Monday, July 30, 2018

Rasa Bersalah

Berapa hari lalu kita bertemu lagi di salah satu restoran makanan cepat saji, bersama kedua temanku yang memang sudah terbiasa dengan hubungan kita sejak SMA. 
Seperti biasa, aku Karin kesayanganmu masih merasakan rasa yang biasa kau bagikan sejak dulu. Yaitu caramu menyayangiku bukan hanya padaku saja, tapi terhadap teman-temanku juga. Aku berharap pendampingku kelak sepertimu, yang bisa menyayangiku, teman dan keluargaku.  
Bukankah sudah ku katakan padamu, kau tak perlu mendengarkan permintaan kedua temanku itu, padahal kita janjian hanya untuk pergi minum es kepal durian yang berada dekat rumahku. Tapi yasudah lah, dari dulu kau memang selalu begitu, memanjakan temanku yang sudah terbiasa dengan kebaikanmu.
Pertemuan kali ini terasa berbeda, kita bukan lagi anak SMA yang seperti dulu lagi. Aku sudah dewasa kak, jangan lagi kau menyebutku si keriting yang alay, atau mengejek postur tubuhku yang tidak bertambah tinggi sejak umur 17 tahun. Apalagi mempermasalahkan berat badanku seperti yang telah kau tulis pada tulisanmu sebelumnya.
Kali ini aku ingin mempertanyakan tentang surat pertama itu, apakah surat itu tidak berlebihan? Aku kan Karin yang pemalu, masa iya menulis surat seperti itu hahahaha. Dan kau pun menjawab "iya benar, Karin memang pemalu saat belum jadian. Tapi setelah itu, berubah menjadi Karin yang tidak tahu malu". Hahaha kita kembali bernostalgia dengan masa lalu.
Kau memintaku untuk meneruskan tulisan tentang kita, terutama menanggapi tulisanmu sebelumnya. Jujur aku ingin sekali membahas tentang karakter Yuni yang rese itu, yang telah menghapusku dari semua media sosialmu, dan tersisa Line yang dia lupakan. Padahal kau tahu aku tak begitu suka dengannya, setelah apa yang dia perbuat pada kita berdua. Tapi kali ini aku hanya ingin menulis tentang rasa bersalahku padamu.
Memang benar apa yang kau sampaikan, tentang pernyataanku yang selalu kutekankan padamu dan lelaki setelahmu. Aku merasa seperti menjilat ludah sendiri, pernyataan itu akhirnya menjadi bumerang untukku. Aku merasa bersalah setelah membaca tulisanmu, aku tak mampu berkata-kata lagi, tak mampu membantah, karena itu memang kesalahanku sendiri. 
Kau memang tidak menuntut saat itu, seperti lelaki lain setelahmu. Tapi kau juga merasakannya bukan? Aku baca tulisanmu yang mengatakan aku tidak berlaku adil terhadapmu, dan aku bisa merasakan itu.
Kak zayn, kali ini Karin hanya bisa minta maaf soal pernyataan itu, kau tahu lah bagaimana sifat anak SMA yang masih labil. Setelah kuliah aku baru disadarkan oleh teman-temanku, agar memberikan kesempatan kedua. 
Kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencoba untuk berikan kesempatan, walaupun nanti hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Seandainya dulu cara berpikirku seperti ini, kisah kita tak akan seperti tulisan-tulisanmu itu.
Kau bertanya "bagaimana rasanya setelah memberikan kesempatan kedua, apakah ada yang beda?". Kak Zayn, aku tahu kau mempermasalahkan perihal ini, walaupun kau mengatakan tidak menuntut hal itu. Tapi aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, setiap membaca tulisan-tulisan tentang kita, yang sangat detail kau gambarkan pada setiap narasi yang kau tulis.
Memberikan kesempatan kedua rasanya seperti permen nano-nano, kadang terasa ini merupakan keputusan terbaik, kadang terasa ini merupakan keputusan yang salah. Seperti kita membaca buku yang sama berulang kali. Kita sudah tahu alur cerita hingga akhir, tapi tetap saja masih ingin kita baca berulang kali. Seperti itu lah yang aku rasakan.
Menurut Karin, ketika memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berubah, pelan-pelan suatu saat dia akan berubah. Itulah yang karin yakini hingga saat ini, seperti siklus yang berkelanjutan, antara Kesempatan, yakin, kesalahan, dan kesempatan lagi.
Jika kau tanyakan apa yang kurasakan sekarang, aku tidak bisa menjawab. Antara yakin dengan dia ataupun telah terjebak dengan siklus itu. Tapi lelaki yang bersamaku sekarang masih menjadi yang terbaik, terbaik dalam hal bahagia dan terbaik dalam hal luka.
Rasa bersalah ini seharusnya tidak ada, jika dulu kau tak gampang terhasut. Kau tidak pernah menceritakan penyebab dan alasan berakhirnya hubungan kita bukan? Aku kesal dengamu saat itu, kau akhiri hubungan kita tanpa memberikan alasan, bahkan aku mendapatkan alasan itu dari temanmu.
Mungkin sosok kak Zayn yang dulu kurang meyakinkan dibandingkan dengan yang sekarang. Kau masih saja tidak memiliki keberanian, yang hanya bisa mengandalkan teman. Bahkan alasan berakhir hubungan kita, hanya temanmu yang sampaikan. Kau terlihat tidak gentle saat itu, kau seakan terhasut kesendirian yang dirasakan oleh temanmu. Sehingga akhirnya kau rasakan siksanya kesendirian itu, yang kau sebut menikmati kesendirian. Dan lebih parah lagi, kau merasakan kesendirian disaat temanmu menemukan pasangan mereka masing-masing.
Sudahlah kau tanyakan tentang hal lain, karena aku selalu cerita tentangku padamu, tapi sebelum hadirnya sosok Yuni yang rese didalam kehidupanmu. Aku hanya ingin mengakui rasa bersalah terhadapmu, atas pernyataanku dulu yang hingga kini masih kau ingat.

No comments:

Post a Comment