Aku gelisah tak karuan, berjalan keluar kamar kemudian masuk lagi, bahkan berjalan kedepan teras rumah seperti orang yang sedang menunggu uang pemilu dari calon legislatif. Semua itu kulakukan karena menunggu balasan pesan sms dari kak Zayn, sedikit kesal karena dia terlalu cuek. Padahal menurutku dia pasti sedang membalas pesan dari cewek lain.
Rasanya ingin berhenti berharap saja, tapi apakah cuma seperti ini perjuanganku untuk mendekati kak Zayn? Aku tidak mau kalah dengan cewek lain yang mampu mendekatinya, masa iya aku tidak bisa. Bagiku orang seperti kak Zayn pantas untuk diperjuangkan.
Aku coba untuk memadamkan egoku, karena aku bukan siapa-siapa yang pantas mempertahankan ego agar di dekati kak Zayn.
"Kak sedang apa?". Kuberanikan diri untuk mengirim pesan perhatian kepadanya. Ingin marah tapi tak sanggup, ingin menangis tapi tak mampu. Pesan itu sama sekali tidak ditanggapi olehnya, rasanya ingin pergi kerumahnya kemudian menampar kak Zayn, sambil mengatakan "Dasar lelaki cuek, tidak pernah peka".
Kumulai menyerah dan mencoba menghilangkan rasa ingin mengenal kak Zayn. Aku lepaskan HP itu dan mulai berjalan keluar rumah, untuk menghirup udara agar bisa tenang. Saat aku mulai melangkah keluar kamar, tiba-tiba hp ku berbunyi. Aku langsung bergegas mengambil hp itu, sembari berharap itu adalah balasan pesan dari kak Zayn, yang sudah kunantikan sebelumnya.
"Yaa Karin, kak cuma tiduran dikamar, Karin sedang apa? Kok belum tidur? Besok kan harus kesekolah."
"Iyalah, semua juga tahu kalau besok harus kesekolah, tenang aja kak. Karin belum tidur karena menunggu balasan sm dari kak Zayn".Balasku padanya dengan sedikit becanda dan merayu.
Rasain kau kak Zayn, pasti dia baper ketika membaca pesanku. Lagian jadi orang gak peka sih, jadi lebih baik buat dia terbang bagaikan burung di angkasa hahahha. Sejak saat itu akhirnya aku dan kak Zayn sudah terbiasa saling memberikan perhatian dan bercanda bersama.
Esok harinya kita janjian bertemu pulang sekolah, kali ini aku sudah izin ke orang tuaku untuk pulang agak telat. Bukan karena ingin mengikuti organisasi yang aku tak paham itu, tapi menunggu kak Zayn selesai mengurus LDK Osis, agar bisa pulang bersama.
Saat pulang sekolah aku melihat kak Zayn didekati banyak cewek cantik di kegiatan tersebut, jauh lebih cantik dariku. Sepertinya dia juga termasuk murid baru tapi beda kelas denganku, karena aku pernah melihatnya sewaktu MOS kemarin.
Awalnya aku ditemani Widya, karena menunggu kak Zayn bakalan lama, aku menyuruh Widya untuk pulang terlebih dahulu, dan membiarkanku menunggu kak Zayn sendirian.
Kemudian aku beranikan diri menuju ke tempat kegiatan LDK yang tidak jauh dari kelasku, untuk menemui kak Zayn. Sebelum sampai ke tempat tersebut, ada kakak kelas cewek yang merupakan peserta LDK Osis menghalangiku. Orangnya sama tinggi denganku, rambutnya panjang dan lurus, serta memiliki hidung mancung dan berkulit hitam manis.
Dia melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepalaku dengan sinis. Aku merasa takut saat itu, akhirnya kak Zayn langsung menghampiriku, kemudian cewek itu langsung pergi meninggalkanku.
"Ada apa karin? Kamu kenal dengan Ria?" Tanya kak Zayn kepadaku.
