Thursday, August 2, 2018

Surat yang Tak Tersampaikan

Sembilan tahun terasa bagaikan interferensicahaya pada interferometer, sehingga jarak yang memisahkan kita selama ini menghasilkan interferensi konstruktifdan interferensi deduktif. kita berdua bagaikan dua gelombang cahaya yang berpaduan, sehingga dapat menghasilkan cahaya yang sangat terang dan kegelapan.
Aku kembali bermain dengan kenangan disaat kau mengulurkan tanganmu padaku. Kau hadir dengan gelombang cahaya yang menyinari kegelapanku saat itu. Aku langsung tersadar dari kegelapan, bagaikan kecepatan cahaya menerangi setiap sudut ruangan.
Ketika kau kembali menerangi kehidupanku yang sebelumnya gelap, kucoba untuk menulis beberapa surat untukmu, tapi aku masih saja menjadi pengecut dan tak berani sampaikan padamu.
Untuk Perawat Gila
Selamat pagi cantik yang tinggal di kawasan kekurangan listrik, saat ini tepat pukul 05:30, sepertinya kau masih tertidur di balik selimut. 
Pagi ini aku teringat padamu dan sengaja kukirim beberapa kalimat untuk memberimu semangat disaat kau terbangun nanti.
Jika nanti kau tersadar dengan cahaya mentari, jangan lupa untuk ucapkan syukur pada Sang Pemilik Fajar. 
Jika berbicara tentang mentari dipagi hari, aku teringat pada hari jumat pagi, saat aku ungkapkan perasaanku padamu yang merupakan awal dari hubungan kita. 
Sekarang kita memang tak memiliki hubungan lagi, tapi izinkan aku untuk mengingat kembali setiap kepingan kenangan disaat kita masih bersama.
Kenangan kita saat itu tak mungkin kulupakan, apalagi sifatmu yang selalu kuingat. Kadang kau pendiam dan kadang juga kau cerewet. karena terlalu pendiam, jika saat marah kau selalu diam bagaikan patung. Karena terlalu cerewet, kau yang selalu memulai percakapan terlebih dahulu dan yang mengakhiri percakapan kita.
Hai cantik, yang dulu pernah aku panggil dengan kata "Sayang". Sekarang kau telah tambah dewasa dan tambah cantik dengan tahi lalat kecil pada bagian atas bibirmu. Tidak terasa kau bukan anak SMA lagi seperti dahulu saat kita masih bersama.
kini kau merupakan seorang sarjana keperawatan. Setelah percakapan kita beberapa hari lalu, aku mengambil kesimpulan bahwa kau adalah perawat gila. Kalau kau sudah terbangun dari tidurmu, jangan lupa minum obat agar otakmu bisa sedikit waras.
Jumat pagi pernah menjadi hari yang spesial untuk kita berdua. Pagi yang mengajarkanku untuk berani mengungkapkan rasa padamu. Sekarang tepat pada jumat pagi, aku ingin terbang bersama dengan semua kenangan kita dulu.
Cepatlah bangun! Bangunkan dirimu agar sadar bahwa kau adalah perawat gila yang butuh obat agar kembali waras.
Cepatlah sadar! Sadarkan dirimu bahwa februari yang akan datang, kita masih bisa kembali bersama.
Untuk mengakhiri tulisanku di pagi ini, aku ingin ingatkan kembali bahwa nanti sore kita punya janji untuk bertemu. Oleh karena itu cepatlah bangun dan sambut pagi dengan obat waras, supaya kau tidak lupa akan janji kita hari ini.
Salam manis untukmu wahai perawat gila yang tinggal di kawasan kekurangan listrik.
Itu adalah surat yang kutulis dihari pertama kau kembali mengisi hariku. Ingin kusampaikan padamu, betapa bahagianya diriku disaat kau kembali, tapi surat itu hanya kutulis tanpa kusampaikan padamu.
Kepada: Yang Aku Perjuangankan
Boleh aku minta waktumu sedikit?
Kau tahu? Aku sangat senang bisa bertemu kembali denganmu, hatiku juga terasa tenang dan nyaman saat bersamamu. 
Sekian lama perpisahan kita, akhirnya bisa terobati dengan pertemuan itu. Aku harus jujur bahwa saat itu kau terlihat cantik, tapi aku merasa tak pantas lagi untuk memujimu.
Aku teringat pada kesalahanku sebelumnya, yang meninggalkanmu demi egoku. Kau juga harus tahu bahwa aku tidak meninggalkanmu sepenuhnya, aku selalu melihatmu dari kejauhan.
Apakah kau akan memaafkan semua tindakanku saat itu?
Ketika aku ingat kesalahan yang kulakukan sebelumnya, rasanya bagaikan air laut yang masuk ke dalam hidung. Sehingga membuat kepalaku terasa sakit dan pedih, serta badanku yang terasa lemah dan tak berdaya. 
Sungguh, aku menyesali tindakanku saat itu. Aku merasa tak pantas lagi untukmu, karena kesalahanku dulu yang telah meninggalkanmu demi egoku.
Mungkin aku hanya lelaki sederhana yang tak bisa menjadi pangeran tampan dan kaya seperti impianmu, tapi aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia di dunia dan di akhirat nanti.
Mungkin kau telah lewati banyak kesan dengan lelaki lain setelah aku, tapi aku masih memiliki rasa yang sama padamu dan berharap kau akan berikan kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku sebelumnya.
Rasa nyaman dan tenang saat bersamamu, memicu hormon endorfin yang diproduksi oleh kelenjar pituari dan syaraf pusat dikepalaku. Sehingga memberikanku energi positif yang membuatku ingin memilikimu kembali. Aku pun selalu berusaha untuk menahan energi tersebut, sehingga hanya kutuang dalam tulisan surat yang tak pernah kusampaikan padamu.
Kepada: Gadis Penunggu Takdir
Assalamu'alaikum.
Hai gadis penunggu takdir, bagaimana kabarmu sekarang? Apakah kau sudah temukan takdir yang kau tunggu? Padahal aku disini adalah takdirmu, hehehe becanda.
Mungkin saat ini kau masih merasakan sakit dari luka kehidupan yang kau katakan bernana dan membuatmu trauma. Sehingga kau putuskan untuk menunggu takdir. 
Kau mungkin masih merasakan pedihnya hidup yang pernah kau alami, tapi itulah estetika hidup.
Hai gadis penunggu takdir, kau terlihat tak lelah dalam menunggu, senyum yang kau berikan seperti menyimpan rasa yang kau sembunyikan. 
Kau memberikan kesempatan kepada semua lelaki untuk mendekatimu, tapi kau tak pernah berani memilih salah satu dari mereka.
Hai gadis penunggu takdir, janganlah hanya menyimpan rasa sakit dari luka itu, tapi kau harus merawatnya agar luka itu hilang. Sudah saatnya kau bangkit dan mengobati rasa sakit yang kau simpan, aku disini akan siap membantu disetiap proses penyembuhan luka itu.
Berhentilah! Berhentilah menjaga lukamu itu.
Hai gadis penunggu takdir, bagaimana kau bisa menunggu takdirmu dengan cara masih menyimpan luka yang bernana. 
Aku mungkin bukan takdirmu, tapi aku meminta kesempatan padamu untuk mengizinkanku menjadi penyembuh lukamu.
Salam manis untukmu, semoga kau siap untuk menyembuhkan luka bernana itu.
Aku bukanlah seorang fisikawan yang pandai tentang teori Fisika Kuantum, sehingga bisa menembus ruang dan waktu melalui kecepatan dan getaran yang kurasakan ketika bersamamu.
Aku ingin sekali menyerap energi dan gelombang kuantum itu, untuk pergi kemasa depan. Sehingga bisa melihat takdirku dan takdirmu nanti.
Kepada: Wanita Rebutan Para Lelaki
Hai sang juara, apa kabar? Iya, kau yang menerima surat ini, yang pernah menjadi sang juara hatiku. 
Maaf mengganggu aktifitasmu hari ini, aku hanya ingin meminta sedikit waktumu untuk membaca tulisanku, yang mungkin tidak terlalu penting bagimu.
Aku tahu sekarang kau telah bahagia dengan pilihanmu, yang merupakan sosok terbaik yang kau impikan. 
Aku tahu begitu banyak lelaki yang mengagumi dirimu, tapi maafkan aku yang telah mundur dalam memperjuangkanmu demi kebahagiaanmu.
Aku mundur demi memberikanmu kebebasan dan kemudahan untukmu memilih. 
Akhirnya kau telah membuat sebuah pilihan dan tampak bahagia. Kusampaikan salam untukmu dan pilihanmu agar selalu mendapatkan Ridha-Nya.
Semoga pilihanmu bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Siap di manapun dan kapanpun untuk menjagamu, selalu siap sedia saat kau susah dan senang, sedih dan gembira, serta berada di sampingmu saat kau sakit seperti yang pernah kau ceritakan.
Keikhlasan dalam melepasmu merupakan puncak perjuanganku padamu, dan itu adalah akhir dari kisah kita.
Sekarang kau telah bebas dan bahagia bersama pilihanmu, begitu juga denganku yang telah bebas bersama sejuknya angin laut disore hari.
Beberapa kenangan kita telah terkubur di dalam pasir putih yang kini tenggelam bersama pasangnya air laut. Kenangan tentang kita telah terganti dengan merdunya suara ombak yang dinamis.
Untuk mengakhiri tulisan ini, dengan senyum yang ikhlas bersama cerahnya langit dan mentari disore hari, kusampaikan salam untukmu agar selalu bahagia dengan pilihanmu.
Sekarang aku akan terbang mengikuti arus angin yang tak beraturan, hingga kutemukan seseorang yang telah menungguku.
Itu adalah surat terakhir yang kutulis dan belum berani kuberikan padamu. Aku mencoba ikhlas menerima apa yang telah ditetapkan oleh Sang Pemilik Takdir. Aku hanya berharap memiliki sifat-sifat cahaya yang dapat dijelaskan dengan teori partikel, berharap setiap gerakku terletak dalam kerangka ruang dan waktu yang relatif. Sehingga dapat mengalahkan waktu yang terlihat sok tahu saat mengingatkanku tentang takdir.

