Ketika suara ombak memainkan syair-syair irama yang merdu dan beraturan, bagaikan lagu-lagu romantis yang dinyanyikan oleh sheila on7, membuatku teringat akan setiap kenangan indah kita yang singkat tapi terasa begitu lama.
Aku masih ingat lagu kesukaanmu, bahkan band favoritmu, kalau tidak salah namanya band ungu bukan? Sedangkan aku lebih menyukai band romantis dengan aliran Jepang rock.
Terkadang kau suka menertawakanku, karena bagimu gaya dari band favoritku terlalu alay. Apakah kamu tidak berkaca di depan cermin? Lelaki yang sedang bermesraan denganmu di media sosial itu lebih alay dibandingkan band favoritku.
Sampai saat ini banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, tapi biarlah waktu yang akan cerita padamu. Karena sekarang aku dan waktu sudah bersahabat, hanya waktulah yang menemaniku di saat aku merasa sendiri dan dihantui kenangan kita.
Aku sudah bertemu dengan beberapa wanita, tapi aku masih saja menyebut namamu di setiap obrolanku dengan mereka. Sehingga nama Karin menjadi rival bagi mereka, padahal mereka tak mengenalmu. Bahkan tanpa kau ketahui hanya namamu yang selalu aku diskusikan dengan Tuhan di setiap doaku.
Aku tidak pernah berniat menyebut namamu di setiap bait doaku, tapi jiwa dan pikirankulah yang membuatku lemah, masih memercayai harapan yang belum tentu direstui oleh sang pemilik takdir. Bahkan aku selalu melawan untuk tidak menyebut namamu didalam doaku, tapi justru bayangan wajahmu yang hadir saat aku tak ingin menyebut namamu.
Karin, apakah aku salah jika nama dan bayangan wajahmu selalu hadir disetiap nafasku? bahkan teman-temanku bertanya arti dari setiap sandi akun yang aku ambil dari bagian namamu. Aku tidak memintamu untuk percaya tentang semua ini, jika nanti waktu ceritakan padamu. Karena cukup aku saja yang tahu betapa penuh perjuangan melangkah bersama bayangan wajah dan namamu.
Sampai hari ini aku masih suka menaiki angkutan umum dan duduk di pojok belakang, untuk melihat bayanganmu yang sedang tertawa dan bercanda dengan diriku saat kita masih bersama. Aku sendiri pun bingung kenapa bersikap demikian, padahal aku memiliki kendaraan pribadi yang bisa aku gunakan.
Aku bisa saja mengganti setiap sandi akunku dengan sandi baru tanpa namamu. Aku bisa saja tidak menyebut namamu di setiap obrolan dengan saudara dan teman-temanku. Tapi waktu selalu menegurku, karena memaksa rasa hanya membuat kita sakit. Justru waktu memintaku untuk menikmati setiap sisa kenangan itu, agar tidak menyakitkanku.
Apakah aku harus meminta maaf padamu, karena selalu menyebut namamu tanpa aku sadari. Setiap saudara dan teman-temanku tahu masih ada nama Karin di dalam jiwaku. Bahkan orang yang tidak mengenalmu tahu bahwa ada sosok Karin yang masih menjadi harapan disetiap langkahku.
Jika nanti saat kau berjalan di setiap sudut kota, kemudian ada yang memandang wajahmu seakan mengenalmu, berikanlah senyuman kepada mereka, bisa jadi mereka adalah teman-temanku yang sudah bosan mendengar namamu di setiap obrolanku.
Karin, ketika nanti waktu menceritakan semuanya padamu. Kau tak perlu membalas untuk menyebut namaku di setiap obrolanmu, aku tidak butuh itu. Aku ingin kau tetap melangkah sesuai dengan pilihanmu dan menikmati setiap langkah yang kau pilih. Biarkan aku saja yang berusaha tawar menawar dengan sang pemilik takdir.
Terima kasih Karin, karenamu aku bisa bersahabat dengan waktu, sehingga mendapatkan banyak pelajaran darinya. Kau masih menjadi sosok Karin yang aku kagumi.
Sempat beberapa kali aku berontak untuk tidak mengenalmu, ternyata itu hanya menyakitiku. Membuatmu tetap ada di setiap langkah dan nafasku ternyata menjadikanku lebih baik dibandingkan melawan, dan itu semua pelajaran yang diberikan oleh waktu.
Sekarang aku sudah terbiasa melangkah bersama kepingan kenangan kita, bahkan kenangan itu masih tersusun rapi tanpa ada yang hilang. Tidak seperti buku-buku di kamarku yang berserakan sehingga hilang satu persatu.
Aku juga sudah terbiasa memberimu perhatian, dan menyayangimu tanpa berharap balasan perhatian dan sayang darimu. Aku hanya ingin terlihat beda dibandingkan lelaki-lelaki yang kau temui, yang selalu menuntut balasan dan menyayangimu dengan syarat.
Aku hanya ingin kita saling menuntun bukan menuntut. Menggandeng bukan menarik paksa. Memercayai bukan mencurigai. Membahagiakan bukan membahayakan. Seperti salah satu penggalan lirik milik Fiersa Besari.
Masih banyak hal tentangmu yang ingin kutulis, kurasa dua buku pun tidak cukup. Biarkan tulisanku pelan-pelan menceritakanmu, agar mereka penasaran siapa sosok Karin yang selalu kusebut namanya.

No comments:
Post a Comment