Aku terdiam seperti patung yang dihantui kenangan-kenangan canda dan
tawa manusia, hanya bisa melihat tapi tak mampu menggerakkan badanku.
Sudah
3 hari kita berpisah, aku melanggar janji kita untuk tidak saling
meninggalkan. Aku duduk dikamar yang pernah menjadi tempat kita tertawa
bersama. Kaulah wanita pertama yang melihat kamarku yang berserakan,
buku-buku yang tidak memiliki lemari, baju-baju yang bergantungan, tapi
kau seakan tidak perduli kondisiku saat itu.
Aku temukan surat
pertamamu didalam dompetku, surat yang kau buat pertama kali untukku.
Ingin rasanya kubaca tapi tak sanggup mengingat setiap kepingan kenangan
yang menjadi penyesalan. Kau begitu baik, tapi aku terlalu egois hingga
meninggalkanmu. Padahal kita bisa menyelesaikan masalah itu bukan?
Beberapa
hari ini aku merasakan sesuatu yang beda, kebiasaan yang biasanya kita
lakukan telah hilang. Bahkan setiap pulang sekolah pun aku naik angkutan umum sendiri dan duduk dipojok belakang, tempat biasanya kita duduk
saat pulang bersama.
Aku ingat ketika kau mengirim pesan "Kak, Karin sekarang pulang dengan teman-temanku, aku duduk tepat dikursi biasa
kita pilih, dan kini bukan kau lagi disampingku tapi temanku".
Kau
harus tahu penyesalanku saat itu merupakan penyesalan pertama,
menyesal melepaskanmu hanya ego yang terlalu besar. Ingin ku putar waktu
kembali dan membunuh egoku saat itu. Kau tahu kan Perasaanku saat itu
tidak berbohong, bahkan masih menetap dalam jiwa ragaku sampai saat ini.
Sungguh
aku belajar banyak darimu, banyak hal yang pertama aku lakukan
bersamamu. Hal-hal gila, canda dan tawa kita lakukan disaat masih
bersama. Tidak ada sedetikpun waktu yang kita sia-siakan, terasa
semesta pun merestui kita, tapi hanya saat itu, saat kita masih bersama.
Apakah kau ingat ketika kita naik motor berboncengan tiga bersama temanmu, dan kemudian dihentikan oleh polisi?
Apakah
kau ingat ketika kau jujur padaku bahwa kaulah yang menyuruh Widya
untuk meminta nomor handphone-ku? Sehingga mengikuti kegiatan menjadi alasan.
Apakah
kau ingat surat pertama yang kau buat untukku,
disaat kau mengikuti salah satu organisasi yang aku geluti disekolah?
Apakah
kau ingat lorong-lorong kelas yang biasa kita kelilingi agar bisa
ngobrol sambil berjalan, dan juga lorong depan kelasmu yang menjadi
tempat biasa kita duduk bercanda dan tertawa bersama teman-temanmu?
Aku
tidak perlu kau ingat semua hal itu, semua kenangan yang menjadi
cerita indah kita. Kini kuberanikan kembali membaca surat pertamamu,
kuberanikan melangkah keluar rumah, menyusuri setiap tempat yang biasa
menjadi favorit kita.
Aku menaiki angkutan umum, duduk ditempat
biasa aku duduk saat bersamamu, untuk pergi ketempat pertama kali kita
foto bersama. Aku masih mampu melihat gambaran kenangan saat kau
memintaku untuk berfoto bersama denganmu kala itu. Senyumanmu itu selalu
menghantui disetiap ruang otakku.
"Assalamu'alaikum kak,
terima kasih atas perhatian dan kasih sayangmu selama ini, semoga kita
mampu mempertahankan hubungan ini yah. Kak Zayn, jika Karin punya salah
dalam bersikap dan bertindak, atau cemburu yang berlebihan, mohon dimaafkan
yah. Kak Zayn merupakan orang pertama yang Karin cintai, dan ini
benar-benar rasa yang berbeda, bukan hanya sekedar status belaka.
owh
iya, selama ini kan Karin hanya menulis pesan lewat SMS, berarti ini merupakan
surat pertama Karin untuk kak Zayn. Karin sangat menyayangi kak Zayn.
salam dari kekasihmu Karin".
Itu
adalah surat pertamamu yang kubaca kembali saat ini. Karin maafkanku
yang tak bisa mempertahankan hubungan kita. Kau juga merupakan cinta
pertama dalam hidup ini, tapi ternyata semesta tak merestui kita lagi.
Perhatian dan rasa sayang ini akan selalu ada dan hadir dengan cara yang
berbeda walaupun kita tak bersama lagi.
kupejamkan mata ini untuk
mengenang kenangan dan penyesalan yang terakhir kali. Aku tak peduli
lagi jika tetesan air mata ini menjadikanku lelaki yang cengeng, karena
kau tahu aku kuat hanya saat berada disampingmu.
Berakhirnya
kubaca surat itu, membuat aku sadar dan menemukan pelajaran yang baru.
Kau adalah wanita yang telah mengisi bagian cerita kehidupanku, yang
akhirnya menjadi diksi-diksi agar tersimpan rapi sebagai motivasi dan
pembelajaran kedepan.
Penyesalan memang datang terakhir, karena
datang pertama adalah pendaftaran hehehe. Sedikit lelucon itu membuatku
lebih baik. Sebuah Rasa akan lebih terasa disaat kita kehilangan.
mencintaimu
memanglah pilihan, tapi tidak bersamamu merupakan takdir. Biarlah kita
tak bersama lagi, tapi rasa sayang dan perhatian ini masih akan kau
rasakan dikemudian hari, dengan cara yang berbeda.
Karin, maafkan
aku yang harus tinggalkan surat ini disini. Aku tak butuh surat ini lagi,
karena setiap kepingan kenangan kita telah kusimpan rapi di salah satu
ruang khusus dalam otakku. Sehingga sampai saat ini aku mencintaimu
dengan cara lain. Aku ingin berbeda dari cara lelaki-lelaki yang akan
mengisi bagian kisah hidupmu. Berbeda karena aku menyayangimu tanpa
memilikimu, memberikan perhatian tanpa mengharapkan imbalan perhatian
darimu.
Aku tidak menuntut apapun kepadamu, seperti layaknya
lelaki yang akan kau temui nanti, dan suatu saat aku yakin kau akan sadar
bahwa aku melepasmu tanpa melepaskan rasa. Membiarkanmu bebas memilih
jalanmu sendiri merupakan caraku mencintaimu.

No comments:
Post a Comment