Wednesday, August 1, 2018

Setelah 9 Tahun

Perjalanan panjang yang kulalui ternyata tak semudah yang kubayangkan, tapi aku masih mampu bertahan melewati semua lika liku kehidupan, dan harapanku padamu hingga saat ini. Semua itu tidak sia-sia, bahkan kudapatkan banyak pelajaran yang bisa menjadi motivasi untuk tetap melangkah.
Aku masih mampu melihatmu dari kejauhan. Setiap hari kau disibukkan dengan urusan pekerjaan dan permasalahan dalam keluarga yang tampak sudah kau nikmati. Kesibukanmu itu juga menjadi masalahmu dengan lelaki yang masih bersama denganmu sekarang. Ingin sekali kutulis namanya dalam tulisanku, tapi bagimu itu hal yang tidak perlu kucantumkan.
Dia adalah lelaki yang sangat beruntung, yang masih direstui oleh semesta. Satu-satunya lelaki yang mematahkan komitmenmu, hingga mendapatkan kesempatan yang kedua dan ketiga, mungkin akan ada kesempatan berikutnya darimu. 
Aku beberapa kali melihat kemesraanmu dengannya, kau terlihat bahagia ketika berada disampingnya. Walaupun kau lelah dengan segala urusan pekerjaan dan masalah dalam keluarga, tapi semua lelah itu hilang terbayar ketika berada disampingnya. 
Aku bisa merasakan ketika kau tersakiti atau memiliki banyak beban kehidupan yang kau pikul. Semua itu tergambar pada raut wajahmu yang kusam dan cemberut. Kau diam dan tak ingin bersuara, seakan-akan kau sembunyikan rasamu dari semesta, tapi kau tak bisa sembunyikan semua itu dariku. 
Aku sudah lama mengenalmu, bahkan lebih lama dari lelaki yang menjadi pujaanmu. Dia memang mampu meluluhkanmu dengan sikap dan kasih sayangnya, serta perhatian yang dia berikan padamu. Tapi dia belum tentu bisa bertahan selama sembilan tahun memberimu kasih sayang dan perhatian, tanpa menuntut balas. Sepertiku yang masih bertahan dengan harapan dan kenangan kita.
Sudah lebih dari sembilan tahun kujaga harapan ini. Memberikanmu perhatian dan kasih sayang tanpa menuntut balas darimu, merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku. Melihatmu bahagia membuatku senang, tapi mengapa kau selalu menyembunyikan kesedihanmu dariku? Seakan-akan kau lupa bahwa aku bisa membedakan kapan kau marah, senang dan sedih.
Aku tahu saat itu kau sedang memikul beban yang terlalu banyak, entah dari urusan pekerjaanmu atau dari permasalahan dalam keluargamu. Sehingga membuatku harus memancing emosimu untuk menceritakan semua keluh kesahmu.
Saat itu hari semakin gelap, aku melihat jam di smartphone yang kugenggam menunjukkan pukul 00.15. Kita masih saling berbagi cerita hingga kau tertidur lelap, sehingga harus kita lanjutkan pembahasan itu pada esok hari. Padahal kau belum belum menceritakan semua permasalahanmu, dan begitu juga denganku yang masih ingin berbagi cerita denganmu. Sehingga kita harus mengakhiri pembahasan itu dimalam kedua.
Seperti itulah hidup, akan selalu ada hal baik dan buruk yang akan kita hadapi. Kita harus bisa menentukan langkah untuk memilih, jangan ada ragu ketika kau sudah berani melangkah, dan kau harus berani bertanggung jawab dari setiap langkah yang kau pilih.
Sakit, senang, sedih dan bahagia sudah menjadi hal yang lumrah oleh setiap manusia. Semua tergantung pada kita yang menjalaninya dengan cara mengeluh atau menikmati setiap perjalanan itu. Aku tahu sangat berat permasalahan yang membuat pikiranmu berkecamuk. Sehingga kau sempat berfikir untuk pergi menjauh dari rumah, tapi jangan sekali-kali kau berani lakukan itu.
Saat kau memiliki banyak permasalahan dalam hidupmu, beranilah mengahadapi masalah dan jangan pernah kau mencoba untuk lari dari semua masalah yang kau hadapi. Saat kau tak berani melawan, akan banyak masalah baru yang bermunculan dan menumpuk. Cobalah berani seperti yang kau ajarkan padaku dahulu.
Aku ingat ketika kau mencoba lari dari masalah yang sudah menumpuk. Kau mengirimkan pesan disalah satu media sosial yang sering kita gunakan untuk berkomunikasi "Kak dimana? Apakah Karin boleh tidur dirumah kak Zayn?" Pesanmu ini membuatku sedikit emosi, aku ingin sekali memarahimu. Kau tak perlu lari dari masalah, kau bukan wanita yang lemah.
Sekarang kau sudah dewasa, mampu membedakan mana yang baik dan tidak baik untukmu. Jika kau butuh tempat untuk mengeluh, aku akan selalu siap menampung keluhanmu dan berusaha mencarikan solusi disetiap permasalahan yang kau hadapi. Jika tidak ingin berbagi keluh kesahmu juga bukan masalah bagiku, karena berbagi cerita denganku atau tidak adalah hak pribadimu.
Setiap pertanyaanmu saat itu, telah kujawab dengan jujur, karena aku tidak mungkin mengatakan hal yang tidak mampu kulakukan. Aku jujur dan serius saat menjawab semua pertanyaanmu, karena pertanyaan itu merupakan salah satu bagian dari harapan yang masih kugenggam. 
Setelah sembilan tahun kau masih mengizinkanku untuk memberi perhatian padamu, dengan harapan yang masih kugenggam, itu sudah lebih dari cukup. Aku yakin kau tahu mana yang terbaik untukmu, yang mampu menuntunmu pada kebaikan, bertahan disampingmu disetiap kondisi tanpa berniat meninggalkanmu, menerima setiap kekurangan dan kelebihanmu, dan menjadikanmu satu-satunya wanita yang diperjuangkan hingga masa tua.
Kita berdua sudah dewasa, aku tidak pernah berfikir untuk merebutmu dari lelaki pujaanmu, aku bahkan mendukung setiap pilihan yang membuatmu bahagia. Sembilan tahun bertahan dengan harapanku padamu merupakan hal yang pantas aku lakukan, demi membayar satu kesalahan yang menjadi penyesalan bagiku. Yaitu meninggalkanmu tanpa memberikan alasan disaat hubungan kita berakhir.

