Saturday, July 28, 2018

Karin dan Surat Pertamanya

Aku terdiam seperti patung yang dihantui kenangan-kenangan canda dan tawa manusia, hanya bisa melihat tapi tak mampu menggerakkan badanku.
 
Sudah 3 hari kita berpisah, aku melanggar janji kita untuk tidak saling meninggalkan. Aku duduk dikamar yang pernah menjadi tempat kita tertawa bersama. Kaulah wanita pertama yang melihat kamarku yang berserakan, buku-buku yang tidak memiliki lemari, baju-baju yang bergantungan, tapi kau seakan tidak perduli kondisiku saat itu.

Aku temukan surat pertamamu didalam dompetku, surat yang kau buat pertama kali untukku. Ingin rasanya kubaca tapi tak sanggup mengingat setiap kepingan kenangan yang menjadi penyesalan. Kau begitu baik, tapi aku terlalu egois hingga meninggalkanmu. Padahal kita bisa menyelesaikan masalah itu bukan?

Beberapa hari ini aku merasakan sesuatu yang beda, kebiasaan yang biasanya kita lakukan telah hilang. Bahkan setiap pulang sekolah pun aku naik angkutan umum sendiri dan duduk dipojok belakang, tempat biasanya kita duduk saat pulang bersama.

Aku ingat ketika kau mengirim pesan "Kak, Karin  sekarang pulang dengan teman-temanku, aku duduk tepat dikursi biasa kita pilih, dan kini bukan kau lagi disampingku tapi temanku".

Kau harus tahu penyesalanku saat itu merupakan penyesalan pertama, menyesal melepaskanmu hanya ego yang terlalu besar. Ingin ku putar waktu kembali dan membunuh egoku saat itu. Kau tahu kan Perasaanku saat itu tidak berbohong, bahkan masih menetap dalam jiwa ragaku sampai saat ini.

Sungguh aku belajar banyak darimu, banyak hal yang pertama aku lakukan bersamamu. Hal-hal gila, canda dan tawa kita lakukan disaat  masih bersama. Tidak ada sedetikpun waktu yang kita sia-siakan, terasa semesta pun merestui kita, tapi hanya saat itu, saat kita masih bersama.

Apakah kau ingat ketika kita naik motor berboncengan tiga bersama temanmu, dan kemudian dihentikan oleh polisi?

Apakah kau ingat ketika kau jujur padaku bahwa kaulah yang menyuruh Widya untuk meminta nomor handphone-ku? Sehingga mengikuti kegiatan menjadi alasan.

Apakah kau ingat surat pertama yang kau buat untukku, disaat kau mengikuti salah satu organisasi yang aku geluti disekolah?

Apakah kau ingat lorong-lorong kelas yang biasa kita kelilingi agar bisa ngobrol sambil berjalan, dan juga lorong depan kelasmu yang menjadi tempat biasa kita duduk bercanda dan tertawa bersama teman-temanmu?

Aku tidak perlu kau ingat semua hal itu, semua kenangan yang menjadi cerita indah kita. Kini kuberanikan kembali membaca surat pertamamu, kuberanikan melangkah keluar rumah, menyusuri setiap tempat yang biasa menjadi favorit kita.

Aku menaiki angkutan umum, duduk ditempat biasa aku duduk saat bersamamu, untuk pergi ketempat pertama kali kita foto bersama. Aku masih mampu melihat gambaran kenangan saat kau memintaku untuk berfoto bersama denganmu kala itu. Senyumanmu itu selalu menghantui disetiap ruang otakku.

"Assalamu'alaikum kak, terima kasih atas perhatian dan kasih sayangmu selama ini, semoga kita mampu mempertahankan hubungan ini yah. Kak Zayn, jika Karin punya salah dalam bersikap dan bertindak, atau cemburu yang berlebihan, mohon dimaafkan yah. Kak Zayn merupakan orang pertama yang Karin cintai, dan ini benar-benar rasa yang berbeda, bukan hanya sekedar status belaka.

owh iya, selama ini kan Karin hanya menulis pesan lewat SMS, berarti ini  merupakan surat pertama Karin untuk kak Zayn. Karin sangat menyayangi kak Zayn.

salam dari kekasihmu Karin".

Itu adalah surat pertamamu yang kubaca kembali saat ini. Karin maafkanku yang tak bisa mempertahankan hubungan kita. Kau juga merupakan cinta pertama dalam hidup ini, tapi ternyata semesta tak merestui kita lagi. Perhatian dan rasa sayang ini akan selalu ada dan hadir dengan cara yang berbeda walaupun kita tak bersama lagi.

kupejamkan mata ini untuk mengenang kenangan dan penyesalan yang terakhir kali. Aku tak peduli lagi jika tetesan air mata ini menjadikanku lelaki yang cengeng, karena kau tahu aku kuat hanya saat berada disampingmu.

Berakhirnya kubaca surat itu, membuat aku sadar dan menemukan pelajaran yang baru. Kau adalah wanita yang telah mengisi bagian cerita kehidupanku, yang akhirnya menjadi diksi-diksi agar tersimpan rapi sebagai motivasi dan pembelajaran kedepan.

Penyesalan memang datang terakhir, karena datang pertama adalah pendaftaran hehehe. Sedikit lelucon itu membuatku lebih baik. Sebuah Rasa akan lebih terasa disaat kita kehilangan.
mencintaimu memanglah pilihan, tapi tidak bersamamu merupakan takdir. Biarlah kita tak bersama lagi, tapi rasa sayang dan perhatian ini masih akan kau rasakan dikemudian hari, dengan cara yang berbeda.

Karin, maafkan aku yang harus tinggalkan surat ini disini. Aku tak butuh surat ini lagi, karena setiap kepingan kenangan kita telah kusimpan rapi di salah satu ruang khusus dalam otakku. Sehingga sampai saat ini aku mencintaimu dengan cara lain. Aku ingin berbeda dari cara lelaki-lelaki yang akan mengisi bagian kisah hidupmu. Berbeda karena aku menyayangimu tanpa memilikimu, memberikan perhatian tanpa mengharapkan imbalan perhatian darimu.

Aku tidak menuntut apapun kepadamu, seperti layaknya lelaki yang akan kau temui nanti, dan suatu saat aku yakin kau akan sadar bahwa aku melepasmu tanpa melepaskan rasa. Membiarkanmu bebas memilih jalanmu sendiri merupakan caraku mencintaimu.

No comments:

Post a Comment