Monday, July 30, 2018

Irama Hati yang Terluka

Hasutan waktu tak mampu melawan pikiran dan jari-jariku yang masih ingin berimajinasi dengan kenangan masa lalu. Kemudian aku tuangkan dalam setiap alfabet yang menjadi karsa, hingga tulisanku hidup dan bernapas bagaikan manusia.
Hatiku masih mampu menerima sosok lain dalam kehidupanku, sedangkan pikiranku masih bermain dengan bayangan Karin yang sudah jelas tidak akan memilihku. Karena sampai saat ini kenangan tentangnya masih tersusun rapi tanpa ada yang berani mencurinya.
Menghilangkan Karin dari pikiranku, hanya merupakan usaha yang sia-sia. Bahkan aku berani membentak jika ada malaikat yang mencuri kenangan itu. Biarlah kenangan itu menghilang dengan sendirinya, seiring dengan melemahnya otakku.
Hati ini bukan miliknya, karena aku masih mampu menghempaskan Karin dari hatiku. Walaupun harus melawan rasa sakit yang berlipat karena melawan hasrat dari pikiranku.
Memiliki hati yang lemah dan gampang tergores luka, bukanlah satu hal yang mudah. Pernah ada wanita yang menjaga hati ini dengan baik dan juga ada yang menggores hingga terluka, tapi bukan Karin. Karin hanya berani bermain dalam ruang otakku, sehingga menjadi pertimbangan disetiap langkahku.
Ada wanita yang sedang berjuang menjaga hatiku, yang menghiraukan sosok Karin dalam pikiranku. Wanita yang tangguh menyembunyikan rasa sakit dan selalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa, ketika dia tahu aku sedang bermain dengan kenangan Karin. Aku belum ingin menulis tentangnya, tapi aku tahu dia selalu membaca tulisanku secara diam-diam.
Hatiku pernah merasakan luka yang perih berbarengan dengan rasa bahagia oleh satu wanita. Satu-satunya wanita yang menjaga hatiku secara berlebihan, sedangkan aku membiarkan hatinya meloncat ke berbagai arah. Mampu membuat hari-hariku menjadi cerah dan mampu menjadikan hari-hariku gelap.
Wanita yang memiliki ego besar dan hati yang keras seperti batu, tapi selalu aku nikmati setiap perbuatannya. Dia yang melukai hati dan dia pula yang mengobati. Aku tidak marah pada waktu, yang telah meninggalkanku bersamanya. Apalagi menyesal pernah menjadikan wanita itu sebagai bagian dari kisah hidupku. Karena aku tidak pernah menyesali orang yang dekat denganku, walaupun hanya membawa luka.
Adakah yang pernah rasa bagaimana tergantikan dalam hitungan detik? yang diutamakan tapi dikhianati secara diam-diam. Hati bukanlah bola basket yang bisa dimainkan semau kita, dan dilempar ke berbagai arah. Terkadang aku membalas semua perbuatannya, tapi malah menjadi bumerang bagiku hingga dimusuhi oleh semua temannya.
Temanku pernah dijadikan musuh baginya, sedangkan temannya sudah ku anggap temanku sendiri. Aku tidak pernah marah atau menuntut keadilan, ketika teman-temanku pun memusuhiku disebabkan oleh hasutannya. Kubiarkan mereka memercayai setiap kalimat darinya, tanpa harus ada penjelasan dariku sebagai perbandingan. Aku rela tak dipercaya oleh orang terdekat, bahkan rela berjalan dikegelapan demi memenuhi hasratnya.
Pertengkaran, perdebatan dan saling meninggalkan sudah terbiasa kunikmati. bahkan menikmati setiap luka yang dia berikan. Ego yang besar menjadikannya percaya diri bisa lebih hebat dariku, bahkan selalu berusaha membuatku tak disukai banyak orang. Akupun hanya bisa diam dan menerima setiap perlakuan itu, karena hatiku sudah terbiasa dan tak ingin menghilangkan kebiasaan itu. kebiasaan menikmati rasa sakit itu pun menjadi candu bagiku.
Dia membuatku jauh dari setiap orang terdekatku, kemudian dia tinggalkan sendiri di dalam kegelapan tanpa ada cahaya sedikitpun, hingga akhirnya Karin datang mengulurkan tangannya. Dialah Yuni, wanita yang memusuhi sosok Karin bahkan pernah memusuhi wanita tangguh yang sekarang  sedang berjuang menjaga hatiku.
Hatiku juga pernah hanya dijadikan sebagai tempat berteduh sementara oleh seorang wanita, seakan dia hanya butuh perhatian saja. Wanita yang pernah termakan hasutan Yuni, tapi dia terima segala hasutan itu tanpa marah dan tanpa mengakhiri hubungan. Wanita yang manja dan selalu menyembunyikan rasa sakit, yang selalu memberikan perhatian, tapi akhirnya meninggalkanku sendiri dan dia kembali dengan masa lalunya.
Begitu banyak irama yang dirasakan hati ini, terluka dan tersakiti yang sudah menjadi candu. Tergores hingga berdarah bukanlah hal yang harus disesali, karena semua itu adalah pilihanku agar terus melangkah kedepan.

Lirik Janji yang Terlupakan

Malam ini aku masih terjaga karena memikirkan percakapan terakhir kita. Kucoba untuk mematikan lampu kamarku dan menutup kedua bola mataku, tapi aku malah masuk kedalam ruang otakku. Kemudian aku mencoba menyusuri ruang khusus yang telah menjadi tempat kusimpan rapi tentang setiap kenangangan kita.
Pernahkah kau tenggelam dalam kenangan? Aku temukan lirik-lirik janji kita didalam kenangan itu. Janji yang hanya kita ucapkan tapi telah kita lupakan. Waktu pun menyadarkanku sebelum terlalu dalam kutenggelam bersama semua kenangan itu, yang membuat air mataku berjatuhan tanpa sebab.
Kau pernah melukis wajahmu dengan tinta kasih sayang di dalam ruang hatiku. Kau juga pernah menitipkan bayangan senyum manismu di dalam pikiranku. Apakah harus kuhapus tinta yang terukir dikanvas hatiku, agar tak ada lagi bayangan tentangmu?
Membaca tulisanmu yang begitu emosi saat kita berbagi rasa, aku tak temukan diriku yang menjadi juaramu. Selama ini aku hanya menjadi juara kedua bahkan ketiga, keempat dan seterusnya.
Aku tahu, tidak ada namaku didalam ruang hatimu. Bukan aku orang yang selalu kau sebut menjadi lelaki kesayanganmu. Mataku menjadi saksi menahan rasa sakit ketika kau bermesraan dengan lelaki, telingaku yang telah terbiasa mendengar kalimat rasa bahagiamu, tapi bukan denganku.
Kenapa kau permasalahkanku sebagai lelaki pengecut yang meninggalkanmu tanpa alasan, sedangkan kau masih labil dengan perasaanmu. 
Waktu telah menghasutku agar menjauh meninggalkanmu bersama kenangan yang telah menjadi diksi-diksi disetiap tulisanku. Sedangkan logikaku masih menginginkan aku kembali bersamamu, padahal ruang itu bukan untukku. Lalu kenapa kau masih hadir kemudian pergi lagi.
Bagaimana bisa kau pertanyakan keberanianku, sedangkan lirik janji kita telah kau lupakan. Apakah aku harus berlaku curang? Melawan takdir kemudian berjalan kerumahmu dan bertemu dengan orang tuamu? Sedangkan kau masih belum bisa menentukan siapa pemilik ruang itu, yang merupakan tempat untuk masa depanmu seperti yang dikatakan oleh waktu.
Jangan kau tanyakan perasaanku, jika kau tak mampu untuk menentukan. Sungguh ini tidak adil, Sudah lama aku menjaga bayanganmu disetiap langkahku, dan kau mengetahuinya. Apalagi yang harus dipertanyakan?
Bukan maksudku menuntutmu, namun tak mudah melangkah bersama harapan yang berisi lirik janji yang telah kau lupakan. Tolong yakinkan saja raguku, Apakah aku harus pergi darimu dan membunuh perasaanku padamu?
Aku bisa mengikuti waktu untuk menjauh meninggalkanmu, tapi itu terasa berat bagiku. Berilah kisah kita sedikit waktu, karena aku belum melihat kau terasa berat saat aku berkata untuk pergi menjauh.
Setiap manusia memang memiliki seseorang yang menjadi pilihannya, yang mampu mengubahnya menjadi lebih baik, dan kau masih menjadi pilihanku.
Aku memang pernah bertemu wanita yang lebih cantik darimu, lebih cerdas dan lebih besar perjuangannya untukku, dibandingkan perjuanganku padamu. Tapi untuk apa jika hati ini milik orang lain sedangkan pikiranku masih membayangkanmu seperti lirik janji kita.
Coba tanyakan hatimu sekali lagi, sebelum aku benar-benar pergi menjauh darimu yang masih menjadi alasanku untuk bertahan. Apakah masih ada ruang untukku? 
Kisah kita memang sebentar, tapi semua kenangan itu terukir indah didalam ruang otakku. Aku tak pernah bosan dan berhenti mencoba membuatmu tersenyum dan memberimu perhatian. Aku juga tak menuntut balas darimu, karena bahagiamu adalah bahagiaku.
Aku ingin sekali memarahi waktu yang menuntunku berjumpa lagi denganmu dan harapanku saat itu. Entah takdir yang tak mengizinkan kita menyatu, atau kau yang belum bisa memberi ruang untukku. Menyadarkanku yang telah terlambat menyesali setiap kesalahan dan kebodohanku.
Aku masih menghitung detik, menit dan jam saat bersamamu. Seakan ingin sekali berlama-lama mendengarkan suara dan menatap matamu. Senyummu saat itu masih seperti terakhir kali kita bertemu sebelum hubungan kita berakhir. Saat dimana kau tersenyum dan tertawa dirumah temanmu yang sudah terbiasa dengan hubungan kita.
Aku tahu kau pasti lupa setiap kepingan kenangan kita, apalagi tentang lirik janji yang kita buat. Aku ingin sekali berbagi setiap kenangan itu denganmu, bahkan rela memberikan setiap memori dikepalaku agar kau sadar dengan semua perjuanganku.
Cobalah kau tanyakan padaku tentang kita, akan kujelaskan dengan detail setiap kisah itu, walaupun harus melawan waktu yang masih terus menghasutku.
Hati, pikiran dan jari ini sepakat untuk terus mengetik dan melanjutkan tulisanku. Tapi kau mungkin tak akan mau lagi membaca setiap alphabet yang kususun menjadi narasi tentangmu. Jadi untuk apa kuteruskan? Sehingga mungkin ini menjadi tulisan terakhirku, yang hanya kutujukan pada satu wanita, yaitu kamu Karin.