Monday, July 30, 2018

Irama Hati yang Terluka

Hasutan waktu tak mampu melawan pikiran dan jari-jariku yang masih ingin berimajinasi dengan kenangan masa lalu. Kemudian aku tuangkan dalam setiap alfabet yang menjadi karsa, hingga tulisanku hidup dan bernapas bagaikan manusia.
Hatiku masih mampu menerima sosok lain dalam kehidupanku, sedangkan pikiranku masih bermain dengan bayangan Karin yang sudah jelas tidak akan memilihku. Karena sampai saat ini kenangan tentangnya masih tersusun rapi tanpa ada yang berani mencurinya.
Menghilangkan Karin dari pikiranku, hanya merupakan usaha yang sia-sia. Bahkan aku berani membentak jika ada malaikat yang mencuri kenangan itu. Biarlah kenangan itu menghilang dengan sendirinya, seiring dengan melemahnya otakku.
Hati ini bukan miliknya, karena aku masih mampu menghempaskan Karin dari hatiku. Walaupun harus melawan rasa sakit yang berlipat karena melawan hasrat dari pikiranku.
Memiliki hati yang lemah dan gampang tergores luka, bukanlah satu hal yang mudah. Pernah ada wanita yang menjaga hati ini dengan baik dan juga ada yang menggores hingga terluka, tapi bukan Karin. Karin hanya berani bermain dalam ruang otakku, sehingga menjadi pertimbangan disetiap langkahku.
Ada wanita yang sedang berjuang menjaga hatiku, yang menghiraukan sosok Karin dalam pikiranku. Wanita yang tangguh menyembunyikan rasa sakit dan selalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa, ketika dia tahu aku sedang bermain dengan kenangan Karin. Aku belum ingin menulis tentangnya, tapi aku tahu dia selalu membaca tulisanku secara diam-diam.
Hatiku pernah merasakan luka yang perih berbarengan dengan rasa bahagia oleh satu wanita. Satu-satunya wanita yang menjaga hatiku secara berlebihan, sedangkan aku membiarkan hatinya meloncat ke berbagai arah. Mampu membuat hari-hariku menjadi cerah dan mampu menjadikan hari-hariku gelap.
Wanita yang memiliki ego besar dan hati yang keras seperti batu, tapi selalu aku nikmati setiap perbuatannya. Dia yang melukai hati dan dia pula yang mengobati. Aku tidak marah pada waktu, yang telah meninggalkanku bersamanya. Apalagi menyesal pernah menjadikan wanita itu sebagai bagian dari kisah hidupku. Karena aku tidak pernah menyesali orang yang dekat denganku, walaupun hanya membawa luka.
Adakah yang pernah rasa bagaimana tergantikan dalam hitungan detik? yang diutamakan tapi dikhianati secara diam-diam. Hati bukanlah bola basket yang bisa dimainkan semau kita, dan dilempar ke berbagai arah. Terkadang aku membalas semua perbuatannya, tapi malah menjadi bumerang bagiku hingga dimusuhi oleh semua temannya.
Temanku pernah dijadikan musuh baginya, sedangkan temannya sudah ku anggap temanku sendiri. Aku tidak pernah marah atau menuntut keadilan, ketika teman-temanku pun memusuhiku disebabkan oleh hasutannya. Kubiarkan mereka memercayai setiap kalimat darinya, tanpa harus ada penjelasan dariku sebagai perbandingan. Aku rela tak dipercaya oleh orang terdekat, bahkan rela berjalan dikegelapan demi memenuhi hasratnya.
Pertengkaran, perdebatan dan saling meninggalkan sudah terbiasa kunikmati. bahkan menikmati setiap luka yang dia berikan. Ego yang besar menjadikannya percaya diri bisa lebih hebat dariku, bahkan selalu berusaha membuatku tak disukai banyak orang. Akupun hanya bisa diam dan menerima setiap perlakuan itu, karena hatiku sudah terbiasa dan tak ingin menghilangkan kebiasaan itu. kebiasaan menikmati rasa sakit itu pun menjadi candu bagiku.
Dia membuatku jauh dari setiap orang terdekatku, kemudian dia tinggalkan sendiri di dalam kegelapan tanpa ada cahaya sedikitpun, hingga akhirnya Karin datang mengulurkan tangannya. Dialah Yuni, wanita yang memusuhi sosok Karin bahkan pernah memusuhi wanita tangguh yang sekarang  sedang berjuang menjaga hatiku.
Hatiku juga pernah hanya dijadikan sebagai tempat berteduh sementara oleh seorang wanita, seakan dia hanya butuh perhatian saja. Wanita yang pernah termakan hasutan Yuni, tapi dia terima segala hasutan itu tanpa marah dan tanpa mengakhiri hubungan. Wanita yang manja dan selalu menyembunyikan rasa sakit, yang selalu memberikan perhatian, tapi akhirnya meninggalkanku sendiri dan dia kembali dengan masa lalunya.
Begitu banyak irama yang dirasakan hati ini, terluka dan tersakiti yang sudah menjadi candu. Tergores hingga berdarah bukanlah hal yang harus disesali, karena semua itu adalah pilihanku agar terus melangkah kedepan.

