku saat itu. Entah takdir yang tak mengizinkan kita menyatu, atau kau yang belum bisa memberi ruang untukku. Menyadarkanku yang telah terlambat menyesali setiap kesalahan dan kebodohanku.
Aku masih menghitung detik, menit dan jam saat bersamamu. Seakan ingin sekali berlama-lama mendengarkan suara dan menatap matamu. Senyummu saat itu masih seperti terakhir kali kita bertemu sebelum hubungan kita berakhir. Saat dimana kau tersenyum dan tertawa dirumah temanmu yang sudah terbiasa dengan hubungan kita.
Aku tahu kau pasti lupa setiap kepingan kenangan kita, apalagi tentang lirik janji yang kita buat. Aku ingin sekali berbagi setiap kenangan itu denganmu, bahkan rela memberikan setiap memori dikepalaku agar kau sadar dengan semua perjuanganku.
Cobalah kau tanyakan padaku tentang kita, akan kujelaskan dengan detail setiap kisah itu, walaupun harus melawan waktu yang masih terus menghasutku.
Hati, pikiran dan jari ini sepakat untuk terus mengetik dan melanjutkan tulisanku. Tapi kau mungkin tak akan mau lagi membaca setiap alphabet yang kususun menjadi narasi tentangmu. Jadi untuk apa kuteruskan? Sehingga mungkin ini menjadi tulisan terakhirku, yang hanya kutujukan pada satu wanita, yaitu kamu Karin.

Kehadiran Yuni

Aku masih menjadi Karin yang kau kenal, yang tidak pandai dalam menulis. Tidak sepertimu yang cerdas dalam menyusun kata-kata hingga menjadi kalimat yang menyentuh hati setiap pembaca. Tetapi kau masih menjadi laki-laki pengecut, yang hanya bisa mengandalkan temanmu saat mengakhiri hubungan kita.
Kenapa kau tidak jelaskan bagaimana bodohnya dirimu saat mengakhiri hubungan kita? Atau kenapa kau tidak tuliskan cerita tentang sosok Yuni, yang pernah menjadi pemenang dalam kehidupanmu. Bahkan berhasil menghapusku bukan hanya dari hidupmu, tapi juga dari setiap akun media sosialmu, sehingga tersisa Line yang dia lupakan. 
Seharusnya Yuni menjadi karakter yang kuat untuk diceritakan. Bukan aku, yang hanya sebentar saja mengisi bagian kisah hidupmu. Jika kau tidak ingin jadikan dia sebagai tokoh dalam tulisanmu, maka aku akan jadikan Yuni sebagai tokoh yang akan kuceritakan dalam tulisanku ini.
Aku sempat tidak menerima kabar darimu sejak Yuni menghapusku dari setiap akun media sosialmu, padahal selama ini komunikasi kita masih terjaga. Sehingga aku kaget ketika melihat foto mesramu dengan Yuni, yang di pamerkan oleh temanmu di akun facebooknya. Aku sempat mengira, kau sengaja untuk tidak berbagi cerita denganku, seperti yang kita lakukan sebelumnya, dan sempat berpikir kau sudah bahagia.
Aku jujur, saat itu kaget ketika melihat kau yang sejak SMA sudah terbiasa menikmati kesindirian, dan akhirnya memiliki pasangan yang bernama Yuni. Kemudian aku mencoba mencari tahu tentang kalian berdua. 
Akhirnya aku menggunakan akun facebook temanku untuk stalking tentangmu. Aku tidak melihat kau pamer tentang Yuni di profil facebook-mu. Dan Yuni ternyata kakak kelasku saat SMA, tapi jujur aku tidak kenal dan tidak pernah melihat sosok Yuni itu disekolah. Entah aku yang kuper atau dia merupakan senior yang culun saat SMA, yang hanya berada dalam kelas saja. Karena aku kenal semua temanmu dan beberapa teman se-angkatan denganmu, tetapi aku tidak pernah melihat batang hidung Yuni saat disekolah dulu.
