Monday, July 30, 2018

Kehadiran Yuni

Aku masih menjadi Karin yang kau kenal, yang tidak pandai dalam menulis. Tidak sepertimu yang cerdas dalam menyusun kata-kata hingga menjadi kalimat yang menyentuh hati setiap pembaca. Tetapi kau masih menjadi laki-laki pengecut, yang hanya bisa mengandalkan temanmu saat mengakhiri hubungan kita.
Kenapa kau tidak jelaskan bagaimana bodohnya dirimu saat mengakhiri hubungan kita? Atau kenapa kau tidak tuliskan cerita tentang sosok Yuni, yang pernah menjadi pemenang dalam kehidupanmu. Bahkan berhasil menghapusku bukan hanya dari hidupmu, tapi juga dari setiap akun media sosialmu, sehingga tersisa Line yang dia lupakan. 
Seharusnya Yuni menjadi karakter yang kuat untuk diceritakan. Bukan aku, yang hanya sebentar saja mengisi bagian kisah hidupmu. Jika kau tidak ingin jadikan dia sebagai tokoh dalam tulisanmu, maka aku akan jadikan Yuni sebagai tokoh yang akan kuceritakan dalam tulisanku ini.
Aku sempat tidak menerima kabar darimu sejak Yuni menghapusku dari setiap akun media sosialmu, padahal selama ini komunikasi kita masih terjaga. Sehingga aku kaget ketika melihat foto mesramu dengan Yuni, yang di pamerkan oleh temanmu di akun facebooknya. Aku sempat mengira, kau sengaja untuk tidak berbagi cerita denganku, seperti yang kita lakukan sebelumnya, dan sempat berpikir kau sudah bahagia.
Aku jujur, saat itu kaget ketika melihat kau yang sejak SMA sudah terbiasa menikmati kesindirian, dan akhirnya memiliki pasangan yang bernama Yuni. Kemudian aku mencoba mencari tahu tentang kalian berdua. 
Akhirnya aku menggunakan akun facebook temanku untuk stalking tentangmu. Aku tidak melihat kau pamer tentang Yuni di profil facebook-mu. Dan Yuni ternyata kakak kelasku saat SMA, tapi jujur aku tidak kenal dan tidak pernah melihat sosok Yuni itu disekolah. Entah aku yang kuper atau dia merupakan senior yang culun saat SMA, yang hanya berada dalam kelas saja. Karena aku kenal semua temanmu dan beberapa teman se-angkatan denganmu, tetapi aku tidak pernah melihat batang hidung Yuni saat disekolah dulu.
Tiba-tiba aku melihat Yuni sudah berteman denganku di facebook, aku tidak tahu siapa yang tambahkan. Tapi setelah beberapa hari kemudian, dia sudah tak berteman lagi denganku. Aneh kan? Mungkin dia masih labil pikirku.
Sejak saat kau telah bersama denganya. Aku mulai memperhatikanmu, kau terlihat bahagia dan terlihat serius dengan hubungan yang kalian jalani. Aku pun sempat berpikir sudah tidak ada lagi tentang Karin, intinya saat itu aku bersyukur atas kebahagiaanmu. Beberapa kali aku pernah mendengar perkataan temanmu, yang mengatakan bahwa kau masih saja mengingatku. Jujur aku geer ketika mengetahui bahwa ternyata kau masih menyukai sosok Karin.
Sejak kedekatanmu dengan Yuni, aku merasa kau terlihat lain, tidak sama seperti kak Zayn yang ku kenal dulu. Sepertinya jalanmu sudah mulai tak lurus lagi, sehingga aku pun mencari tahu untuk memastikan saja, apakah kau masih Zayn yang ku kenal.
I'am right, dugaanku benar bahwa jalanmu tak lurus lagi. Ingin sekali menegurmu, tapi apa daya diriku saat itu bukan lagi siapa-siapamu. Aku hanya masa lalumu yang tak berwenang untuk menegurmu, apalagi hubungan kalian yang sudah sangat lama, aku takut jika hanya membuat pertengkaran dalam hubungan kalian. Kemudian aku hanya bisa membiarkan kau memilih jalanmu sendiri, seperti yang kau lakukan padaku sebelumnya. Sembari mendo'akanmu agar tidak terjerumus terlalu dalam dengan pilihanmu.
Akhirnya ketika aku melihat postinganmu di Line, yang sedang memamerkan obat-obatan dan minuman yang tak jelas. Tanpa berfikir panjang, akupun langsung menghubungimu. Responmu saat itu mengagetkanku, kau langsung sadar seketika dan kau seperti tidak takut Yuni memarahimu karena aku kembali lagi dalam kehidupanmu. Setelah kau jelaskan tentang perpisahanmu dengan Yuni, aku merasa aman dan komunikasi kita yang sudah lama terputus, akhirnya tersambung kembali.
Sejak saat itu aku selalu kerumahmu setiap hari, kita tertawa dan bercanda bersama seperti sebelumnya yang biasa kita lakukan. Kita juga memainkan game yang sama, dan kau tidak lupa tentang sifat-sifatku. Hingga tawa canda itu harus kita hentikan disetiap waktu menjelang malam. Seperti biasa, kau langsung mengantarku kerumah agar orang tuaku tidak khawatir.
kemudian datang lagi sosok Yuni rese itu, aku ingat sekali kelakuannya kepada kita. Dia menghasut pacarku, dan memfitnah kau sebagai orang ketiga dari retaknya hubunganku dengan pacarku. Pacarku pun langsung percaya kepadanya, dan tidak mau mendengar penjelasanku. Sedangkan kau, masih seperti kak Zayn yang terlalu baik kepada setiap orang, walaupun orang itu telah menyakitimu. 
Kenapa kau harus meminta maaf dan memberi penjelasan kepada pacarku? Kak Zayn, kita saat itu tidak salah. Jika aku tahu kau malah memberi penjelasan yang tidak penting kepadanya, aku pasti akan langsung marah kepadamu. Untuk apa kau lakukan itu? Demi kebaikanku? Tidak perlu, biarkan saja dia mungkin ingin pacaran dengan Yuni.
Semua ini ulah Yuni, dendam nyi pelet-nya membuat hubunganku dengan pacarku berakhir. Tapi aku kasihan terhadapmu yang saat itu dituduh menjadi orang ketiga. padahal dia itu Yuni kak, wanita yang pernah menggantikan posisiku dalam hidupmu. 
Sejak saat itu komunikasi kita terputus kembali. Aku menjaga perasaanmu, sehingga aku menjauh demi kebaikan kita berdua. Ini semua akibat dendam nyi pelet milik Yuni. Good job Yuni, misimu berhasil, dan semoga kau cepat disadarkan.

No comments:

Post a Comment