Kehadiran Yuni

Aku masih menjadi Karin yang kau kenal, yang tidak pandai dalam menulis. Tidak sepertimu yang cerdas dalam menyusun kata-kata hingga menjadi kalimat yang menyentuh hati setiap pembaca. Tetapi kau masih menjadi laki-laki pengecut, yang hanya bisa mengandalkan temanmu saat mengakhiri hubungan kita.
Kenapa kau tidak jelaskan bagaimana bodohnya dirimu saat mengakhiri hubungan kita? Atau kenapa kau tidak tuliskan cerita tentang sosok Yuni, yang pernah menjadi pemenang dalam kehidupanmu. Bahkan berhasil menghapusku bukan hanya dari hidupmu, tapi juga dari setiap akun media sosialmu, sehingga tersisa Line yang dia lupakan. 
Seharusnya Yuni menjadi karakter yang kuat untuk diceritakan. Bukan aku, yang hanya sebentar saja mengisi bagian kisah hidupmu. Jika kau tidak ingin jadikan dia sebagai tokoh dalam tulisanmu, maka aku akan jadikan Yuni sebagai tokoh yang akan kuceritakan dalam tulisanku ini.
Aku sempat tidak menerima kabar darimu sejak Yuni menghapusku dari setiap akun media sosialmu, padahal selama ini komunikasi kita masih terjaga. Sehingga aku kaget ketika melihat foto mesramu dengan Yuni, yang di pamerkan oleh temanmu di akun facebooknya. Aku sempat mengira, kau sengaja untuk tidak berbagi cerita denganku, seperti yang kita lakukan sebelumnya, dan sempat berpikir kau sudah bahagia.
Aku jujur, saat itu kaget ketika melihat kau yang sejak SMA sudah terbiasa menikmati kesindirian, dan akhirnya memiliki pasangan yang bernama Yuni. Kemudian aku mencoba mencari tahu tentang kalian berdua. 
Akhirnya aku menggunakan akun facebook temanku untuk stalking tentangmu. Aku tidak melihat kau pamer tentang Yuni di profil facebook-mu. Dan Yuni ternyata kakak kelasku saat SMA, tapi jujur aku tidak kenal dan tidak pernah melihat sosok Yuni itu disekolah. Entah aku yang kuper atau dia merupakan senior yang culun saat SMA, yang hanya berada dalam kelas saja. Karena aku kenal semua temanmu dan beberapa teman se-angkatan denganmu, tetapi aku tidak pernah melihat batang hidung Yuni saat disekolah dulu.
Tiba-tiba aku melihat Yuni sudah berteman denganku di facebook, aku tidak tahu siapa yang tambahkan. Tapi setelah beberapa hari kemudian, dia sudah tak berteman lagi denganku. Aneh kan? Mungkin dia masih labil pikirku.
Sejak saat kau telah bersama denganya. Aku mulai memperhatikanmu, kau terlihat bahagia dan terlihat serius dengan hubungan yang kalian jalani. Aku pun sempat berpikir sudah tidak ada lagi tentang Karin, intinya saat itu aku bersyukur atas kebahagiaanmu. Beberapa kali aku pernah mendengar perkataan temanmu, yang mengatakan bahwa kau masih saja mengingatku. Jujur aku geer ketika mengetahui bahwa ternyata kau masih menyukai sosok Karin.
Sejak kedekatanmu dengan Yuni, aku merasa kau terlihat lain, tidak sama seperti kak Zayn yang ku kenal dulu. Sepertinya jalanmu sudah mulai tak lurus lagi, sehingga aku pun mencari tahu untuk memastikan saja, apakah kau masih Zayn yang ku kenal.
I'am right, dugaanku benar bahwa jalanmu tak lurus lagi. Ingin sekali menegurmu, tapi apa daya diriku saat itu bukan lagi siapa-siapamu. Aku hanya masa lalumu yang tak berwenang untuk menegurmu, apalagi hubungan kalian yang sudah sangat lama, aku takut jika hanya membuat pertengkaran dalam hubungan kalian. Kemudian aku hanya bisa membiarkan kau memilih jalanmu sendiri, seperti yang kau lakukan padaku sebelumnya. Sembari mendo'akanmu agar tidak terjerumus terlalu dalam dengan pilihanmu.
Akhirnya ketika aku melihat postinganmu di Line, yang sedang memamerkan obat-obatan dan minuman yang tak jelas. Tanpa berfikir panjang, akupun langsung menghubungimu. Responmu saat itu mengagetkanku, kau langsung sadar seketika dan kau seperti tidak takut Yuni memarahimu karena aku kembali lagi dalam kehidupanmu. Setelah kau jelaskan tentang perpisahanmu dengan Yuni, aku merasa aman dan komunikasi kita yang sudah lama terputus, akhirnya tersambung kembali.
Sejak saat itu aku selalu kerumahmu setiap hari, kita tertawa dan bercanda bersama seperti sebelumnya yang biasa kita lakukan. Kita juga memainkan game yang sama, dan kau tidak lupa tentang sifat-sifatku. Hingga tawa canda itu harus kita hentikan disetiap waktu menjelang malam. Seperti biasa, kau langsung mengantarku kerumah agar orang tuaku tidak khawatir.
kemudian datang lagi sosok Yuni rese itu, aku ingat sekali kelakuannya kepada kita. Dia menghasut pacarku, dan memfitnah kau sebagai orang ketiga dari retaknya hubunganku dengan pacarku. Pacarku pun langsung percaya kepadanya, dan tidak mau mendengar penjelasanku. Sedangkan kau, masih seperti kak Zayn yang terlalu baik kepada setiap orang, walaupun orang itu telah menyakitimu. 
Kenapa kau harus meminta maaf dan memberi penjelasan kepada pacarku? Kak Zayn, kita saat itu tidak salah. Jika aku tahu kau malah memberi penjelasan yang tidak penting kepadanya, aku pasti akan langsung marah kepadamu. Untuk apa kau lakukan itu? Demi kebaikanku? Tidak perlu, biarkan saja dia mungkin ingin pacaran dengan Yuni.
Semua ini ulah Yuni, dendam nyi pelet-nya membuat hubunganku dengan pacarku berakhir. Tapi aku kasihan terhadapmu yang saat itu dituduh menjadi orang ketiga. padahal dia itu Yuni kak, wanita yang pernah menggantikan posisiku dalam hidupmu. 
Sejak saat itu komunikasi kita terputus kembali. Aku menjaga perasaanmu, sehingga aku menjauh demi kebaikan kita berdua. Ini semua akibat dendam nyi pelet milik Yuni. Good job Yuni, misimu berhasil, dan semoga kau cepat disadarkan.