Tiba-tiba aku melihat Yuni sudah berteman denganku di facebook, aku tidak tahu siapa yang tambahkan. Tapi setelah beberapa hari kemudian, dia sudah tak berteman lagi denganku. Aneh kan? Mungkin dia masih labil pikirku.
Sejak saat kau telah bersama denganya. Aku mulai memperhatikanmu, kau terlihat bahagia dan terlihat serius dengan hubungan yang kalian jalani. Aku pun sempat berpikir sudah tidak ada lagi tentang Karin, intinya saat itu aku bersyukur atas kebahagiaanmu. Beberapa kali aku pernah mendengar perkataan temanmu, yang mengatakan bahwa kau masih saja mengingatku. Jujur aku geer ketika mengetahui bahwa ternyata kau masih menyukai sosok Karin.
Sejak kedekatanmu dengan Yuni, aku merasa kau terlihat lain, tidak sama seperti kak Zayn yang ku kenal dulu. Sepertinya jalanmu sudah mulai tak lurus lagi, sehingga aku pun mencari tahu untuk memastikan saja, apakah kau masih Zayn yang ku kenal.
I'am right, dugaanku benar bahwa jalanmu tak lurus lagi. Ingin sekali menegurmu, tapi apa daya diriku saat itu bukan lagi siapa-siapamu. Aku hanya masa lalumu yang tak berwenang untuk menegurmu, apalagi hubungan kalian yang sudah sangat lama, aku takut jika hanya membuat pertengkaran dalam hubungan kalian. Kemudian aku hanya bisa membiarkan kau memilih jalanmu sendiri, seperti yang kau lakukan padaku sebelumnya. Sembari mendo'akanmu agar tidak terjerumus terlalu dalam dengan pilihanmu.
Akhirnya ketika aku melihat postinganmu di Line, yang sedang memamerkan obat-obatan dan minuman yang tak jelas. Tanpa berfikir panjang, akupun langsung menghubungimu. Responmu saat itu mengagetkanku, kau langsung sadar seketika dan kau seperti tidak takut Yuni memarahimu karena aku kembali lagi dalam kehidupanmu. Setelah kau jelaskan tentang perpisahanmu dengan Yuni, aku merasa aman dan komunikasi kita yang sudah lama terputus, akhirnya tersambung kembali.
Sejak saat itu aku selalu kerumahmu setiap hari, kita tertawa dan bercanda bersama seperti sebelumnya yang biasa kita lakukan. Kita juga memainkan game yang sama, dan kau tidak lupa tentang sifat-sifatku. Hingga tawa canda itu harus kita hentikan disetiap waktu menjelang malam. Seperti biasa, kau langsung mengantarku kerumah agar orang tuaku tidak khawatir.
kemudian datang lagi sosok Yuni rese itu, aku ingat sekali kelakuannya kepada kita. Dia menghasut pacarku, dan memfitnah kau sebagai orang ketiga dari retaknya hubunganku dengan pacarku. Pacarku pun langsung percaya kepadanya, dan tidak mau mendengar penjelasanku. Sedangkan kau, masih seperti kak Zayn yang terlalu baik kepada setiap orang, walaupun orang itu telah menyakitimu. 
Kenapa kau harus meminta maaf dan memberi penjelasan kepada pacarku? Kak Zayn, kita saat itu tidak salah. Jika aku tahu kau malah memberi penjelasan yang tidak penting kepadanya, aku pasti akan langsung marah kepadamu. Untuk apa kau lakukan itu? Demi kebaikanku? Tidak perlu, biarkan saja dia mungkin ingin pacaran dengan Yuni.
Semua ini ulah Yuni, dendam nyi pelet-nya membuat hubunganku dengan pacarku berakhir. Tapi aku kasihan terhadapmu yang saat itu dituduh menjadi orang ketiga. padahal dia itu Yuni kak, wanita yang pernah menggantikan posisiku dalam hidupmu. 