Lirik Janji yang Terlupakan

Malam ini aku masih terjaga karena memikirkan percakapan terakhir kita. Kucoba untuk mematikan lampu kamarku dan menutup kedua bola mataku, tapi aku malah masuk kedalam ruang otakku. Kemudian aku mencoba menyusuri ruang khusus yang telah menjadi tempat kusimpan rapi tentang setiap kenangangan kita.
Pernahkah kau tenggelam dalam kenangan? Aku temukan lirik-lirik janji kita didalam kenangan itu. Janji yang hanya kita ucapkan tapi telah kita lupakan. Waktu pun menyadarkanku sebelum terlalu dalam kutenggelam bersama semua kenangan itu, yang membuat air mataku berjatuhan tanpa sebab.
Kau pernah melukis wajahmu dengan tinta kasih sayang di dalam ruang hatiku. Kau juga pernah menitipkan bayangan senyum manismu di dalam pikiranku. Apakah harus kuhapus tinta yang terukir dikanvas hatiku, agar tak ada lagi bayangan tentangmu?
Membaca tulisanmu yang begitu emosi saat kita berbagi rasa, aku tak temukan diriku yang menjadi juaramu. Selama ini aku hanya menjadi juara kedua bahkan ketiga, keempat dan seterusnya.
Aku tahu, tidak ada namaku didalam ruang hatimu. Bukan aku orang yang selalu kau sebut menjadi lelaki kesayanganmu. Mataku menjadi saksi menahan rasa sakit ketika kau bermesraan dengan lelaki, telingaku yang telah terbiasa mendengar kalimat rasa bahagiamu, tapi bukan denganku.
Kenapa kau permasalahkanku sebagai lelaki pengecut yang meninggalkanmu tanpa alasan, sedangkan kau masih labil dengan perasaanmu. 
Waktu telah menghasutku agar menjauh meninggalkanmu bersama kenangan yang telah menjadi diksi-diksi disetiap tulisanku. Sedangkan logikaku masih menginginkan aku kembali bersamamu, padahal ruang itu bukan untukku. Lalu kenapa kau masih hadir kemudian pergi lagi.
Bagaimana bisa kau pertanyakan keberanianku, sedangkan lirik janji kita telah kau lupakan. Apakah aku harus berlaku curang? Melawan takdir kemudian berjalan kerumahmu dan bertemu dengan orang tuamu? Sedangkan kau masih belum bisa menentukan siapa pemilik ruang itu, yang merupakan tempat untuk masa depanmu seperti yang dikatakan oleh waktu.
Jangan kau tanyakan perasaanku, jika kau tak mampu untuk menentukan. Sungguh ini tidak adil, Sudah lama aku menjaga bayanganmu disetiap langkahku, dan kau mengetahuinya. Apalagi yang harus dipertanyakan?
Bukan maksudku menuntutmu, namun tak mudah melangkah bersama harapan yang berisi lirik janji yang telah kau lupakan. Tolong yakinkan saja raguku, Apakah aku harus pergi darimu dan membunuh perasaanku padamu?
Aku bisa mengikuti waktu untuk menjauh meninggalkanmu, tapi itu terasa berat bagiku. Berilah kisah kita sedikit waktu, karena aku belum melihat kau terasa berat saat aku berkata untuk pergi menjauh.
Setiap manusia memang memiliki seseorang yang menjadi pilihannya, yang mampu mengubahnya menjadi lebih baik, dan kau masih menjadi pilihanku.
Aku memang pernah bertemu wanita yang lebih cantik darimu, lebih cerdas dan lebih besar perjuangannya untukku, dibandingkan perjuanganku padamu. Tapi untuk apa jika hati ini milik orang lain sedangkan pikiranku masih membayangkanmu seperti lirik janji kita.
Coba tanyakan hatimu sekali lagi, sebelum aku benar-benar pergi menjauh darimu yang masih menjadi alasanku untuk bertahan. Apakah masih ada ruang untukku? 
Kisah kita memang sebentar, tapi semua kenangan itu terukir indah didalam ruang otakku. Aku tak pernah bosan dan berhenti mencoba membuatmu tersenyum dan memberimu perhatian. Aku juga tak menuntut balas darimu, karena bahagiamu adalah bahagiaku.
Aku ingin sekali memarahi waktu yang menuntunku berjumpa lagi denganmu dan harapanku saat itu. Entah takdir yang tak mengizinkan kita menyatu, atau kau yang belum bisa memberi ruang untukku. Menyadarkanku yang telah terlambat menyesali setiap kesalahan dan kebodohanku.
Aku masih menghitung detik, menit dan jam saat bersamamu. Seakan ingin sekali berlama-lama mendengarkan suara dan menatap matamu. Senyummu saat itu masih seperti terakhir kali kita bertemu sebelum hubungan kita berakhir. Saat dimana kau tersenyum dan tertawa dirumah temanmu yang sudah terbiasa dengan hubungan kita.
Aku tahu kau pasti lupa setiap kepingan kenangan kita, apalagi tentang lirik janji yang kita buat. Aku ingin sekali berbagi setiap kenangan itu denganmu, bahkan rela memberikan setiap memori dikepalaku agar kau sadar dengan semua perjuanganku.
Cobalah kau tanyakan padaku tentang kita, akan kujelaskan dengan detail setiap kisah itu, walaupun harus melawan waktu yang masih terus menghasutku.
Hati, pikiran dan jari ini sepakat untuk terus mengetik dan melanjutkan tulisanku. Tapi kau mungkin tak akan mau lagi membaca setiap alphabet yang kususun menjadi narasi tentangmu. Jadi untuk apa kuteruskan? Sehingga mungkin ini menjadi tulisan terakhirku, yang hanya kutujukan pada satu wanita, yaitu kamu Karin.

Kehadiran Yuni

Aku masih menjadi Karin yang kau kenal, yang tidak pandai dalam menulis. Tidak sepertimu yang cerdas dalam menyusun kata-kata hingga menjadi kalimat yang menyentuh hati setiap pembaca. Tetapi kau masih menjadi laki-laki pengecut, yang hanya bisa mengandalkan temanmu saat mengakhiri hubungan kita.
Kenapa kau tidak jelaskan bagaimana bodohnya dirimu saat mengakhiri hubungan kita? Atau kenapa kau tidak tuliskan cerita tentang sosok Yuni, yang pernah menjadi pemenang dalam kehidupanmu. Bahkan berhasil menghapusku bukan hanya dari hidupmu, tapi juga dari setiap akun media sosialmu, sehingga tersisa Line yang dia lupakan. 
Seharusnya Yuni menjadi karakter yang kuat untuk diceritakan. Bukan aku, yang hanya sebentar saja mengisi bagian kisah hidupmu. Jika kau tidak ingin jadikan dia sebagai tokoh dalam tulisanmu, maka aku akan jadikan Yuni sebagai tokoh yang akan kuceritakan dalam tulisanku ini.
Aku sempat tidak menerima kabar darimu sejak Yuni menghapusku dari setiap akun media sosialmu, padahal selama ini komunikasi kita masih terjaga. Sehingga aku kaget ketika melihat foto mesramu dengan Yuni, yang di pamerkan oleh temanmu di akun facebooknya. Aku sempat mengira, kau sengaja untuk tidak berbagi cerita denganku, seperti yang kita lakukan sebelumnya, dan sempat berpikir kau sudah bahagia.
Aku jujur, saat itu kaget ketika melihat kau yang sejak SMA sudah terbiasa menikmati kesindirian, dan akhirnya memiliki pasangan yang bernama Yuni. Kemudian aku mencoba mencari tahu tentang kalian berdua. 
Akhirnya aku menggunakan akun facebook temanku untuk stalking tentangmu. Aku tidak melihat kau pamer tentang Yuni di profil facebook-mu. Dan Yuni ternyata kakak kelasku saat SMA, tapi jujur aku tidak kenal dan tidak pernah melihat sosok Yuni itu disekolah. Entah aku yang kuper atau dia merupakan senior yang culun saat SMA, yang hanya berada dalam kelas saja. Karena aku kenal semua temanmu dan beberapa teman se-angkatan denganmu, tetapi aku tidak pernah melihat batang hidung Yuni saat disekolah dulu.
Tiba-tiba aku melihat Yuni sudah berteman denganku di facebook, aku tidak tahu siapa yang tambahkan. Tapi setelah beberapa hari kemudian, dia sudah tak berteman lagi denganku. Aneh kan? Mungkin dia masih labil pikirku.
Sejak saat kau telah bersama denganya. Aku mulai memperhatikanmu, kau terlihat bahagia dan terlihat serius dengan hubungan yang kalian jalani. Aku pun sempat berpikir sudah tidak ada lagi tentang Karin, intinya saat itu aku bersyukur atas kebahagiaanmu. Beberapa kali aku pernah mendengar perkataan temanmu, yang mengatakan bahwa kau masih saja mengingatku. Jujur aku geer ketika mengetahui bahwa ternyata kau masih menyukai sosok Karin.
Sejak kedekatanmu dengan Yuni, aku merasa kau terlihat lain, tidak sama seperti kak Zayn yang ku kenal dulu. Sepertinya jalanmu sudah mulai tak lurus lagi, sehingga aku pun mencari tahu untuk memastikan saja, apakah kau masih Zayn yang ku kenal.
I'am right, dugaanku benar bahwa jalanmu tak lurus lagi. Ingin sekali menegurmu, tapi apa daya diriku saat itu bukan lagi siapa-siapamu. Aku hanya masa lalumu yang tak berwenang untuk menegurmu, apalagi hubungan kalian yang sudah sangat lama, aku takut jika hanya membuat pertengkaran dalam hubungan kalian. Kemudian aku hanya bisa membiarkan kau memilih jalanmu sendiri, seperti yang kau lakukan padaku sebelumnya. Sembari mendo'akanmu agar tidak terjerumus terlalu dalam dengan pilihanmu.
Akhirnya ketika aku melihat postinganmu di Line, yang sedang memamerkan obat-obatan dan minuman yang tak jelas. Tanpa berfikir panjang, akupun langsung menghubungimu. Responmu saat itu mengagetkanku, kau langsung sadar seketika dan kau seperti tidak takut Yuni memarahimu karena aku kembali lagi dalam kehidupanmu. Setelah kau jelaskan tentang perpisahanmu dengan Yuni, aku merasa aman dan komunikasi kita yang sudah lama terputus, akhirnya tersambung kembali.
Sejak saat itu aku selalu kerumahmu setiap hari, kita tertawa dan bercanda bersama seperti sebelumnya yang biasa kita lakukan. Kita juga memainkan game yang sama, dan kau tidak lupa tentang sifat-sifatku. Hingga tawa canda itu harus kita hentikan disetiap waktu menjelang malam. Seperti biasa, kau langsung mengantarku kerumah agar orang tuaku tidak khawatir.
kemudian datang lagi sosok Yuni rese itu, aku ingat sekali kelakuannya kepada kita. Dia menghasut pacarku, dan memfitnah kau sebagai orang ketiga dari retaknya hubunganku dengan pacarku. Pacarku pun langsung percaya kepadanya, dan tidak mau mendengar penjelasanku. Sedangkan kau, masih seperti kak Zayn yang terlalu baik kepada setiap orang, walaupun orang itu telah menyakitimu. 
Kenapa kau harus meminta maaf dan memberi penjelasan kepada pacarku? Kak Zayn, kita saat itu tidak salah. Jika aku tahu kau malah memberi penjelasan yang tidak penting kepadanya, aku pasti akan langsung marah kepadamu. Untuk apa kau lakukan itu? Demi kebaikanku? Tidak perlu, biarkan saja dia mungkin ingin pacaran dengan Yuni.
Semua ini ulah Yuni, dendam nyi pelet-nya membuat hubunganku dengan pacarku berakhir. Tapi aku kasihan terhadapmu yang saat itu dituduh menjadi orang ketiga. padahal dia itu Yuni kak, wanita yang pernah menggantikan posisiku dalam hidupmu. 
Sejak saat itu komunikasi kita terputus kembali. Aku menjaga perasaanmu, sehingga aku menjauh demi kebaikan kita berdua. Ini semua akibat dendam nyi pelet milik Yuni. Good job Yuni, misimu berhasil, dan semoga kau cepat disadarkan.