Rasa Bersalah

Berapa hari lalu kita bertemu lagi di salah satu restoran makanan cepat saji, bersama kedua temanku yang memang sudah terbiasa dengan hubungan kita sejak SMA. 
Seperti biasa, aku Karin kesayanganmu masih merasakan rasa yang biasa kau bagikan sejak dulu. Yaitu caramu menyayangiku bukan hanya padaku saja, tapi terhadap teman-temanku juga. Aku berharap pendampingku kelak sepertimu, yang bisa menyayangiku, teman dan keluargaku.  
Bukankah sudah ku katakan padamu, kau tak perlu mendengarkan permintaan kedua temanku itu, padahal kita janjian hanya untuk pergi minum es kepal durian yang berada dekat rumahku. Tapi yasudah lah, dari dulu kau memang selalu begitu, memanjakan temanku yang sudah terbiasa dengan kebaikanmu.
Pertemuan kali ini terasa berbeda, kita bukan lagi anak SMA yang seperti dulu lagi. Aku sudah dewasa kak, jangan lagi kau menyebutku si keriting yang alay, atau mengejek postur tubuhku yang tidak bertambah tinggi sejak umur 17 tahun. Apalagi mempermasalahkan berat badanku seperti yang telah kau tulis pada tulisanmu sebelumnya.
Kali ini aku ingin mempertanyakan tentang surat pertama itu, apakah surat itu tidak berlebihan? Aku kan Karin yang pemalu, masa iya menulis surat seperti itu hahahaha. Dan kau pun menjawab "iya benar, Karin memang pemalu saat belum jadian. Tapi setelah itu, berubah menjadi Karin yang tidak tahu malu". Hahaha kita kembali bernostalgia dengan masa lalu.
Kau memintaku untuk meneruskan tulisan tentang kita, terutama menanggapi tulisanmu sebelumnya. Jujur aku ingin sekali membahas tentang karakter Yuni yang rese itu, yang telah menghapusku dari semua media sosialmu, dan tersisa Line yang dia lupakan. Padahal kau tahu aku tak begitu suka dengannya, setelah apa yang dia perbuat pada kita berdua. Tapi kali ini aku hanya ingin menulis tentang rasa bersalahku padamu.
Memang benar apa yang kau sampaikan, tentang pernyataanku yang selalu kutekankan padamu dan lelaki setelahmu. Aku merasa seperti menjilat ludah sendiri, pernyataan itu akhirnya menjadi bumerang untukku. Aku merasa bersalah setelah membaca tulisanmu, aku tak mampu berkata-kata lagi, tak mampu membantah, karena itu memang kesalahanku sendiri. 
Kau memang tidak menuntut saat itu, seperti lelaki lain setelahmu. Tapi kau juga merasakannya bukan? Aku baca tulisanmu yang mengatakan aku tidak berlaku adil terhadapmu, dan aku bisa merasakan itu.
Kak zayn, kali ini Karin hanya bisa minta maaf soal pernyataan itu, kau tahu lah bagaimana sifat anak SMA yang masih labil. Setelah kuliah aku baru disadarkan oleh teman-temanku, agar memberikan kesempatan kedua. 
Kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencoba untuk berikan kesempatan, walaupun nanti hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Seandainya dulu cara berpikirku seperti ini, kisah kita tak akan seperti tulisan-tulisanmu itu.
Kau bertanya "bagaimana rasanya setelah memberikan kesempatan kedua, apakah ada yang beda?". Kak Zayn, aku tahu kau mempermasalahkan perihal ini, walaupun kau mengatakan tidak menuntut hal itu. Tapi aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, setiap membaca tulisan-tulisan tentang kita, yang sangat detail kau gambarkan pada setiap narasi yang kau tulis.
Memberikan kesempatan kedua rasanya seperti permen nano-nano, kadang terasa ini merupakan keputusan terbaik, kadang terasa ini merupakan keputusan yang salah. Seperti kita membaca buku yang sama berulang kali. Kita sudah tahu alur cerita hingga akhir, tapi tetap saja masih ingin kita baca berulang kali. Seperti itu lah yang aku rasakan.
Menurut Karin, ketika memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berubah, pelan-pelan suatu saat dia akan berubah. Itulah yang karin yakini hingga saat ini, seperti siklus yang berkelanjutan, antara Kesempatan, yakin, kesalahan, dan kesempatan lagi.
Jika kau tanyakan apa yang kurasakan sekarang, aku tidak bisa menjawab. Antara yakin dengan dia ataupun telah terjebak dengan siklus itu. Tapi lelaki yang bersamaku sekarang masih menjadi yang terbaik, terbaik dalam hal bahagia dan terbaik dalam hal luka.
Rasa bersalah ini seharusnya tidak ada, jika dulu kau tak gampang terhasut. Kau tidak pernah menceritakan penyebab dan alasan berakhirnya hubungan kita bukan? Aku kesal dengamu saat itu, kau akhiri hubungan kita tanpa memberikan alasan, bahkan aku mendapatkan alasan itu dari temanmu.
Mungkin sosok kak Zayn yang dulu kurang meyakinkan dibandingkan dengan yang sekarang. Kau masih saja tidak memiliki keberanian, yang hanya bisa mengandalkan teman. Bahkan alasan berakhir hubungan kita, hanya temanmu yang sampaikan. Kau terlihat tidak gentle saat itu, kau seakan terhasut kesendirian yang dirasakan oleh temanmu. Sehingga akhirnya kau rasakan siksanya kesendirian itu, yang kau sebut menikmati kesendirian. Dan lebih parah lagi, kau merasakan kesendirian disaat temanmu menemukan pasangan mereka masing-masing.
Sudahlah kau tanyakan tentang hal lain, karena aku selalu cerita tentangku padamu, tapi sebelum hadirnya sosok Yuni yang rese didalam kehidupanmu. Aku hanya ingin mengakui rasa bersalah terhadapmu, atas pernyataanku dulu yang hingga kini masih kau ingat.

