Monday, July 30, 2018

Bukan Orang Ketiga


"Tenggelam didasar lautan yang dalam dan gelap, tanpa ditemani setitik cahaya dan suara paus". Itulah yang kurasakan setelah ditinggalkan Yuni. Aku tidak ingin cerita tentangnya, yang hanya membuat kehidupanku semakin gelap.
Perjalanan panjang dengan Yuni akhirnya berakhir dengan perpisahan. Setelah nyaman dibuatnya, akupun ditinggalkan sendiri dan secepat mungkin digantikan dengan lelaki yang lain. Bahkan waktu pun sama sekali tidak menjengukku.
Aku pun hilang kendali, bagaikan orang gila yang sudah tak punya tujuan hidup. Menangis dan merengek seperti anak kecil didepan ibuku, adik-adikku bahkan teman-temanku. Mereka hanya bisa melihat dan kasihan terhadapku, tapi tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.
Setiap pagi aku keluar sendiri, duduk ditepi pantai sambil mendengarkan irama ombak yang dinamis, serta ditemani lagu The Script yang berjudul "The man who can't be moved". Aku menangis tak karuan.
"Aku terlalu bodoh, terlalu lemah, kenapa aku harus memiliki hati yang gampang terluka. Dan saat terluka sulit untuk disembuhkan, apakah lebih baik aku mati saja?" Teriakku pada diriku sendiri.
Aku tidak lagi memikirkan siapapun saat itu, aku hanya memikirkan diriku yang begitu lemah dan memiliki perasaan yang gampang terluka. Akhirnya aku putuskan tinggal sendiri dan menyewa kost. Saat itulah mulai kehidupan gelapku.
Aku sudah tidak pusing dengan perkataan teman-temanku dan saudaraku. Kecuali ibuku, aku sembunyikan kehidupan gelap ini darinya, karena aku lebih tak sanggup melihat dia menangis.
Alkohol, itu adalah minuman utamaku saat itu, bahkan setiap hari kuhabiskan uangku untuk membeli 2 kardus minuman itu. Bahkan obat-obatan terlarang pun sudah kucoba, dimulai dari yang digunakan para bocah maupun kelas atas. Aku gunakan semua jaringan pertemananku, karena aku berteman dengan semua kalangan.
Tidak ada satu manusia pun yang bisa menghalangiku. Bahkan teman-temanku yang hanya biasa menjual obat eceran kaget melihat perubahanku, aku yang dulu mereka kenal anak baik, kini berubah drastis, bahkan memiliki jaringan kelas atas melebihi mereka.
Dua bulan pun berlalu, aku masih dengan dunia gelapku. Aku biarkan mereka lelah sendiri menegurku. "Emangnya mereka siapa?" Tanyaku pada diri sendiri. Semakin hari aku semakin menggila tak karuan.
Sehingga berbunyi pesan di aplikasi Line, aku kaget dan terdiam sejenak. "Astagfirullah, kenapa kak jadi seperti ini?". Ternyata Karin melihat foto obat-obatan yang aku posting di media sosial tersebut. Beberapa detik setelah kuterdiam, waktu pun datang menjengukku sembari mengembalikan harapan yang telah kutitipkan.
Akhirnya dia Karin, satu-satunya yang aku dengarkan setelah ibuku. Satu-satunya wanita yang menyadarkanku tanpa butuh waktu yang lama. Kuceritakan semua padanya dan meminta maaf telah salah melangkah. Langsung kubuang obat-obatan dan alkohol itu, serta kugenggam kembali harapan yang telah lama kutitipkan pada waktu.
Sejak saat itu aku tidak menyentuh barang haram itu lagi. Entah kenapa satu kalimat darinya mampu menyadarkanku saat itu juga. Karin pun berjanji akan datang kerumahku setiap hari setelah selesai kuliah. Sepertinya dia takut jika aku ketergantungan.
Esok harinya dia datang kerumah, duduk depan teras sambil memainkan game yang ada di telepon genggamnya. Aku lihat dia semakin cantik dan dewasa, tapi postur tubuhnya masih sama kecil seperti saat terakhir kali kulihat. Kita pun mulai mengobrol dengan basa basi.
"Bagaimama kabar kak Zayn? Sehat?" Tanya karin.
"Alhamdulillah, karin di antar siapa kesini? Kok masih terlihat kecil aja". balasku bercanda.
seperti kembali pada masa lalu saat masih bersamanya, kita tertawa dan bercanda bersama. Bahkan aku memainkan game yang ada pada telepon genggamnya. Kita memiliki hobi yang sama, yaitu bermain game, dan game yang kita mainkan juga sama. Entah dulu aku yang membuat dia suka game, karena sering menggunakan akun facebooknya untuk main game, atau memang dia suka sendiri. Pada intinya kita memiliki kegemaran yang sama sekarang.
Suara azan magrib berkumandang, dia pun meminjam mukna milik adikku, dan kita pergi ke mushallah bersama. Sejak saat itu namanya kusebut kembali disetiap bait doaku, aku diskusikan kembali dengan sang pemilik takdir. 
Setelah itu aku langsung mengantarkan dia kerumah dengan sepeda motor. Aku masih ingat kalau Karin anak rumahan yang harus cepat pulang kerumah, mungkin bisa gatal-gatal kalau terlalu lama diluar rumah hahaha.
Tiba-tiba bunyi telepon dari orang tuanya yang mengingatkan agar cepat pulang rumah. Seperti yang kuduga, akhirnya aku dan Karin pamitan  ke ibuku dan langsung ku antar dia pulang. 
Saat dia naik motor, aku tanya padanya "Sudah naik?" Karin pun jawab "Sudah". "Kok gak terasa ada boncengan dibelakang kak Zayn yah?" Candaku padanya. Dan dia mencubitku sambil tertawa bersama.
Setiap hari setelah pulang kampus Karin selalu datang kerumahku. Kita tertawa bersama, bermain game, bahkan mengobrol hal yang perlu dibicarakan. Aku sempat menanyakan hubungannya dengan pacarnya. Dia pun menceritakan kondisi mereka, yang pada intinya sedang retak. Aku hanya menjaga-jaga agar tidak menjadi masalah untuk hubungan mereka.
beberapa hari kemudian Karin sudah tidak datang kerumah, bahkan tidak mengabariku lagi. Saat aku buka akun Path, merupakan media sosial yang lagi trend saat itu. Ternyata Karin putus dengan pacarnya, lebih parah lagi aku digosipkan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua. Setelah aku telusuri kembali, ternyata sumber gosip dari Yuni, mantanku sebelumnya.
Langsung kuhapus akun media sosial tersebut beserta aplikasinya. Sejak saat itu aku tak menghubungi Karin lagi, kubiarkan dia memilih jalan pilihannya sendiri. Aku tak ingin jadi beban masalah bagi kehidupannya. Setidaknya sekarang aku sudah kembali melangkah bersama harapan yang telah dikembalikan waktu padaku.

No comments:

Post a Comment