Sunday, July 29, 2018

Mengalahkan Waktu dan Harapan

Semenjak kutinggalkan surat itu, aku hanya mampu mengikhlaskan beberapa kenangan kita. Tersisa cincin yang menjadi buah kalungku dan foto Karin di dompetku, serta beberapa kenangan yang masih tersusun rapi dalam ruang otakku.
Kini kita bagaikan matahari dan bulan, yang hanya bisa bersatu jika takdir mengizinkan. Kaulah matahari sumber cahayaku dan setiap cahaya yang kuberikan pada orang di sekitarku, merupakan cahaya darimu. Kita memang tidak mungkin bersatu lagi, tapi orang lain masih memperhatikan kita bukan?
Kau benar, aku harus menerima apa yang sudah ditakdirkan untuk kita. Tapi kau harus tahu, membunuh kesendirian dan harapanku padamu membutuhkan waktu yang lama. Mungkin bagimu mudah untuk menerima dan mengikhlaskan takdir, tapi bagiku itu merupakan penyesalan yang harus kunikmati.
Saat setahun kita berpisah masih belum cukup bagiku untuk mengobati kesedihan ini. Rasa penyesalan itu sempat kutulis di dalam bait-bait lirik lagu yang kubuatkan untukmu, mungkin suatu saat akan kau dengar jerit penyesalan itu.
Aku tahu kini kau telah temukan beberapa lelaki lain, yang telah mengisi bagian hidupmu. Sedangkan aku hanya mampu bergelut dengan kenangan, penyesalan dan harapan. 
Memilikimu saja aku butuh perjuangan yang begitu lama, apalagi menerima kepergianmu, setahun tidak cukup bagiku. Mungkin kau merasakan waktu berjalan cepat, sehingga telah berganti lelaki lain yang menjadi bagian kisah hidupmu. Aku tahu, karena sampai saat ini aku masih memperhatikanmu dari kejauhan.
Waktu terlihat curang, dia berjalan begitu pelan untukku. Sehari itu terasa setahun, bahkan detik pun tak ingin berganti dengan detik yang lain. Tapi aku melihat semua orang berjalan santai seakan waktu tak mengganggu mereka. Rasanya aku ingin mengeluh kepada waktu yang tidak adil. Apakah kau merasakan hal yang sama? Kurasa tidak, karena kau masih terlihat bahagia hingga sekarang.
Aku sempat diminta untuk melanjutkan kuliah di luar kota, tapi aku lebih memilih di  sini. Kau tau kenapa? Karena harapan itu masih menghantuiku dan tak sanggup kubunuh. Aku masih tak mampu jauh darimu, aku tidak ingin terlalu jauh sehingga sulit menggapaimu.
Karin, bisakah kau bayangkan perjuanganku bertahan melawan harapan dan waktu? Mereka seakan menertawaiku karena lemah menerima takdir. Aku bukan tidak ingin menerima, tapi aku butuh waktu yang lama, sedangkan waktu pun tak berpihak padaku. Bahkan waktu bekerja sama dengan harapan untuk mempersulit perjuanganku.
Kemarin tanggal 2 Desember kau ulang tahun bukan? Apakah kau membaca pesan ucapan selamatku padamu? Cobalah kau perhatikan waktu disaat ku mengirim pesan. Akulah orang terakhir yang memberimu ucapan selamat, karena aku berharap menjadi yang terakhir untuk kehidupanmu nanti. Tapi kau seakan cuek dengan semua usahaku.
sekarang sudah 2 tahun aku berjuang bertahan. Ada beberapa wanita yang kudekati, tapi lagi-lagi bayanganmu dan harapanku masih menghantui setiap langkahku, sehingga aku lebih memilih mundur daripada menyakiti orang lain.
Kau benar, akulah orang pertama yang selalu kau hubungi jika membutuhkan bantuan, akulah orang pertama kau ceritakan keluh kesamu. Bahkan aku masih menjadi teman canda dan tawamu. Tapi kau tidak tahu bahwa aku berpura-pura sudah membunuh harapan dan waktu yang selalu mengerjaiku. Setidaknya aku bisa memantaumu dari kejauhan dan masih memberikan perhatian padamu walaupun melalui media sosial yang sudah mulai kau kenal.
Aku masih ingat saat kau memintaku untuk dibuatkan akun facebook, apalagi akun twitter yang belum lama kubuat untukmu. Sejujurnya aku senang masih menjadi orang yang kau percayai, dan senang masih bisa berkomunikasi denganmu. Entah kenapa itu terasa tidak cukup bagiku, sempat kucoba buang pikiran itu, tapi waktu masih mempermainkanku.
Kadang aku suka kesal ketika melihat kau bermesraan dengan lelaki yang kau pamer di akun media sosialmu. Aku tak ungin cemburu, tapi kali ini harapan yang mempermainkanku. Seharusnya aku bahagia melihat kau bahagia dengan jalan pilihanmu.
Apakah kau ingat, saat akun media sosialmu tak bisa lagi kau akses, kemudian kau menghubungiku karena bingung. Akulah orang yang mengganti sandi akunmu hahaha. Maaf, kulakukan itu karena aku tak lagi mendapatkan kabar darimu. Tapi mulai saat itu kau percayakan sandi akun media sosialmu padaku, bahkan pernah kau izinkan aku mengakses akun tersebut, dan setiap ada teman-temanmu yang terjadi hal serupa denganmu, akulah orang yang kau cari untuk membantu temanmu. Padahal semua itu berawal dariku, tolong maafkan kesalahanku.
Kini aku sudah paham, ternyata waktu hanya mengajarkanku untuk terbiasa mencintaimu dengan cara yang berbeda. Sekarang aku sudah mampu melangkah kedepan walau ditemani harapan dan kenangan kita. Kau yang telah menjadi milik orang lain bukanlah masalah bagiku.
Suatu saat jika kau butuh pundak untuk menangis, raga untuk berlindung. Aku dan waktu akan selalu siap disaat kau butuh. 
Aku sudah berjanji pada waktu untuk menghargai setiap pilihan dan langkahmu. Waktu pun berjanji akan menyadarkanmu, bahwa aku tak pernah berhenti mencintaimu dengan ikhlas dan tanpa mengharapakan balasan. Bahkan jika harus menunggu bulan dan matahari bersatu menjadi gerhana.

No comments:

Post a Comment