Berikan Aku Ruang

Hening terasa ketika pikiran dan hati kita tertuju pada satu tujuan. Saat di mana kita ingin mengeluarkan suara, tapi lidah tak mampu mengucapkan sepatah kata. Hanya hati dan pikiran saja yang saling bicara, membahas suatu objek yang telah menjadi fokus oleh keduanya.
Begitulah yang kurasakan di setiap kau berikan aku perhatian, yang seharusnya tidak pantas untuk kumiliki. Seperti saat pertama kali kumelihatmu di kelas itu, saat kau mau menjadi kekasihku, di saat kau mengulurkan tanganmu ketika aku hilang arah, dan pertemuan lain yang hanya membuatku diam dan membisu.
Aku masih ingat setelah seminggu kita mengakhiri hubungan kita, kemudian kurasakan penyesalan pertamaku dalam hidup ini. Aku sempat meminta maaf padamu, dan bermohon untuk diberikan kesempatan kedua. Dengan ego yang tinggi, mungkin kau merasa lebih dariku sehingga masih menjadi pujaanku, kau pun menjawab: "Maaf kak, bagi Karin sesuatu yang sudah berakhir, tidak bisa diulang kembali."
mengingat perkataanmu itu, yang masih terbayang hingga kini, membuatku merasa tak ada lagi ruang untukku di hatimu. Perih, tapi aku masih saja mau menjadikanmu sebagai wanita yang selalu ku puja dalam hidupku. Setidaknya kau tahu, aku sempat berusaha memperbaiki, walaupun sudah terlambat. Bahkan sampai sekarang masih mengharapkan sesuatu yang sudah kau jelaskan.
Aku bukannya tidak percaya akan kata-katamu, tapi aku yakin suatu saat kau bisa berikan ruang itu padaku. Aku tak butuh banyak, aku hanya butuh sedikit ruang di hatimu, dan akan kuhias setiap sudut ruang kecil itu dengan estetika cinta, yang belum tentu kau dapatkan dari lelaki yang kau temui. Tanpa harus merusak ruang-ruang yang lain.
Setelah melihat beberapa perjalanan hidupmu, aku menemukan sebuah ketidakadilan. Kau ingkari perkataanmu yang sebelumnya kau katakan padaku. Kau bilang padaku, sesuatu yang sudah berakhir tidak bisa diulang kembali. Tapi kenapa ada yang kau berikan kesempatan untuk mengulang sesuatu yang sudah berakhir, bahkan mengulang luka. Dan kamu terlihat menikmati setiap rasa luka yang diberikan, bahkan luka yang sudah bernana seperti yang kau ceritakan padaku.
Aku memang sedikit iri, sedikit merasa tak adil. Kenapa kau sama sekali tak memberikan ruang itu padaku. Aku hanya butuh satu kesempatan saja untuk membuktikan semua penyesalanku. Tapi waktu pun menyadarkanku bahwa, itu adalah langkah yang kau pilih, dan aku hanyalah bayangan masa lalumu, sedangkan ruang itu hanya untuk masa depanmu.
Sekarang aku sadar, bukan semesta tak merestui kita, atau waktu yang permainkanku dengan harapan. Tapi ruang itu masih belum bisa kau berikan padaku, sehingga aku hanya pura-pura bodoh, sembari mengharapkan ruang itu suatu saat nanti.
Apakah kau masih melihatku bertahan walaupun telah kau hempas?. Masih mau mengagumi walaupun tak kau kagumi. Bahkan menikmati setiap rasa sepi yang menghantui, sehingga aku pun sudah terbiasa berjalan sendiri dan menghindar dari keramaian.
Karin, aku masih menyembunyikan setiap kelemahanku, dan kau tahu itu. Apakah kau telah patahkan pernyataanmu itu? Apakah kau sudah bisa mengulang sesuatu yang telah berakhir? Kenapa kau tak bisa berikan kesempatan sekali saja untukku. Aku tak menuntut keadilan darimu, tapi aku hanya ingin membuktikan sesuatu yang menjadi penyesalanku selama ini.
Sudah beberapa kali waktu dan harapan ada bersama kita, tapi ruang itu tidak pernah hadir menjadi kesempatan untukku. Sehingga bisa membuktikan bahwa kau bukan sekadar masa laluku, seperti yang sering mereka katakan padaku.
Kau bilang padaku, aku adalah sosok yang kau kagumi secara diam-diam. Tapi kenapa kita hanya bisa saling memberi perhatian, tanpa ada kesempatan untuk bersatu kembali. Bahkan kita saling menyembunyikan rasa kita dari semesta.
Jangan kau marah ketika membaca tulisan ini, seperti saat kau membaca salah satu tulisanku yang menghadirkan sosok Yuni. Karena sekarang aku paham, jika jalan pilihanmu berbeda, aku tak harus memaksamu agar sejalan denganku. Memberimu kebebasan untuk memilih langkahmu sendiri, merupakan caraku menyayangimu. Ke mana pun arah langkahmu, aku dan waktu akan selalu support setiap pilihanmu, walaupun itu bukan aku.
Aku menulis ini bukan untuk pamer kepada dunia, sehingga semua orang tahu tentang kisah kita, ataupun meyakinkanmu tentang harapan yang masih aku genggam. Bukan untuk itu, silakan kau pilih jalanmu sendiri, dan aku akan selalu merestui setiap pilihanmu. 
Aku hanya takut, takut jika kapasitas otakku yang mulai penuh, hingga perlahan menghilang setiap kepingan kenangan yang telah kususun rapi bertahun-tahun di ruang khusus dalam otakku. Agar suatu saat nanti, harapan itu nyata atau tidak, masih ada tulisan ini yang mengingatkan tentang kisah kita.

Bukan Orang Ketiga


"Tenggelam didasar lautan yang dalam dan gelap, tanpa ditemani setitik cahaya dan suara paus". Itulah yang kurasakan setelah ditinggalkan Yuni. Aku tidak ingin cerita tentangnya, yang hanya membuat kehidupanku semakin gelap.
Perjalanan panjang dengan Yuni akhirnya berakhir dengan perpisahan. Setelah nyaman dibuatnya, akupun ditinggalkan sendiri dan secepat mungkin digantikan dengan lelaki yang lain. Bahkan waktu pun sama sekali tidak menjengukku.
Aku pun hilang kendali, bagaikan orang gila yang sudah tak punya tujuan hidup. Menangis dan merengek seperti anak kecil didepan ibuku, adik-adikku bahkan teman-temanku. Mereka hanya bisa melihat dan kasihan terhadapku, tapi tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.
Setiap pagi aku keluar sendiri, duduk ditepi pantai sambil mendengarkan irama ombak yang dinamis, serta ditemani lagu The Script yang berjudul "The man who can't be moved". Aku menangis tak karuan.
"Aku terlalu bodoh, terlalu lemah, kenapa aku harus memiliki hati yang gampang terluka. Dan saat terluka sulit untuk disembuhkan, apakah lebih baik aku mati saja?" Teriakku pada diriku sendiri.
Aku tidak lagi memikirkan siapapun saat itu, aku hanya memikirkan diriku yang begitu lemah dan memiliki perasaan yang gampang terluka. Akhirnya aku putuskan tinggal sendiri dan menyewa kost. Saat itulah mulai kehidupan gelapku.
Aku sudah tidak pusing dengan perkataan teman-temanku dan saudaraku. Kecuali ibuku, aku sembunyikan kehidupan gelap ini darinya, karena aku lebih tak sanggup melihat dia menangis.
Alkohol, itu adalah minuman utamaku saat itu, bahkan setiap hari kuhabiskan uangku untuk membeli 2 kardus minuman itu. Bahkan obat-obatan terlarang pun sudah kucoba, dimulai dari yang digunakan para bocah maupun kelas atas. Aku gunakan semua jaringan pertemananku, karena aku berteman dengan semua kalangan.
Tidak ada satu manusia pun yang bisa menghalangiku. Bahkan teman-temanku yang hanya biasa menjual obat eceran kaget melihat perubahanku, aku yang dulu mereka kenal anak baik, kini berubah drastis, bahkan memiliki jaringan kelas atas melebihi mereka.
Dua bulan pun berlalu, aku masih dengan dunia gelapku. Aku biarkan mereka lelah sendiri menegurku. "Emangnya mereka siapa?" Tanyaku pada diri sendiri. Semakin hari aku semakin menggila tak karuan.
Sehingga berbunyi pesan di aplikasi Line, aku kaget dan terdiam sejenak. "Astagfirullah, kenapa kak jadi seperti ini?". Ternyata Karin melihat foto obat-obatan yang aku posting di media sosial tersebut. Beberapa detik setelah kuterdiam, waktu pun datang menjengukku sembari mengembalikan harapan yang telah kutitipkan.
Akhirnya dia Karin, satu-satunya yang aku dengarkan setelah ibuku. Satu-satunya wanita yang menyadarkanku tanpa butuh waktu yang lama. Kuceritakan semua padanya dan meminta maaf telah salah melangkah. Langsung kubuang obat-obatan dan alkohol itu, serta kugenggam kembali harapan yang telah lama kutitipkan pada waktu.
Sejak saat itu aku tidak menyentuh barang haram itu lagi. Entah kenapa satu kalimat darinya mampu menyadarkanku saat itu juga. Karin pun berjanji akan datang kerumahku setiap hari setelah selesai kuliah. Sepertinya dia takut jika aku ketergantungan.
Esok harinya dia datang kerumah, duduk depan teras sambil memainkan game yang ada di telepon genggamnya. Aku lihat dia semakin cantik dan dewasa, tapi postur tubuhnya masih sama kecil seperti saat terakhir kali kulihat. Kita pun mulai mengobrol dengan basa basi.
"Bagaimama kabar kak Zayn? Sehat?" Tanya karin.
"Alhamdulillah, karin di antar siapa kesini? Kok masih terlihat kecil aja". balasku bercanda.
seperti kembali pada masa lalu saat masih bersamanya, kita tertawa dan bercanda bersama. Bahkan aku memainkan game yang ada pada telepon genggamnya. Kita memiliki hobi yang sama, yaitu bermain game, dan game yang kita mainkan juga sama. Entah dulu aku yang membuat dia suka game, karena sering menggunakan akun facebooknya untuk main game, atau memang dia suka sendiri. Pada intinya kita memiliki kegemaran yang sama sekarang.
Suara azan magrib berkumandang, dia pun meminjam mukna milik adikku, dan kita pergi ke mushallah bersama. Sejak saat itu namanya kusebut kembali disetiap bait doaku, aku diskusikan kembali dengan sang pemilik takdir. 
Setelah itu aku langsung mengantarkan dia kerumah dengan sepeda motor. Aku masih ingat kalau Karin anak rumahan yang harus cepat pulang kerumah, mungkin bisa gatal-gatal kalau terlalu lama diluar rumah hahaha.
Tiba-tiba bunyi telepon dari orang tuanya yang mengingatkan agar cepat pulang rumah. Seperti yang kuduga, akhirnya aku dan Karin pamitan  ke ibuku dan langsung ku antar dia pulang. 
Saat dia naik motor, aku tanya padanya "Sudah naik?" Karin pun jawab "Sudah". "Kok gak terasa ada boncengan dibelakang kak Zayn yah?" Candaku padanya. Dan dia mencubitku sambil tertawa bersama.
Setiap hari setelah pulang kampus Karin selalu datang kerumahku. Kita tertawa bersama, bermain game, bahkan mengobrol hal yang perlu dibicarakan. Aku sempat menanyakan hubungannya dengan pacarnya. Dia pun menceritakan kondisi mereka, yang pada intinya sedang retak. Aku hanya menjaga-jaga agar tidak menjadi masalah untuk hubungan mereka.
beberapa hari kemudian Karin sudah tidak datang kerumah, bahkan tidak mengabariku lagi. Saat aku buka akun Path, merupakan media sosial yang lagi trend saat itu. Ternyata Karin putus dengan pacarnya, lebih parah lagi aku digosipkan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua. Setelah aku telusuri kembali, ternyata sumber gosip dari Yuni, mantanku sebelumnya.
Langsung kuhapus akun media sosial tersebut beserta aplikasinya. Sejak saat itu aku tak menghubungi Karin lagi, kubiarkan dia memilih jalan pilihannya sendiri. Aku tak ingin jadi beban masalah bagi kehidupannya. Setidaknya sekarang aku sudah kembali melangkah bersama harapan yang telah dikembalikan waktu padaku.