Sejak saat itu komunikasi kita terputus kembali. Aku menjaga perasaanmu, sehingga aku menjauh demi kebaikan kita berdua. Ini semua akibat dendam nyi pelet milik Yuni. Good job Yuni, misimu berhasil, dan semoga kau cepat disadarkan.

Rasa Bersalah

Berapa hari lalu kita bertemu lagi di salah satu restoran makanan cepat saji, bersama kedua temanku yang memang sudah terbiasa dengan hubungan kita sejak SMA. 
Seperti biasa, aku Karin kesayanganmu masih merasakan rasa yang biasa kau bagikan sejak dulu. Yaitu caramu menyayangiku bukan hanya padaku saja, tapi terhadap teman-temanku juga. Aku berharap pendampingku kelak sepertimu, yang bisa menyayangiku, teman dan keluargaku.  
Bukankah sudah ku katakan padamu, kau tak perlu mendengarkan permintaan kedua temanku itu, padahal kita janjian hanya untuk pergi minum es kepal durian yang berada dekat rumahku. Tapi yasudah lah, dari dulu kau memang selalu begitu, memanjakan temanku yang sudah terbiasa dengan kebaikanmu.
Pertemuan kali ini terasa berbeda, kita bukan lagi anak SMA yang seperti dulu lagi. Aku sudah dewasa kak, jangan lagi kau menyebutku si keriting yang alay, atau mengejek postur tubuhku yang tidak bertambah tinggi sejak umur 17 tahun. Apalagi mempermasalahkan berat badanku seperti yang telah kau tulis pada tulisanmu sebelumnya.
Kali ini aku ingin mempertanyakan tentang surat pertama itu, apakah surat itu tidak berlebihan? Aku kan Karin yang pemalu, masa iya menulis surat seperti itu hahahaha. Dan kau pun menjawab "iya benar, Karin memang pemalu saat belum jadian. Tapi setelah itu, berubah menjadi Karin yang tidak tahu malu". Hahaha kita kembali bernostalgia dengan masa lalu.
Kau memintaku untuk meneruskan tulisan tentang kita, terutama menanggapi tulisanmu sebelumnya. Jujur aku ingin sekali membahas tentang karakter Yuni yang rese itu, yang telah menghapusku dari semua media sosialmu, dan tersisa Line yang dia lupakan. Padahal kau tahu aku tak begitu suka dengannya, setelah apa yang dia perbuat pada kita berdua. Tapi kali ini aku hanya ingin menulis tentang rasa bersalahku padamu.
Memang benar apa yang kau sampaikan, tentang pernyataanku yang selalu kutekankan padamu dan lelaki setelahmu. Aku merasa seperti menjilat ludah sendiri, pernyataan itu akhirnya menjadi bumerang untukku. Aku merasa bersalah setelah membaca tulisanmu, aku tak mampu berkata-kata lagi, tak mampu membantah, karena itu memang kesalahanku sendiri. 
Kau memang tidak menuntut saat itu, seperti lelaki lain setelahmu. Tapi kau juga merasakannya bukan? Aku baca tulisanmu yang mengatakan aku tidak berlaku adil terhadapmu, dan aku bisa merasakan itu.
Kak zayn, kali ini Karin hanya bisa minta maaf soal pernyataan itu, kau tahu lah bagaimana sifat anak SMA yang masih labil. Setelah kuliah aku baru disadarkan oleh teman-temanku, agar memberikan kesempatan kedua. 
Kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencoba untuk berikan kesempatan, walaupun nanti hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Seandainya dulu cara berpikirku seperti ini, kisah kita tak akan seperti tulisan-tulisanmu itu.
Kau bertanya "bagaimana rasanya setelah memberikan kesempatan kedua, apakah ada yang beda?". Kak Zayn, aku tahu kau mempermasalahkan perihal ini, walaupun kau mengatakan tidak menuntut hal itu. Tapi aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, setiap membaca tulisan-tulisan tentang kita, yang sangat detail kau gambarkan pada setiap narasi yang kau tulis.
