Monday, July 30, 2018

Kau Hilang Terganti

Sudah lama kita tak bertemu, semenjak pertemuan kita terakhir 2 tahun lalu, untuk merayakan ulang tahunku di sebuah restoran makanan cepat saji yang berada dipusat kota. Saat itu kita ditemani oleh kedua temanmu yang biasa menemani kita disaat SMA.
Setelah kau pergi menghilang tanpa kabar, aku mulai belajar membuka hatiku untuk wanita lain, walaupun harus menyembunyikan harapanku padamu disudut ruang otakku. Sangat berat rasanya jika harus menyembunyikan harapan yang telah kurawat dengan baik selama ini.
Saat aku sudah mulai belajar menerima wanita lain untuk mengisi kehidupanku. Tiba-tiba kau muncul lagi mengisi hari-hariku, walaupun kita hanya saling Video Call bersama via scype. Aku masih ingat, dan itu video call pertama kita. Kau seperti orang kebingungan yang sedang mencari sesuatu sambil berkata.
"Kak Zayn tunggu sebentar, Karin cari kain dulu untuk menutup kepala".
Aku hampir lupa, ternyata kau sudah berhijab hahahaha. Padahal kau sudah menggunakan hijab setelah hubungan kita berakhir. Tapi entah kenapa aku biasa saja, seakan menganggap kau masih Karin yang dulu. Sehingga kubalas "Tidak apa-apa, kak sudah pernah lihat kok, rambut keritingmu" balasku dengan bercanda. Tapi setelah itu kau menghilang lagi, dan akupun melanjutkan kisah baruku tanpamu.
Aku sudah memiliki wanita baru, Yuni namanya. Ingin sekali kupamer dan kenalkan padamu, tapi kau sudah hilang tanpa kabar. Aku juga tidak ingin terlihat alay seperti mantanmu yang dulu kau pamer dimedia sosial. Tapi aku masih sembunyikan harapanku padamu darinya.
Benar kata mereka "sepintar-pintarnya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga". Sepintar-pintarnya kusembunyikan harapan, akhirnya ketahuan juga. 
Aku tidak sanggup jika harus menyembunyikan harapan itu. Akhirnya terjadi pertengkaran yang hebat antara aku dan Yuni. Semua karena kebodohanku, yang keceplosan menyebut namamu diantara percakapanku dan Yuni. Dia pun akhirnya tahu tentangmu, dan semua rasa yang masih kusimpan untukmu.
Dia menangis didepanku, dan kau tahu bukan? Aku tak sanggup melihat wanita menangis, apalagi menangis karena ulahku. Bingung dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Situasi itu memaksaku untuk memilih harapanku padamu yang telah kurawat selama beberapa tahun, aaukah Yuni yang telah kusakiti perasaannya karena masih menyimpan harapan itu.
Akupun menggenggam tangan yuni sembari meminta maaf padanya, dan berjanji tidak akan menyimpan harapan itu lagi. Dan akupun meminta maaf pada waktu sembari kutitipkan harapan itu padanya.
Hari demi hari, aku sama sekali tidak bisa melihatmu dari kejauhan. Setiap akun media sosialmu juga sudah tak bisa kulihat lagi, karena yuni menggunakan akunku untuk menghapusmu dari pertemanan. Tersisa nomor HP yang masih kuhafal, dan emailmu yang masih bisa ku akses. Tapi aku tak mau mengingkari janjiku pada yuni dan mengulangi kesalahan kemarin.
Karin, mungkin kau benar, didepan masih banyak jalan yang belum kutemui. Kini aku akan melangkah tanpamu, bahkan harapanku yang sudah kutitipkan pada waktu. Mungkin sudah saatnya aku menggantikan bayanganmu dengan wajah yang baru, yaitu wajah Yuni. Memang awalnya aku masih saja menyebut namamu, tapi dia juga tak bosan membuatku sadar bahwa kau hanyalah kenangan lama.
Usaha Yuni yang begitu lama, untuk mengingatkanku bahwa sosok Karin hanya masa lalu. Akhirnya membuatku sadar pelan-pelan, walaupun melewati pertengkaran beberapa kali, bahkan sosok Karin dijadikan rival olehnya.
Karin, aku bukan ingin menghapus namamu dari kehidupanku. Aku hanya tak ingin dia tersakiti dan menangis karena ulahku. Aku juga sempat berfikir, bagaimana jika yang dirasakannya terjadi padamu. Aku juga tak mau jika kau tersakiti dan menangis seperti dia.
Karin, kini namamu telah kugantikan dengan namanya. Segala kenangan baru, sedih, sakit dan bahagia kurasakan bersamanya. Dia telah menggantikan posisimu dikehidupanku.
Karin, memang namamu telah tergantikan. Tapi kenangan tentangmu masih tersimpan diruang khusus otakku, masih tersusun rapi tanpa ada yang hilang. Dan harapan itu masih kutitipkan pada waktu. Pelajaran terakhir yang ku ambil darimu, yaitu "Masih banyak jalan yang belum kutemui didepan".
Sekarang kuserahkan pada waktu untuk mempertemukan kita ataupun tidak, dan juga kepada sang pemilik takdir. Setidaknya sekarang aku masih melangkah kedepan walau dengan sosok yang baru, Yuni namanya.

No comments:

Post a Comment