Kau Hilang Terganti

Sudah lama kita tak bertemu, semenjak pertemuan kita terakhir 2 tahun lalu, untuk merayakan ulang tahunku di sebuah restoran makanan cepat saji yang berada dipusat kota. Saat itu kita ditemani oleh kedua temanmu yang biasa menemani kita disaat SMA.
Setelah kau pergi menghilang tanpa kabar, aku mulai belajar membuka hatiku untuk wanita lain, walaupun harus menyembunyikan harapanku padamu disudut ruang otakku. Sangat berat rasanya jika harus menyembunyikan harapan yang telah kurawat dengan baik selama ini.
Saat aku sudah mulai belajar menerima wanita lain untuk mengisi kehidupanku. Tiba-tiba kau muncul lagi mengisi hari-hariku, walaupun kita hanya saling Video Call bersama via scype. Aku masih ingat, dan itu video call pertama kita. Kau seperti orang kebingungan yang sedang mencari sesuatu sambil berkata.
"Kak Zayn tunggu sebentar, Karin cari kain dulu untuk menutup kepala".
Aku hampir lupa, ternyata kau sudah berhijab hahahaha. Padahal kau sudah menggunakan hijab setelah hubungan kita berakhir. Tapi entah kenapa aku biasa saja, seakan menganggap kau masih Karin yang dulu. Sehingga kubalas "Tidak apa-apa, kak sudah pernah lihat kok, rambut keritingmu" balasku dengan bercanda. Tapi setelah itu kau menghilang lagi, dan akupun melanjutkan kisah baruku tanpamu.
Aku sudah memiliki wanita baru, Yuni namanya. Ingin sekali kupamer dan kenalkan padamu, tapi kau sudah hilang tanpa kabar. Aku juga tidak ingin terlihat alay seperti mantanmu yang dulu kau pamer dimedia sosial. Tapi aku masih sembunyikan harapanku padamu darinya.
Benar kata mereka "sepintar-pintarnya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga". Sepintar-pintarnya kusembunyikan harapan, akhirnya ketahuan juga. 
Aku tidak sanggup jika harus menyembunyikan harapan itu. Akhirnya terjadi pertengkaran yang hebat antara aku dan Yuni. Semua karena kebodohanku, yang keceplosan menyebut namamu diantara percakapanku dan Yuni. Dia pun akhirnya tahu tentangmu, dan semua rasa yang masih kusimpan untukmu.
Dia menangis didepanku, dan kau tahu bukan? Aku tak sanggup melihat wanita menangis, apalagi menangis karena ulahku. Bingung dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Situasi itu memaksaku untuk memilih harapanku padamu yang telah kurawat selama beberapa tahun, aaukah Yuni yang telah kusakiti perasaannya karena masih menyimpan harapan itu.
Akupun menggenggam tangan yuni sembari meminta maaf padanya, dan berjanji tidak akan menyimpan harapan itu lagi. Dan akupun meminta maaf pada waktu sembari kutitipkan harapan itu padanya.
Hari demi hari, aku sama sekali tidak bisa melihatmu dari kejauhan. Setiap akun media sosialmu juga sudah tak bisa kulihat lagi, karena yuni menggunakan akunku untuk menghapusmu dari pertemanan. Tersisa nomor HP yang masih kuhafal, dan emailmu yang masih bisa ku akses. Tapi aku tak mau mengingkari janjiku pada yuni dan mengulangi kesalahan kemarin.
Karin, mungkin kau benar, didepan masih banyak jalan yang belum kutemui. Kini aku akan melangkah tanpamu, bahkan harapanku yang sudah kutitipkan pada waktu. Mungkin sudah saatnya aku menggantikan bayanganmu dengan wajah yang baru, yaitu wajah Yuni. Memang awalnya aku masih saja menyebut namamu, tapi dia juga tak bosan membuatku sadar bahwa kau hanyalah kenangan lama.
Usaha Yuni yang begitu lama, untuk mengingatkanku bahwa sosok Karin hanya masa lalu. Akhirnya membuatku sadar pelan-pelan, walaupun melewati pertengkaran beberapa kali, bahkan sosok Karin dijadikan rival olehnya.
Karin, aku bukan ingin menghapus namamu dari kehidupanku. Aku hanya tak ingin dia tersakiti dan menangis karena ulahku. Aku juga sempat berfikir, bagaimana jika yang dirasakannya terjadi padamu. Aku juga tak mau jika kau tersakiti dan menangis seperti dia.
Karin, kini namamu telah kugantikan dengan namanya. Segala kenangan baru, sedih, sakit dan bahagia kurasakan bersamanya. Dia telah menggantikan posisimu dikehidupanku.
Karin, memang namamu telah tergantikan. Tapi kenangan tentangmu masih tersimpan diruang khusus otakku, masih tersusun rapi tanpa ada yang hilang. Dan harapan itu masih kutitipkan pada waktu. Pelajaran terakhir yang ku ambil darimu, yaitu "Masih banyak jalan yang belum kutemui didepan".
Sekarang kuserahkan pada waktu untuk mempertemukan kita ataupun tidak, dan juga kepada sang pemilik takdir. Setidaknya sekarang aku masih melangkah kedepan walau dengan sosok yang baru, Yuni namanya.