Memberikan kesempatan kedua rasanya seperti permen nano-nano, kadang terasa ini merupakan keputusan terbaik, kadang terasa ini merupakan keputusan yang salah. Seperti kita membaca buku yang sama berulang kali. Kita sudah tahu alur cerita hingga akhir, tapi tetap saja masih ingin kita baca berulang kali. Seperti itu lah yang aku rasakan.
Menurut Karin, ketika memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berubah, pelan-pelan suatu saat dia akan berubah. Itulah yang karin yakini hingga saat ini, seperti siklus yang berkelanjutan, antara Kesempatan, yakin, kesalahan, dan kesempatan lagi.
Jika kau tanyakan apa yang kurasakan sekarang, aku tidak bisa menjawab. Antara yakin dengan dia ataupun telah terjebak dengan siklus itu. Tapi lelaki yang bersamaku sekarang masih menjadi yang terbaik, terbaik dalam hal bahagia dan terbaik dalam hal luka.
Rasa bersalah ini seharusnya tidak ada, jika dulu kau tak gampang terhasut. Kau tidak pernah menceritakan penyebab dan alasan berakhirnya hubungan kita bukan? Aku kesal dengamu saat itu, kau akhiri hubungan kita tanpa memberikan alasan, bahkan aku mendapatkan alasan itu dari temanmu.
Mungkin sosok kak Zayn yang dulu kurang meyakinkan dibandingkan dengan yang sekarang. Kau masih saja tidak memiliki keberanian, yang hanya bisa mengandalkan teman. Bahkan alasan berakhir hubungan kita, hanya temanmu yang sampaikan. Kau terlihat tidak gentle saat itu, kau seakan terhasut kesendirian yang dirasakan oleh temanmu. Sehingga akhirnya kau rasakan siksanya kesendirian itu, yang kau sebut menikmati kesendirian. Dan lebih parah lagi, kau merasakan kesendirian disaat temanmu menemukan pasangan mereka masing-masing.
Sudahlah kau tanyakan tentang hal lain, karena aku selalu cerita tentangku padamu, tapi sebelum hadirnya sosok Yuni yang rese didalam kehidupanmu. Aku hanya ingin mengakui rasa bersalah terhadapmu, atas pernyataanku dulu yang hingga kini masih kau ingat.

Berikan Aku Ruang

Hening terasa ketika pikiran dan hati kita tertuju pada satu tujuan. Saat di mana kita ingin mengeluarkan suara, tapi lidah tak mampu mengucapkan sepatah kata. Hanya hati dan pikiran saja yang saling bicara, membahas suatu objek yang telah menjadi fokus oleh keduanya.
Begitulah yang kurasakan di setiap kau berikan aku perhatian, yang seharusnya tidak pantas untuk kumiliki. Seperti saat pertama kali kumelihatmu di kelas itu, saat kau mau menjadi kekasihku, di saat kau mengulurkan tanganmu ketika aku hilang arah, dan pertemuan lain yang hanya membuatku diam dan membisu.
Aku masih ingat setelah seminggu kita mengakhiri hubungan kita, kemudian kurasakan penyesalan pertamaku dalam hidup ini. Aku sempat meminta maaf padamu, dan bermohon untuk diberikan kesempatan kedua. Dengan ego yang tinggi, mungkin kau merasa lebih dariku sehingga masih menjadi pujaanku, kau pun menjawab: "Maaf kak, bagi Karin sesuatu yang sudah berakhir, tidak bisa diulang kembali."
mengingat perkataanmu itu, yang masih terbayang hingga kini, membuatku merasa tak ada lagi ruang untukku di hatimu. Perih, tapi aku masih saja mau menjadikanmu sebagai wanita yang selalu ku puja dalam hidupku. Setidaknya kau tahu, aku sempat berusaha memperbaiki, walaupun sudah terlambat. Bahkan sampai sekarang masih mengharapkan sesuatu yang sudah kau jelaskan.