Rasa Bersalah

Berapa hari lalu kita bertemu lagi di salah satu restoran makanan cepat saji, bersama kedua temanku yang memang sudah terbiasa dengan hubungan kita sejak SMA. 
Seperti biasa, aku Karin kesayanganmu masih merasakan rasa yang biasa kau bagikan sejak dulu. Yaitu caramu menyayangiku bukan hanya padaku saja, tapi terhadap teman-temanku juga. Aku berharap pendampingku kelak sepertimu, yang bisa menyayangiku, teman dan keluargaku.  
Bukankah sudah ku katakan padamu, kau tak perlu mendengarkan permintaan kedua temanku itu, padahal kita janjian hanya untuk pergi minum es kepal durian yang berada dekat rumahku. Tapi yasudah lah, dari dulu kau memang selalu begitu, memanjakan temanku yang sudah terbiasa dengan kebaikanmu.
Pertemuan kali ini terasa berbeda, kita bukan lagi anak SMA yang seperti dulu lagi. Aku sudah dewasa kak, jangan lagi kau menyebutku si keriting yang alay, atau mengejek postur tubuhku yang tidak bertambah tinggi sejak umur 17 tahun. Apalagi mempermasalahkan berat badanku seperti yang telah kau tulis pada tulisanmu sebelumnya.
Kali ini aku ingin mempertanyakan tentang surat pertama itu, apakah surat itu tidak berlebihan? Aku kan Karin yang pemalu, masa iya menulis surat seperti itu hahahaha. Dan kau pun menjawab "iya benar, Karin memang pemalu saat belum jadian. Tapi setelah itu, berubah menjadi Karin yang tidak tahu malu". Hahaha kita kembali bernostalgia dengan masa lalu.
Kau memintaku untuk meneruskan tulisan tentang kita, terutama menanggapi tulisanmu sebelumnya. Jujur aku ingin sekali membahas tentang karakter Yuni yang rese itu, yang telah menghapusku dari semua media sosialmu, dan tersisa Line yang dia lupakan. Padahal kau tahu aku tak begitu suka dengannya, setelah apa yang dia perbuat pada kita berdua. Tapi kali ini aku hanya ingin menulis tentang rasa bersalahku padamu.
Memang benar apa yang kau sampaikan, tentang pernyataanku yang selalu kutekankan padamu dan lelaki setelahmu. Aku merasa seperti menjilat ludah sendiri, pernyataan itu akhirnya menjadi bumerang untukku. Aku merasa bersalah setelah membaca tulisanmu, aku tak mampu berkata-kata lagi, tak mampu membantah, karena itu memang kesalahanku sendiri. 
Kau memang tidak menuntut saat itu, seperti lelaki lain setelahmu. Tapi kau juga merasakannya bukan? Aku baca tulisanmu yang mengatakan aku tidak berlaku adil terhadapmu, dan aku bisa merasakan itu.
Kak zayn, kali ini Karin hanya bisa minta maaf soal pernyataan itu, kau tahu lah bagaimana sifat anak SMA yang masih labil. Setelah kuliah aku baru disadarkan oleh teman-temanku, agar memberikan kesempatan kedua. 
Kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencoba untuk berikan kesempatan, walaupun nanti hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Seandainya dulu cara berpikirku seperti ini, kisah kita tak akan seperti tulisan-tulisanmu itu.
Kau bertanya "bagaimana rasanya setelah memberikan kesempatan kedua, apakah ada yang beda?". Kak Zayn, aku tahu kau mempermasalahkan perihal ini, walaupun kau mengatakan tidak menuntut hal itu. Tapi aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, setiap membaca tulisan-tulisan tentang kita, yang sangat detail kau gambarkan pada setiap narasi yang kau tulis.
Memberikan kesempatan kedua rasanya seperti permen nano-nano, kadang terasa ini merupakan keputusan terbaik, kadang terasa ini merupakan keputusan yang salah. Seperti kita membaca buku yang sama berulang kali. Kita sudah tahu alur cerita hingga akhir, tapi tetap saja masih ingin kita baca berulang kali. Seperti itu lah yang aku rasakan.
Menurut Karin, ketika memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berubah, pelan-pelan suatu saat dia akan berubah. Itulah yang karin yakini hingga saat ini, seperti siklus yang berkelanjutan, antara Kesempatan, yakin, kesalahan, dan kesempatan lagi.
Jika kau tanyakan apa yang kurasakan sekarang, aku tidak bisa menjawab. Antara yakin dengan dia ataupun telah terjebak dengan siklus itu. Tapi lelaki yang bersamaku sekarang masih menjadi yang terbaik, terbaik dalam hal bahagia dan terbaik dalam hal luka.
Rasa bersalah ini seharusnya tidak ada, jika dulu kau tak gampang terhasut. Kau tidak pernah menceritakan penyebab dan alasan berakhirnya hubungan kita bukan? Aku kesal dengamu saat itu, kau akhiri hubungan kita tanpa memberikan alasan, bahkan aku mendapatkan alasan itu dari temanmu.
Mungkin sosok kak Zayn yang dulu kurang meyakinkan dibandingkan dengan yang sekarang. Kau masih saja tidak memiliki keberanian, yang hanya bisa mengandalkan teman. Bahkan alasan berakhir hubungan kita, hanya temanmu yang sampaikan. Kau terlihat tidak gentle saat itu, kau seakan terhasut kesendirian yang dirasakan oleh temanmu. Sehingga akhirnya kau rasakan siksanya kesendirian itu, yang kau sebut menikmati kesendirian. Dan lebih parah lagi, kau merasakan kesendirian disaat temanmu menemukan pasangan mereka masing-masing.
Sudahlah kau tanyakan tentang hal lain, karena aku selalu cerita tentangku padamu, tapi sebelum hadirnya sosok Yuni yang rese didalam kehidupanmu. Aku hanya ingin mengakui rasa bersalah terhadapmu, atas pernyataanku dulu yang hingga kini masih kau ingat.