Sunday, July 29, 2018

Masih Menyebut Namamu

Ketika suara ombak memainkan syair-syair irama yang merdu dan beraturan, bagaikan lagu-lagu romantis yang dinyanyikan oleh sheila on7, membuatku teringat akan setiap kenangan indah kita yang singkat tapi terasa begitu lama.
Aku masih ingat lagu kesukaanmu, bahkan band favoritmu, kalau tidak salah namanya band ungu bukan? Sedangkan aku lebih menyukai band romantis dengan aliran Jepang rock. 
Terkadang kau suka menertawakanku, karena bagimu gaya dari band favoritku terlalu alay. Apakah kamu tidak berkaca di depan cermin? Lelaki yang sedang bermesraan denganmu di media sosial itu lebih alay dibandingkan band favoritku.
Sampai saat ini banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, tapi biarlah waktu yang akan cerita padamu. Karena sekarang aku dan waktu sudah bersahabat, hanya waktulah yang menemaniku di saat aku merasa sendiri dan dihantui kenangan kita.
Aku sudah bertemu dengan beberapa wanita, tapi aku masih saja menyebut namamu di setiap obrolanku dengan mereka. Sehingga nama Karin menjadi rival bagi mereka, padahal mereka tak mengenalmu. Bahkan tanpa kau ketahui hanya namamu yang selalu aku diskusikan dengan Tuhan di setiap doaku.
Aku tidak pernah berniat menyebut namamu di setiap bait doaku, tapi jiwa dan pikirankulah yang membuatku lemah, masih memercayai harapan yang belum tentu direstui oleh sang pemilik takdir. Bahkan aku selalu melawan untuk tidak menyebut namamu didalam doaku, tapi justru bayangan wajahmu yang hadir saat aku tak ingin menyebut namamu.
Karin, apakah aku salah jika nama dan bayangan wajahmu selalu hadir disetiap nafasku? bahkan teman-temanku bertanya arti dari setiap sandi akun yang aku ambil dari bagian namamu. Aku tidak memintamu untuk percaya tentang semua ini, jika nanti waktu ceritakan padamu. Karena cukup aku saja yang tahu betapa penuh perjuangan melangkah bersama bayangan wajah dan namamu.
Sampai hari ini aku masih suka menaiki angkutan umum dan duduk di pojok belakang, untuk melihat bayanganmu yang sedang tertawa dan bercanda dengan diriku saat kita masih bersama. Aku sendiri pun bingung kenapa bersikap demikian, padahal aku memiliki kendaraan pribadi yang bisa aku gunakan.
Aku bisa saja mengganti setiap sandi akunku dengan sandi baru tanpa namamu. Aku bisa saja tidak menyebut namamu di setiap obrolan dengan saudara dan teman-temanku. Tapi waktu selalu menegurku, karena memaksa rasa hanya membuat kita sakit. Justru waktu memintaku untuk menikmati setiap sisa kenangan itu, agar tidak menyakitkanku.
Apakah aku harus meminta maaf padamu, karena selalu menyebut namamu tanpa aku sadari. Setiap saudara dan teman-temanku tahu masih ada nama Karin di dalam jiwaku. Bahkan orang yang tidak mengenalmu tahu bahwa ada sosok Karin yang masih menjadi harapan disetiap langkahku.
Jika nanti saat kau berjalan di setiap sudut kota, kemudian ada yang memandang wajahmu seakan mengenalmu, berikanlah senyuman kepada mereka, bisa jadi mereka adalah teman-temanku yang sudah bosan mendengar namamu di setiap obrolanku.
Karin, ketika nanti waktu menceritakan semuanya padamu. Kau tak perlu membalas untuk menyebut namaku di setiap obrolanmu, aku tidak butuh itu. Aku ingin kau tetap melangkah sesuai dengan pilihanmu dan menikmati setiap langkah yang kau pilih. Biarkan aku saja yang berusaha tawar menawar dengan sang pemilik takdir.
Terima kasih Karin, karenamu aku bisa bersahabat dengan waktu, sehingga mendapatkan banyak pelajaran darinya. Kau masih menjadi sosok Karin yang aku kagumi. 
Sempat beberapa kali aku berontak untuk tidak mengenalmu, ternyata itu hanya menyakitiku. Membuatmu tetap ada di setiap langkah dan nafasku ternyata menjadikanku lebih baik dibandingkan melawan, dan itu semua pelajaran yang diberikan oleh waktu.
Sekarang aku sudah terbiasa melangkah bersama kepingan kenangan kita, bahkan kenangan itu masih tersusun rapi tanpa ada yang hilang. Tidak seperti buku-buku di kamarku yang berserakan sehingga hilang satu persatu.
Aku juga sudah terbiasa memberimu perhatian, dan menyayangimu tanpa berharap balasan perhatian dan sayang darimu. Aku hanya ingin terlihat beda dibandingkan lelaki-lelaki yang kau temui, yang selalu menuntut balasan dan menyayangimu dengan syarat.
Aku hanya ingin kita saling menuntun bukan menuntut. Menggandeng bukan menarik paksa. Memercayai bukan mencurigai. Membahagiakan bukan membahayakan. Seperti salah satu penggalan lirik milik Fiersa Besari.
Masih banyak hal tentangmu yang ingin kutulis, kurasa dua buku pun tidak cukup. Biarkan tulisanku pelan-pelan menceritakanmu, agar mereka penasaran siapa sosok Karin yang selalu kusebut namanya.

Mengalahkan Waktu dan Harapan

Semenjak kutinggalkan surat itu, aku hanya mampu mengikhlaskan beberapa kenangan kita. Tersisa cincin yang menjadi buah kalungku dan foto Karin di dompetku, serta beberapa kenangan yang masih tersusun rapi dalam ruang otakku.
Kini kita bagaikan matahari dan bulan, yang hanya bisa bersatu jika takdir mengizinkan. Kaulah matahari sumber cahayaku dan setiap cahaya yang kuberikan pada orang di sekitarku, merupakan cahaya darimu. Kita memang tidak mungkin bersatu lagi, tapi orang lain masih memperhatikan kita bukan?
Kau benar, aku harus menerima apa yang sudah ditakdirkan untuk kita. Tapi kau harus tahu, membunuh kesendirian dan harapanku padamu membutuhkan waktu yang lama. Mungkin bagimu mudah untuk menerima dan mengikhlaskan takdir, tapi bagiku itu merupakan penyesalan yang harus kunikmati.
Saat setahun kita berpisah masih belum cukup bagiku untuk mengobati kesedihan ini. Rasa penyesalan itu sempat kutulis di dalam bait-bait lirik lagu yang kubuatkan untukmu, mungkin suatu saat akan kau dengar jerit penyesalan itu.
Aku tahu kini kau telah temukan beberapa lelaki lain, yang telah mengisi bagian hidupmu. Sedangkan aku hanya mampu bergelut dengan kenangan, penyesalan dan harapan. 
Memilikimu saja aku butuh perjuangan yang begitu lama, apalagi menerima kepergianmu, setahun tidak cukup bagiku. Mungkin kau merasakan waktu berjalan cepat, sehingga telah berganti lelaki lain yang menjadi bagian kisah hidupmu. Aku tahu, karena sampai saat ini aku masih memperhatikanmu dari kejauhan.
Waktu terlihat curang, dia berjalan begitu pelan untukku. Sehari itu terasa setahun, bahkan detik pun tak ingin berganti dengan detik yang lain. Tapi aku melihat semua orang berjalan santai seakan waktu tak mengganggu mereka. Rasanya aku ingin mengeluh kepada waktu yang tidak adil. Apakah kau merasakan hal yang sama? Kurasa tidak, karena kau masih terlihat bahagia hingga sekarang.
Aku sempat diminta untuk melanjutkan kuliah di luar kota, tapi aku lebih memilih di  sini. Kau tau kenapa? Karena harapan itu masih menghantuiku dan tak sanggup kubunuh. Aku masih tak mampu jauh darimu, aku tidak ingin terlalu jauh sehingga sulit menggapaimu.
Karin, bisakah kau bayangkan perjuanganku bertahan melawan harapan dan waktu? Mereka seakan menertawaiku karena lemah menerima takdir. Aku bukan tidak ingin menerima, tapi aku butuh waktu yang lama, sedangkan waktu pun tak berpihak padaku. Bahkan waktu bekerja sama dengan harapan untuk mempersulit perjuanganku.
Kemarin tanggal 2 Desember kau ulang tahun bukan? Apakah kau membaca pesan ucapan selamatku padamu? Cobalah kau perhatikan waktu disaat ku mengirim pesan. Akulah orang terakhir yang memberimu ucapan selamat, karena aku berharap menjadi yang terakhir untuk kehidupanmu nanti. Tapi kau seakan cuek dengan semua usahaku.
sekarang sudah 2 tahun aku berjuang bertahan. Ada beberapa wanita yang kudekati, tapi lagi-lagi bayanganmu dan harapanku masih menghantui setiap langkahku, sehingga aku lebih memilih mundur daripada menyakiti orang lain.
Kau benar, akulah orang pertama yang selalu kau hubungi jika membutuhkan bantuan, akulah orang pertama kau ceritakan keluh kesamu. Bahkan aku masih menjadi teman canda dan tawamu. Tapi kau tidak tahu bahwa aku berpura-pura sudah membunuh harapan dan waktu yang selalu mengerjaiku. Setidaknya aku bisa memantaumu dari kejauhan dan masih memberikan perhatian padamu walaupun melalui media sosial yang sudah mulai kau kenal.
Aku masih ingat saat kau memintaku untuk dibuatkan akun facebook, apalagi akun twitter yang belum lama kubuat untukmu. Sejujurnya aku senang masih menjadi orang yang kau percayai, dan senang masih bisa berkomunikasi denganmu. Entah kenapa itu terasa tidak cukup bagiku, sempat kucoba buang pikiran itu, tapi waktu masih mempermainkanku.
Kadang aku suka kesal ketika melihat kau bermesraan dengan lelaki yang kau pamer di akun media sosialmu. Aku tak ungin cemburu, tapi kali ini harapan yang mempermainkanku. Seharusnya aku bahagia melihat kau bahagia dengan jalan pilihanmu.
Apakah kau ingat, saat akun media sosialmu tak bisa lagi kau akses, kemudian kau menghubungiku karena bingung. Akulah orang yang mengganti sandi akunmu hahaha. Maaf, kulakukan itu karena aku tak lagi mendapatkan kabar darimu. Tapi mulai saat itu kau percayakan sandi akun media sosialmu padaku, bahkan pernah kau izinkan aku mengakses akun tersebut, dan setiap ada teman-temanmu yang terjadi hal serupa denganmu, akulah orang yang kau cari untuk membantu temanmu. Padahal semua itu berawal dariku, tolong maafkan kesalahanku.
Kini aku sudah paham, ternyata waktu hanya mengajarkanku untuk terbiasa mencintaimu dengan cara yang berbeda. Sekarang aku sudah mampu melangkah kedepan walau ditemani harapan dan kenangan kita. Kau yang telah menjadi milik orang lain bukanlah masalah bagiku.
Suatu saat jika kau butuh pundak untuk menangis, raga untuk berlindung. Aku dan waktu akan selalu siap disaat kau butuh. 
Aku sudah berjanji pada waktu untuk menghargai setiap pilihan dan langkahmu. Waktu pun berjanji akan menyadarkanmu, bahwa aku tak pernah berhenti mencintaimu dengan ikhlas dan tanpa mengharapakan balasan. Bahkan jika harus menunggu bulan dan matahari bersatu menjadi gerhana.