Aku bukannya tidak percaya akan kata-katamu, tapi aku yakin suatu saat kau bisa berikan ruang itu padaku. Aku tak butuh banyak, aku hanya butuh sedikit ruang di hatimu, dan akan kuhias setiap sudut ruang kecil itu dengan estetika cinta, yang belum tentu kau dapatkan dari lelaki yang kau temui. Tanpa harus merusak ruang-ruang yang lain.
Setelah melihat beberapa perjalanan hidupmu, aku menemukan sebuah ketidakadilan. Kau ingkari perkataanmu yang sebelumnya kau katakan padaku. Kau bilang padaku, sesuatu yang sudah berakhir tidak bisa diulang kembali. Tapi kenapa ada yang kau berikan kesempatan untuk mengulang sesuatu yang sudah berakhir, bahkan mengulang luka. Dan kamu terlihat menikmati setiap rasa luka yang diberikan, bahkan luka yang sudah bernana seperti yang kau ceritakan padaku.
Aku memang sedikit iri, sedikit merasa tak adil. Kenapa kau sama sekali tak memberikan ruang itu padaku. Aku hanya butuh satu kesempatan saja untuk membuktikan semua penyesalanku. Tapi waktu pun menyadarkanku bahwa, itu adalah langkah yang kau pilih, dan aku hanyalah bayangan masa lalumu, sedangkan ruang itu hanya untuk masa depanmu.
Sekarang aku sadar, bukan semesta tak merestui kita, atau waktu yang permainkanku dengan harapan. Tapi ruang itu masih belum bisa kau berikan padaku, sehingga aku hanya pura-pura bodoh, sembari mengharapkan ruang itu suatu saat nanti.
Apakah kau masih melihatku bertahan walaupun telah kau hempas?. Masih mau mengagumi walaupun tak kau kagumi. Bahkan menikmati setiap rasa sepi yang menghantui, sehingga aku pun sudah terbiasa berjalan sendiri dan menghindar dari keramaian.
Karin, aku masih menyembunyikan setiap kelemahanku, dan kau tahu itu. Apakah kau telah patahkan pernyataanmu itu? Apakah kau sudah bisa mengulang sesuatu yang telah berakhir? Kenapa kau tak bisa berikan kesempatan sekali saja untukku. Aku tak menuntut keadilan darimu, tapi aku hanya ingin membuktikan sesuatu yang menjadi penyesalanku selama ini.
Sudah beberapa kali waktu dan harapan ada bersama kita, tapi ruang itu tidak pernah hadir menjadi kesempatan untukku. Sehingga bisa membuktikan bahwa kau bukan sekadar masa laluku, seperti yang sering mereka katakan padaku.
Kau bilang padaku, aku adalah sosok yang kau kagumi secara diam-diam. Tapi kenapa kita hanya bisa saling memberi perhatian, tanpa ada kesempatan untuk bersatu kembali. Bahkan kita saling menyembunyikan rasa kita dari semesta.
Jangan kau marah ketika membaca tulisan ini, seperti saat kau membaca salah satu tulisanku yang menghadirkan sosok Yuni. Karena sekarang aku paham, jika jalan pilihanmu berbeda, aku tak harus memaksamu agar sejalan denganku. Memberimu kebebasan untuk memilih langkahmu sendiri, merupakan caraku menyayangimu. Ke mana pun arah langkahmu, aku dan waktu akan selalu support setiap pilihanmu, walaupun itu bukan aku.
Aku menulis ini bukan untuk pamer kepada dunia, sehingga semua orang tahu tentang kisah kita, ataupun meyakinkanmu tentang harapan yang masih aku genggam. Bukan untuk itu, silakan kau pilih jalanmu sendiri, dan aku akan selalu merestui setiap pilihanmu. 
Aku hanya takut, takut jika kapasitas otakku yang mulai penuh, hingga perlahan menghilang setiap kepingan kenangan yang telah kususun rapi bertahun-tahun di ruang khusus dalam otakku. Agar suatu saat nanti, harapan itu nyata atau tidak, masih ada tulisan ini yang mengingatkan tentang kisah kita.