Berikan Aku Ruang

Hening terasa ketika pikiran dan hati kita tertuju pada satu tujuan. Saat di mana kita ingin mengeluarkan suara, tapi lidah tak mampu mengucapkan sepatah kata. Hanya hati dan pikiran saja yang saling bicara, membahas suatu objek yang telah menjadi fokus oleh keduanya.
Begitulah yang kurasakan di setiap kau berikan aku perhatian, yang seharusnya tidak pantas untuk kumiliki. Seperti saat pertama kali kumelihatmu di kelas itu, saat kau mau menjadi kekasihku, di saat kau mengulurkan tanganmu ketika aku hilang arah, dan pertemuan lain yang hanya membuatku diam dan membisu.
Aku masih ingat setelah seminggu kita mengakhiri hubungan kita, kemudian kurasakan penyesalan pertamaku dalam hidup ini. Aku sempat meminta maaf padamu, dan bermohon untuk diberikan kesempatan kedua. Dengan ego yang tinggi, mungkin kau merasa lebih dariku sehingga masih menjadi pujaanku, kau pun menjawab: "Maaf kak, bagi Karin sesuatu yang sudah berakhir, tidak bisa diulang kembali."
mengingat perkataanmu itu, yang masih terbayang hingga kini, membuatku merasa tak ada lagi ruang untukku di hatimu. Perih, tapi aku masih saja mau menjadikanmu sebagai wanita yang selalu ku puja dalam hidupku. Setidaknya kau tahu, aku sempat berusaha memperbaiki, walaupun sudah terlambat. Bahkan sampai sekarang masih mengharapkan sesuatu yang sudah kau jelaskan.
Aku bukannya tidak percaya akan kata-katamu, tapi aku yakin suatu saat kau bisa berikan ruang itu padaku. Aku tak butuh banyak, aku hanya butuh sedikit ruang di hatimu, dan akan kuhias setiap sudut ruang kecil itu dengan estetika cinta, yang belum tentu kau dapatkan dari lelaki yang kau temui. Tanpa harus merusak ruang-ruang yang lain.
Setelah melihat beberapa perjalanan hidupmu, aku menemukan sebuah ketidakadilan. Kau ingkari perkataanmu yang sebelumnya kau katakan padaku. Kau bilang padaku, sesuatu yang sudah berakhir tidak bisa diulang kembali. Tapi kenapa ada yang kau berikan kesempatan untuk mengulang sesuatu yang sudah berakhir, bahkan mengulang luka. Dan kamu terlihat menikmati setiap rasa luka yang diberikan, bahkan luka yang sudah bernana seperti yang kau ceritakan padaku.
Aku memang sedikit iri, sedikit merasa tak adil. Kenapa kau sama sekali tak memberikan ruang itu padaku. Aku hanya butuh satu kesempatan saja untuk membuktikan semua penyesalanku. Tapi waktu pun menyadarkanku bahwa, itu adalah langkah yang kau pilih, dan aku hanyalah bayangan masa lalumu, sedangkan ruang itu hanya untuk masa depanmu.
Sekarang aku sadar, bukan semesta tak merestui kita, atau waktu yang permainkanku dengan harapan. Tapi ruang itu masih belum bisa kau berikan padaku, sehingga aku hanya pura-pura bodoh, sembari mengharapkan ruang itu suatu saat nanti.
Apakah kau masih melihatku bertahan walaupun telah kau hempas?. Masih mau mengagumi walaupun tak kau kagumi. Bahkan menikmati setiap rasa sepi yang menghantui, sehingga aku pun sudah terbiasa berjalan sendiri dan menghindar dari keramaian.
Karin, aku masih menyembunyikan setiap kelemahanku, dan kau tahu itu. Apakah kau telah patahkan pernyataanmu itu? Apakah kau sudah bisa mengulang sesuatu yang telah berakhir? Kenapa kau tak bisa berikan kesempatan sekali saja untukku. Aku tak menuntut keadilan darimu, tapi aku hanya ingin membuktikan sesuatu yang menjadi penyesalanku selama ini.
Sudah beberapa kali waktu dan harapan ada bersama kita, tapi ruang itu tidak pernah hadir menjadi kesempatan untukku. Sehingga bisa membuktikan bahwa kau bukan sekadar masa laluku, seperti yang sering mereka katakan padaku.
Kau bilang padaku, aku adalah sosok yang kau kagumi secara diam-diam. Tapi kenapa kita hanya bisa saling memberi perhatian, tanpa ada kesempatan untuk bersatu kembali. Bahkan kita saling menyembunyikan rasa kita dari semesta.
Jangan kau marah ketika membaca tulisan ini, seperti saat kau membaca salah satu tulisanku yang menghadirkan sosok Yuni. Karena sekarang aku paham, jika jalan pilihanmu berbeda, aku tak harus memaksamu agar sejalan denganku. Memberimu kebebasan untuk memilih langkahmu sendiri, merupakan caraku menyayangimu. Ke mana pun arah langkahmu, aku dan waktu akan selalu support setiap pilihanmu, walaupun itu bukan aku.
Aku menulis ini bukan untuk pamer kepada dunia, sehingga semua orang tahu tentang kisah kita, ataupun meyakinkanmu tentang harapan yang masih aku genggam. Bukan untuk itu, silakan kau pilih jalanmu sendiri, dan aku akan selalu merestui setiap pilihanmu. 
Aku hanya takut, takut jika kapasitas otakku yang mulai penuh, hingga perlahan menghilang setiap kepingan kenangan yang telah kususun rapi bertahun-tahun di ruang khusus dalam otakku. Agar suatu saat nanti, harapan itu nyata atau tidak, masih ada tulisan ini yang mengingatkan tentang kisah kita.