Melepasku tanpa Melepaskan Rasamu

Mencoba untuk melawan takdir, seperti berenang melawan arus sungai. Kita hanya bisa berusaha melawan arus, tapi hanya akan sia-sia saja. Apakah seharusnya kita tidak melawan arus itu? Membiarkan kita terbawa arus, sehingga kita berdua memiliki jalan cerita sendiri.
Kita pun tidak tahu, apakah kita akan dipertemukan di ujung sungai? Tapi itu tidak penting bagiku, yang terpenting kita berada di arus yang sama, dan kita bisa saling memperhatikan.
Aku takut, takut jika kau akan berada di arus yang berbeda. Aku takut segala perhatian dan kasih sayangmu tak bisa kurasakan lagi.
Kak Zayn, aku masih bisa memanggil namamu, aku pun masih sanggup berdiri tanpa ada kau di sampingku. Semua telah berlalu, benar katamu, "semesta hanya merestui kita disaat bersama." Tapi aku masih merestuimu yang meninggalkanku tanpa kau bawa rasa itu bersamamu.
Jangan lagi kau tanyakan kepadaku, apakah aku ingat semua kisah kita. Aku mungkin akan lupa satu per satu kisah itu, karena aku bukan perempuan yang kuat, seperti para pemujamu yang masih bertahan menunggumu.
Kau tahu segala hal tentangku, tak ada sedikitpun sifat buruk yang tidak kau ketahui, tapi kenapa kau masih menerima semua itu?.
Sekarang berhentilah bertanya padaku, bahkan kepada semesta. Karena semua itu tidak akan merubah apa pun. Kita yang memulai kisah ini, dan kita pula yang mengakhiri. Apalagi yang harus dipertanyakan? Terimalah semua yang telah takdir berikan.
Kak Zayn, dengarkan aku. Kau adalah sosok lelaki yang kuat bagiku. Tidak ada satu manusiapun yang akan sama sepertimu, yang mampu memahami dan mengenalku secepat kau mengenalku. Ini sudah jadi jalan takdir kita, yang tak bisa kita lawan. Kau harus sadar, aku pun tahu kau lelaki yang cerdas, tapi mengapa kau menjadi sebodoh itu.
Sekarang coba kau lihat ke depan, masih banyak jalan yang belum kau temui, jangan lihat kebelakang, kita tidak bisa lagi kembali kebelakang dan bermain dengan kenangan-kenangan yang kita buat bersama. Aku juga tak mungkin lagi menemanimu melangkah kedepan, menyusuri jalan-jalan yang belum kita lihat, sembari meninggalkan kenangan seperti yang biasa kita lakukan.
Ini keputusan kita bersama loh, aku sama sekali tidak menyalahkanmu, karena memulai pertengkaran ini. Jika ditanya siapa pemenang di saat bertengkar, kau lah pemenangnya. Karena selama ini kau lah yang berhasil mengajarkanku banyak hal, yang berhasil mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan, dan hanya kau lah yang mampu memahami sisi burukku.
Kak Zayn, janganlah bersedih dan menyesali semua ini, apakah kamu menyesal telah mengenalku? Perpisahan ini bukanlah akhir dari kisah kita, bukanlah akhir dari rasa yang kau berikan. Aku masih merasakan semuanya, rasa yang kau tinggalkan telah menjadi harapan bagiku. 
Jika memang benar, masih ada kesempatan dan waktu yang diberikan semesta kepada kita, maka kita akan dipertemukan nanti, seperti yang kau katakan padaku. Jika memang bukan kau, aku hanya berharap ada lelaki yang mampu memahamiku seperti caramu memahamiku.
Sudahlah, buang saja semua kenangan itu. Cincin, surat, bahkan fotoku didompetmu. Itu semua hanya akan membuatmu lebih sedih dan tak berani melangkah lagi. Kak, kamu cerdas, tak perlu kau bersikap bodoh seperti lelaki yang lain.
Akhir dari hubungan ini, merupakan awal dari cerita kita. Yah memang itu adalah awal pertengkaran kita, karena kau selalu tahu kapan aku marah dan kapan aku sedih. Jika kau meninggalkanku tanpa meninggalkan rasa, kenapa kau harus sedih? Aku masih disini, sebagai sahabatmu. Dan berharap kau tak marah dan mencampakkanku.
Berhentilah mengatakan tidak akan ada lagi wanita yang bisa menggantikanku, jangan bersikap bodoh. Apakah kak Zayn lupa? Sebelum kau mengenal sosok Karin, kau merupakan sosok yang dikagumi banyak orang dan akupun masih menjadi pengagummu. Seperti ini lah kehidupan, kita harus mempertanggung jawabkan setiap keputusan kita.
Aku Karin, Wanita yang tidak cerdas sepertimu, wanita yang tidak memiliki banyak pengagum seperti dirimu. Tapi aku masih paham semua yang kau ajarkan, dan aku akan berusaha lebih baik dari sekarang.
Kak Zayn, aku percaya dengan rasa yang kau tinggalkan, aku percaya kau akan masih mau memperhatikanku yang bodoh ini, memberiku perhatian, membantuku disaat aku butuh bantuan. Tapi berlapang dada lah untuk menerima takdir kita. Aku masih menjadi Karin-mu yang butuh perhatianmu.
Terima kasih atas semua kenangan kita selama ini, terima kasih telah mengizinkanku mengenalmu, sehingga kau menjadi bagian dari kisah hidupku. Satu hal yang akan aku ingat darimu, yaitu perhatian dan kasih sayang yang kau berikan bukan padaku saja, tapi kepada teman-temanku. Dan itulah caramu membuatku bahagia, bahagia karena kau menerimaku dan orang-orang disekitarku.
Aku memang tak sepandai dirimu dalam menulis kata-kata yang indah, tapi ini adalah tulisan dan harapanku untukmu. Tetaplah menjadi kak Zayn yang ku kenal, dan ketika aku butuh bantuan, kaulah orang pertama yang kucari, karena aku yakin kau satu-satunya yang akan membantuku tanpa syarat.
Sebelum aku akhiri tulisan ini, aku yakin bahwa cerita kita tidak sampai disini. Memang hubungan kita berakhir, tapi dengan berakhir hubungan itu, maka akan dimulai kisah tentang kita. Aku masih mampu melihatmu sekarang, dan berharap kita akan dipertemukan kembali dengan kisah yang lain.

Penantian Karin

Aku gelisah tak karuan, berjalan keluar kamar kemudian masuk lagi, bahkan berjalan kedepan teras rumah seperti orang yang sedang menunggu uang pemilu dari calon legislatif. Semua itu kulakukan karena menunggu balasan pesan sms dari kak Zayn, sedikit kesal karena dia terlalu cuek. Padahal menurutku dia pasti sedang membalas pesan dari cewek lain.
Rasanya ingin berhenti berharap saja, tapi apakah cuma seperti ini perjuanganku untuk mendekati kak Zayn? Aku tidak mau kalah dengan cewek lain yang mampu mendekatinya, masa iya aku tidak bisa. Bagiku orang seperti kak Zayn pantas untuk diperjuangkan.
Aku coba untuk memadamkan egoku, karena aku bukan siapa-siapa yang pantas mempertahankan ego agar di dekati kak Zayn.
"Kak sedang apa?". Kuberanikan diri untuk mengirim pesan perhatian kepadanya. Ingin marah tapi tak sanggup, ingin menangis tapi tak mampu. Pesan itu sama sekali tidak ditanggapi olehnya, rasanya ingin pergi kerumahnya kemudian menampar kak Zayn, sambil mengatakan "Dasar lelaki cuek, tidak pernah peka".
Kumulai menyerah dan mencoba menghilangkan rasa ingin mengenal kak Zayn. Aku lepaskan HP itu dan mulai berjalan keluar rumah, untuk menghirup udara agar bisa tenang. Saat aku mulai melangkah keluar kamar, tiba-tiba hp ku berbunyi. Aku langsung bergegas mengambil hp itu, sembari berharap itu adalah balasan pesan dari kak Zayn, yang sudah kunantikan sebelumnya.
"Yaa Karin, kak cuma tiduran dikamar, Karin sedang apa? Kok belum tidur? Besok kan harus kesekolah." 
"Iyalah, semua juga tahu kalau besok harus kesekolah, tenang aja kak. Karin belum tidur karena menunggu balasan sm dari kak Zayn".Balasku padanya dengan sedikit becanda dan merayu.
Rasain kau kak Zayn, pasti dia baper ketika membaca pesanku. Lagian jadi orang gak peka sih, jadi lebih baik buat dia terbang bagaikan burung di angkasa hahahha. Sejak saat itu akhirnya aku dan kak Zayn sudah terbiasa saling memberikan perhatian dan bercanda bersama.
Esok harinya kita janjian bertemu pulang sekolah, kali ini aku sudah izin ke orang tuaku untuk pulang agak telat. Bukan karena ingin mengikuti organisasi yang aku tak paham itu, tapi menunggu kak Zayn selesai mengurus LDK Osis, agar bisa pulang bersama.
Saat pulang sekolah aku melihat kak Zayn didekati banyak cewek cantik di kegiatan tersebut, jauh lebih cantik dariku. Sepertinya dia juga termasuk murid baru tapi beda kelas denganku, karena aku pernah melihatnya sewaktu MOS kemarin.
Awalnya aku ditemani Widya, karena menunggu kak Zayn bakalan lama, aku menyuruh Widya untuk pulang terlebih dahulu, dan membiarkanku menunggu kak Zayn sendirian. 
Kemudian aku beranikan diri menuju ke tempat kegiatan LDK yang tidak jauh dari kelasku, untuk menemui kak Zayn. Sebelum sampai ke tempat tersebut, ada kakak kelas cewek yang merupakan peserta LDK Osis menghalangiku. Orangnya sama tinggi denganku, rambutnya panjang dan lurus, serta memiliki hidung mancung dan berkulit hitam manis. 
Dia melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepalaku dengan sinis. Aku merasa takut saat itu, akhirnya kak Zayn langsung menghampiriku, kemudian cewek itu langsung pergi meninggalkanku.
"Ada apa karin? Kamu kenal dengan Ria?" Tanya kak Zayn kepadaku.
Aku pun menceritakan kejadian tersebut pada kak Zayn, dan dia hanya tertawa. Aneh ni orang, masa dia hanya tertawa mendengarkan keluhanku. Akhirnya kukatakan pada kak Zayn akan menunggunya dikelasku,  yang jaraknya hanya beberapa kelas dari tempat kegiatan.
Akhirnya kita pulang bersama, sepertinya banyak yang memperhatikan kita. Kita pun naik angkutan umum dan duduk dipojok belakang. Kak Zayn kemudian menceritakan kepadaku bahwa cewek tadi merupakan kakak kelas Xl ipa2, yang sedari dulu mencoba mendekati kak Zayn. Bahkan dia merupakan salah satu tim sukses saat kak Zayn mencalonkan diri menjadi ketua Osis, tapi hanya kalah 1 suara dari lawannya saat pemilihan.
setiap hari aku dan kak zayn sudah terbiasa jalan bersama, saat waktu istirahat dia sudah berada didepan kelasku dan mengobrol dengan teman-temanku. Melihat canda dan tawanya, aku pun semakin yakin orang ini sangat baik, bahkan dia baik bukan hanya kepadaku saja, tapi teman-temanku juga.
jika ingin membicarakan sesuatu yang hanya perlu kita berdua yang tahu, dia mengajakku jalan keliling sekolah sambil membicarakan hal tersebut. Dalam perjalanan aku melihat semua siswa memperhatikan kita, ada yang tersenyum menegur kak Zayn sambil meledeknya "ciee Zayn". Aku merasa senang dan bangga, rasanya ingin terbang. Karena aku seperti berjalan dengan sosok yang dikagumi banyak orang. 
Setiap hari kita pulang bersama naik angkutan umum, duduk ditempat biasa yaitu di pojok belakang. Kalau ada orang lain yang sudah duduk ditempat itu, kita pasti menunggu angkutan yang lain. Arah rumahnya tidak sejalur dengan rumahku, tapi mau saja seangkutan yang menuju arah rumahku. Tapi kadang aku juga memaksanya untuk naik angkutan searah jalur kerumahnya, gantian lah walaupun harus sedikit jalan kaki.
Detik demi detik, hari demi hari aku semakin nyaman dengannya, perhatian dan kasih sayang yang diberikan membuat aku terbiasa. Tapi kenapa sampai detik ini, dia tidak memberikan penjelasan, padahal sudah 1 bulan lebih loh kita dekat. Apakah aku hanya pengisi waktunya?
Rasa yang bercampur aduk itu membuat aku berani menanyakannya kepada kak Zayn. "Kak kita sudah lama dekat, disekolah hingga pulang kita selalu sama-sama, bahkan saat dirumah pun kita saling sms dan telepon. Tapi kepastian hubungan kita seperti apa?, apakah hanya sebatas teman?" Tanyaku pada kak Zayn.
Sekitar 30 menit kemudian kak Zayn mengirim sms menyatakan perasaannya padaku. Aduh gak gentle banget sih ni orang, masa iya dia nyatakan lewat hp. Aku tolak dan minta dia untuk menyatakan secara langsung, karena aku paling tidak suka seperti itu, seakan tidak ada keseriusan. Dan akhirnya dia mengiyakan permintaanku dan besok akan dia nyatakan secara langsung.
Esok harinya dia tidak datang ke kelasku, katanya ada tugas kelompok. Saat pulang sekolah kita bertemu dan seperti biasa pulang bersama. Krikk krikk krikk, aku hampir mendengar suara jangkrik yang jaraknya 100 KM. Dari depan sekolah hingga sampai dirumah dia tidak mengatakan apapun, jangankan menyatakan cinta, nafasnya saja tidak kudengar.
Saat dirumah akupun mengirim pesan singkat untuk mengingatkannya, dia minta maaf karena malu. Akupun tertawa sendiri dan memakluminya, ternyata walaupun dia mampu dan bijak bicara didepan banyak orang, tapi bisa lemah untuk mengakui perasaanya. Bagiku orang seperti dia memang harus disupport terus agar berani, dan bagiku dia termasuk lelaki yang baik.
Hari demi hari pun berlalu, belum muncul keberanian darinya. Aku tak pernah mundur dan bosan menanti keberanian itu. Bagiku tidak masalah apa yang akan dia katakan, indah ataupun tidak kalimatnya, tapi ketika dia berani itu sudah cukup bagiku.
Akhirnya pada hari Jumat saat aku belum lama sampai dikelas, dia mengirimku pesan singkat untuk bertemu didepan lab komputer, yang berada dekat dengan kelasku. Sudah kuduga akhirnya dia berani menyatakan perasaannya padaku. Walaupun tak jelas apa yang dia katakan, setidaknya aku mengerti maksud pembicaraannya, dan aku bangga atas keberaniannya saat itu.
Sejak saat itu, yaitu saat menantikan keberaniannya. Banyak kisah yang lebih menarik lagi dan akan aku tulis ditulisan berikutnya.