Bukan Orang Ketiga


"Tenggelam didasar lautan yang dalam dan gelap, tanpa ditemani setitik cahaya dan suara paus". Itulah yang kurasakan setelah ditinggalkan Yuni. Aku tidak ingin cerita tentangnya, yang hanya membuat kehidupanku semakin gelap.
Perjalanan panjang dengan Yuni akhirnya berakhir dengan perpisahan. Setelah nyaman dibuatnya, akupun ditinggalkan sendiri dan secepat mungkin digantikan dengan lelaki yang lain. Bahkan waktu pun sama sekali tidak menjengukku.
Aku pun hilang kendali, bagaikan orang gila yang sudah tak punya tujuan hidup. Menangis dan merengek seperti anak kecil didepan ibuku, adik-adikku bahkan teman-temanku. Mereka hanya bisa melihat dan kasihan terhadapku, tapi tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.
Setiap pagi aku keluar sendiri, duduk ditepi pantai sambil mendengarkan irama ombak yang dinamis, serta ditemani lagu The Script yang berjudul "The man who can't be moved". Aku menangis tak karuan.
"Aku terlalu bodoh, terlalu lemah, kenapa aku harus memiliki hati yang gampang terluka. Dan saat terluka sulit untuk disembuhkan, apakah lebih baik aku mati saja?" Teriakku pada diriku sendiri.
Aku tidak lagi memikirkan siapapun saat itu, aku hanya memikirkan diriku yang begitu lemah dan memiliki perasaan yang gampang terluka. Akhirnya aku putuskan tinggal sendiri dan menyewa kost. Saat itulah mulai kehidupan gelapku.
Aku sudah tidak pusing dengan perkataan teman-temanku dan saudaraku. Kecuali ibuku, aku sembunyikan kehidupan gelap ini darinya, karena aku lebih tak sanggup melihat dia menangis.
Alkohol, itu adalah minuman utamaku saat itu, bahkan setiap hari kuhabiskan uangku untuk membeli 2 kardus minuman itu. Bahkan obat-obatan terlarang pun sudah kucoba, dimulai dari yang digunakan para bocah maupun kelas atas. Aku gunakan semua jaringan pertemananku, karena aku berteman dengan semua kalangan.
Tidak ada satu manusia pun yang bisa menghalangiku. Bahkan teman-temanku yang hanya biasa menjual obat eceran kaget melihat perubahanku, aku yang dulu mereka kenal anak baik, kini berubah drastis, bahkan memiliki jaringan kelas atas melebihi mereka.
Dua bulan pun berlalu, aku masih dengan dunia gelapku. Aku biarkan mereka lelah sendiri menegurku. "Emangnya mereka siapa?" Tanyaku pada diri sendiri. Semakin hari aku semakin menggila tak karuan.
Sehingga berbunyi pesan di aplikasi Line, aku kaget dan terdiam sejenak. "Astagfirullah, kenapa kak jadi seperti ini?". Ternyata Karin melihat foto obat-obatan yang aku posting di media sosial tersebut. Beberapa detik setelah kuterdiam, waktu pun datang menjengukku sembari mengembalikan harapan yang telah kutitipkan.
Akhirnya dia Karin, satu-satunya yang aku dengarkan setelah ibuku. Satu-satunya wanita yang menyadarkanku tanpa butuh waktu yang lama. Kuceritakan semua padanya dan meminta maaf telah salah melangkah. Langsung kubuang obat-obatan dan alkohol itu, serta kugenggam kembali harapan yang telah lama kutitipkan pada waktu.
Sejak saat itu aku tidak menyentuh barang haram itu lagi. Entah kenapa satu kalimat darinya mampu menyadarkanku saat itu juga. Karin pun berjanji akan datang kerumahku setiap hari setelah selesai kuliah. Sepertinya dia takut jika aku ketergantungan.
Esok harinya dia datang kerumah, duduk depan teras sambil memainkan game yang ada di telepon genggamnya. Aku lihat dia semakin cantik dan dewasa, tapi postur tubuhnya masih sama kecil seperti saat terakhir kali kulihat. Kita pun mulai mengobrol dengan basa basi.
"Bagaimama kabar kak Zayn? Sehat?" Tanya karin.
"Alhamdulillah, karin di antar siapa kesini? Kok masih terlihat kecil aja". balasku bercanda.
seperti kembali pada masa lalu saat masih bersamanya, kita tertawa dan bercanda bersama. Bahkan aku memainkan game yang ada pada telepon genggamnya. Kita memiliki hobi yang sama, yaitu bermain game, dan game yang kita mainkan juga sama. Entah dulu aku yang membuat dia suka game, karena sering menggunakan akun facebooknya untuk main game, atau memang dia suka sendiri. Pada intinya kita memiliki kegemaran yang sama sekarang.
Suara azan magrib berkumandang, dia pun meminjam mukna milik adikku, dan kita pergi ke mushallah bersama. Sejak saat itu namanya kusebut kembali disetiap bait doaku, aku diskusikan kembali dengan sang pemilik takdir. 
Setelah itu aku langsung mengantarkan dia kerumah dengan sepeda motor. Aku masih ingat kalau Karin anak rumahan yang harus cepat pulang kerumah, mungkin bisa gatal-gatal kalau terlalu lama diluar rumah hahaha.
Tiba-tiba bunyi telepon dari orang tuanya yang mengingatkan agar cepat pulang rumah. Seperti yang kuduga, akhirnya aku dan Karin pamitan  ke ibuku dan langsung ku antar dia pulang. 
Saat dia naik motor, aku tanya padanya "Sudah naik?" Karin pun jawab "Sudah". "Kok gak terasa ada boncengan dibelakang kak Zayn yah?" Candaku padanya. Dan dia mencubitku sambil tertawa bersama.
Setiap hari setelah pulang kampus Karin selalu datang kerumahku. Kita tertawa bersama, bermain game, bahkan mengobrol hal yang perlu dibicarakan. Aku sempat menanyakan hubungannya dengan pacarnya. Dia pun menceritakan kondisi mereka, yang pada intinya sedang retak. Aku hanya menjaga-jaga agar tidak menjadi masalah untuk hubungan mereka.
beberapa hari kemudian Karin sudah tidak datang kerumah, bahkan tidak mengabariku lagi. Saat aku buka akun Path, merupakan media sosial yang lagi trend saat itu. Ternyata Karin putus dengan pacarnya, lebih parah lagi aku digosipkan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua. Setelah aku telusuri kembali, ternyata sumber gosip dari Yuni, mantanku sebelumnya.
Langsung kuhapus akun media sosial tersebut beserta aplikasinya. Sejak saat itu aku tak menghubungi Karin lagi, kubiarkan dia memilih jalan pilihannya sendiri. Aku tak ingin jadi beban masalah bagi kehidupannya. Setidaknya sekarang aku sudah kembali melangkah bersama harapan yang telah dikembalikan waktu padaku.

Kau Hilang Terganti

Sudah lama kita tak bertemu, semenjak pertemuan kita terakhir 2 tahun lalu, untuk merayakan ulang tahunku di sebuah restoran makanan cepat saji yang berada dipusat kota. Saat itu kita ditemani oleh kedua temanmu yang biasa menemani kita disaat SMA.
Setelah kau pergi menghilang tanpa kabar, aku mulai belajar membuka hatiku untuk wanita lain, walaupun harus menyembunyikan harapanku padamu disudut ruang otakku. Sangat berat rasanya jika harus menyembunyikan harapan yang telah kurawat dengan baik selama ini.
Saat aku sudah mulai belajar menerima wanita lain untuk mengisi kehidupanku. Tiba-tiba kau muncul lagi mengisi hari-hariku, walaupun kita hanya saling Video Call bersama via scype. Aku masih ingat, dan itu video call pertama kita. Kau seperti orang kebingungan yang sedang mencari sesuatu sambil berkata.
"Kak Zayn tunggu sebentar, Karin cari kain dulu untuk menutup kepala".
Aku hampir lupa, ternyata kau sudah berhijab hahahaha. Padahal kau sudah menggunakan hijab setelah hubungan kita berakhir. Tapi entah kenapa aku biasa saja, seakan menganggap kau masih Karin yang dulu. Sehingga kubalas "Tidak apa-apa, kak sudah pernah lihat kok, rambut keritingmu" balasku dengan bercanda. Tapi setelah itu kau menghilang lagi, dan akupun melanjutkan kisah baruku tanpamu.
Aku sudah memiliki wanita baru, Yuni namanya. Ingin sekali kupamer dan kenalkan padamu, tapi kau sudah hilang tanpa kabar. Aku juga tidak ingin terlihat alay seperti mantanmu yang dulu kau pamer dimedia sosial. Tapi aku masih sembunyikan harapanku padamu darinya.
Benar kata mereka "sepintar-pintarnya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga". Sepintar-pintarnya kusembunyikan harapan, akhirnya ketahuan juga. 
Aku tidak sanggup jika harus menyembunyikan harapan itu. Akhirnya terjadi pertengkaran yang hebat antara aku dan Yuni. Semua karena kebodohanku, yang keceplosan menyebut namamu diantara percakapanku dan Yuni. Dia pun akhirnya tahu tentangmu, dan semua rasa yang masih kusimpan untukmu.
Dia menangis didepanku, dan kau tahu bukan? Aku tak sanggup melihat wanita menangis, apalagi menangis karena ulahku. Bingung dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Situasi itu memaksaku untuk memilih harapanku padamu yang telah kurawat selama beberapa tahun, aaukah Yuni yang telah kusakiti perasaannya karena masih menyimpan harapan itu.
Akupun menggenggam tangan yuni sembari meminta maaf padanya, dan berjanji tidak akan menyimpan harapan itu lagi. Dan akupun meminta maaf pada waktu sembari kutitipkan harapan itu padanya.
Hari demi hari, aku sama sekali tidak bisa melihatmu dari kejauhan. Setiap akun media sosialmu juga sudah tak bisa kulihat lagi, karena yuni menggunakan akunku untuk menghapusmu dari pertemanan. Tersisa nomor HP yang masih kuhafal, dan emailmu yang masih bisa ku akses. Tapi aku tak mau mengingkari janjiku pada yuni dan mengulangi kesalahan kemarin.
Karin, mungkin kau benar, didepan masih banyak jalan yang belum kutemui. Kini aku akan melangkah tanpamu, bahkan harapanku yang sudah kutitipkan pada waktu. Mungkin sudah saatnya aku menggantikan bayanganmu dengan wajah yang baru, yaitu wajah Yuni. Memang awalnya aku masih saja menyebut namamu, tapi dia juga tak bosan membuatku sadar bahwa kau hanyalah kenangan lama.
Usaha Yuni yang begitu lama, untuk mengingatkanku bahwa sosok Karin hanya masa lalu. Akhirnya membuatku sadar pelan-pelan, walaupun melewati pertengkaran beberapa kali, bahkan sosok Karin dijadikan rival olehnya.
Karin, aku bukan ingin menghapus namamu dari kehidupanku. Aku hanya tak ingin dia tersakiti dan menangis karena ulahku. Aku juga sempat berfikir, bagaimana jika yang dirasakannya terjadi padamu. Aku juga tak mau jika kau tersakiti dan menangis seperti dia.
Karin, kini namamu telah kugantikan dengan namanya. Segala kenangan baru, sedih, sakit dan bahagia kurasakan bersamanya. Dia telah menggantikan posisimu dikehidupanku.
Karin, memang namamu telah tergantikan. Tapi kenangan tentangmu masih tersimpan diruang khusus otakku, masih tersusun rapi tanpa ada yang hilang. Dan harapan itu masih kutitipkan pada waktu. Pelajaran terakhir yang ku ambil darimu, yaitu "Masih banyak jalan yang belum kutemui didepan".
Sekarang kuserahkan pada waktu untuk mempertemukan kita ataupun tidak, dan juga kepada sang pemilik takdir. Setidaknya sekarang aku masih melangkah kedepan walau dengan sosok yang baru, Yuni namanya.

Sunday, July 29, 2018

Masih Menyebut Namamu

Ketika suara ombak memainkan syair-syair irama yang merdu dan beraturan, bagaikan lagu-lagu romantis yang dinyanyikan oleh sheila on7, membuatku teringat akan setiap kenangan indah kita yang singkat tapi terasa begitu lama.
Aku masih ingat lagu kesukaanmu, bahkan band favoritmu, kalau tidak salah namanya band ungu bukan? Sedangkan aku lebih menyukai band romantis dengan aliran Jepang rock. 
Terkadang kau suka menertawakanku, karena bagimu gaya dari band favoritku terlalu alay. Apakah kamu tidak berkaca di depan cermin? Lelaki yang sedang bermesraan denganmu di media sosial itu lebih alay dibandingkan band favoritku.
Sampai saat ini banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, tapi biarlah waktu yang akan cerita padamu. Karena sekarang aku dan waktu sudah bersahabat, hanya waktulah yang menemaniku di saat aku merasa sendiri dan dihantui kenangan kita.
Aku sudah bertemu dengan beberapa wanita, tapi aku masih saja menyebut namamu di setiap obrolanku dengan mereka. Sehingga nama Karin menjadi rival bagi mereka, padahal mereka tak mengenalmu. Bahkan tanpa kau ketahui hanya namamu yang selalu aku diskusikan dengan Tuhan di setiap doaku.
Aku tidak pernah berniat menyebut namamu di setiap bait doaku, tapi jiwa dan pikirankulah yang membuatku lemah, masih memercayai harapan yang belum tentu direstui oleh sang pemilik takdir. Bahkan aku selalu melawan untuk tidak menyebut namamu didalam doaku, tapi justru bayangan wajahmu yang hadir saat aku tak ingin menyebut namamu.
Karin, apakah aku salah jika nama dan bayangan wajahmu selalu hadir disetiap nafasku? bahkan teman-temanku bertanya arti dari setiap sandi akun yang aku ambil dari bagian namamu. Aku tidak memintamu untuk percaya tentang semua ini, jika nanti waktu ceritakan padamu. Karena cukup aku saja yang tahu betapa penuh perjuangan melangkah bersama bayangan wajah dan namamu.
Sampai hari ini aku masih suka menaiki angkutan umum dan duduk di pojok belakang, untuk melihat bayanganmu yang sedang tertawa dan bercanda dengan diriku saat kita masih bersama. Aku sendiri pun bingung kenapa bersikap demikian, padahal aku memiliki kendaraan pribadi yang bisa aku gunakan.
Aku bisa saja mengganti setiap sandi akunku dengan sandi baru tanpa namamu. Aku bisa saja tidak menyebut namamu di setiap obrolan dengan saudara dan teman-temanku. Tapi waktu selalu menegurku, karena memaksa rasa hanya membuat kita sakit. Justru waktu memintaku untuk menikmati setiap sisa kenangan itu, agar tidak menyakitkanku.
Apakah aku harus meminta maaf padamu, karena selalu menyebut namamu tanpa aku sadari. Setiap saudara dan teman-temanku tahu masih ada nama Karin di dalam jiwaku. Bahkan orang yang tidak mengenalmu tahu bahwa ada sosok Karin yang masih menjadi harapan disetiap langkahku.
Jika nanti saat kau berjalan di setiap sudut kota, kemudian ada yang memandang wajahmu seakan mengenalmu, berikanlah senyuman kepada mereka, bisa jadi mereka adalah teman-temanku yang sudah bosan mendengar namamu di setiap obrolanku.
Karin, ketika nanti waktu menceritakan semuanya padamu. Kau tak perlu membalas untuk menyebut namaku di setiap obrolanmu, aku tidak butuh itu. Aku ingin kau tetap melangkah sesuai dengan pilihanmu dan menikmati setiap langkah yang kau pilih. Biarkan aku saja yang berusaha tawar menawar dengan sang pemilik takdir.
Terima kasih Karin, karenamu aku bisa bersahabat dengan waktu, sehingga mendapatkan banyak pelajaran darinya. Kau masih menjadi sosok Karin yang aku kagumi. 
Sempat beberapa kali aku berontak untuk tidak mengenalmu, ternyata itu hanya menyakitiku. Membuatmu tetap ada di setiap langkah dan nafasku ternyata menjadikanku lebih baik dibandingkan melawan, dan itu semua pelajaran yang diberikan oleh waktu.
Sekarang aku sudah terbiasa melangkah bersama kepingan kenangan kita, bahkan kenangan itu masih tersusun rapi tanpa ada yang hilang. Tidak seperti buku-buku di kamarku yang berserakan sehingga hilang satu persatu.
Aku juga sudah terbiasa memberimu perhatian, dan menyayangimu tanpa berharap balasan perhatian dan sayang darimu. Aku hanya ingin terlihat beda dibandingkan lelaki-lelaki yang kau temui, yang selalu menuntut balasan dan menyayangimu dengan syarat.
Aku hanya ingin kita saling menuntun bukan menuntut. Menggandeng bukan menarik paksa. Memercayai bukan mencurigai. Membahagiakan bukan membahayakan. Seperti salah satu penggalan lirik milik Fiersa Besari.
Masih banyak hal tentangmu yang ingin kutulis, kurasa dua buku pun tidak cukup. Biarkan tulisanku pelan-pelan menceritakanmu, agar mereka penasaran siapa sosok Karin yang selalu kusebut namanya.