Aku pun menceritakan kejadian tersebut pada kak Zayn, dan dia hanya tertawa. Aneh ni orang, masa dia hanya tertawa mendengarkan keluhanku. Akhirnya kukatakan pada kak Zayn akan menunggunya dikelasku, yang jaraknya hanya beberapa kelas dari tempat kegiatan.
Akhirnya kita pulang bersama, sepertinya banyak yang memperhatikan kita. Kita pun naik angkutan umum dan duduk dipojok belakang. Kak Zayn kemudian menceritakan kepadaku bahwa cewek tadi merupakan kakak kelas Xl ipa2, yang sedari dulu mencoba mendekati kak Zayn. Bahkan dia merupakan salah satu tim sukses saat kak Zayn mencalonkan diri menjadi ketua Osis, tapi hanya kalah 1 suara dari lawannya saat pemilihan.
setiap hari aku dan kak zayn sudah terbiasa jalan bersama, saat waktu istirahat dia sudah berada didepan kelasku dan mengobrol dengan teman-temanku. Melihat canda dan tawanya, aku pun semakin yakin orang ini sangat baik, bahkan dia baik bukan hanya kepadaku saja, tapi teman-temanku juga.
jika ingin membicarakan sesuatu yang hanya perlu kita berdua yang tahu, dia mengajakku jalan keliling sekolah sambil membicarakan hal tersebut. Dalam perjalanan aku melihat semua siswa memperhatikan kita, ada yang tersenyum menegur kak Zayn sambil meledeknya "ciee Zayn". Aku merasa senang dan bangga, rasanya ingin terbang. Karena aku seperti berjalan dengan sosok yang dikagumi banyak orang.
Setiap hari kita pulang bersama naik angkutan umum, duduk ditempat biasa yaitu di pojok belakang. Kalau ada orang lain yang sudah duduk ditempat itu, kita pasti menunggu angkutan yang lain. Arah rumahnya tidak sejalur dengan rumahku, tapi mau saja seangkutan yang menuju arah rumahku. Tapi kadang aku juga memaksanya untuk naik angkutan searah jalur kerumahnya, gantian lah walaupun harus sedikit jalan kaki.
Detik demi detik, hari demi hari aku semakin nyaman dengannya, perhatian dan kasih sayang yang diberikan membuat aku terbiasa. Tapi kenapa sampai detik ini, dia tidak memberikan penjelasan, padahal sudah 1 bulan lebih loh kita dekat. Apakah aku hanya pengisi waktunya?
Rasa yang bercampur aduk itu membuat aku berani menanyakannya kepada kak Zayn. "Kak kita sudah lama dekat, disekolah hingga pulang kita selalu sama-sama, bahkan saat dirumah pun kita saling sms dan telepon. Tapi kepastian hubungan kita seperti apa?, apakah hanya sebatas teman?" Tanyaku pada kak Zayn.
Sekitar 30 menit kemudian kak Zayn mengirim sms menyatakan perasaannya padaku. Aduh gak gentle banget sih ni orang, masa iya dia nyatakan lewat hp. Aku tolak dan minta dia untuk menyatakan secara langsung, karena aku paling tidak suka seperti itu, seakan tidak ada keseriusan. Dan akhirnya dia mengiyakan permintaanku dan besok akan dia nyatakan secara langsung.
Esok harinya dia tidak datang ke kelasku, katanya ada tugas kelompok. Saat pulang sekolah kita bertemu dan seperti biasa pulang bersama. Krikk krikk krikk, aku hampir mendengar suara jangkrik yang jaraknya 100 KM. Dari depan sekolah hingga sampai dirumah dia tidak mengatakan apapun, jangankan menyatakan cinta, nafasnya saja tidak kudengar.
Saat dirumah akupun mengirim pesan singkat untuk mengingatkannya, dia minta maaf karena malu. Akupun tertawa sendiri dan memakluminya, ternyata walaupun dia mampu dan bijak bicara didepan banyak orang, tapi bisa lemah untuk mengakui perasaanya. Bagiku orang seperti dia memang harus disupport terus agar berani, dan bagiku dia termasuk lelaki yang baik.
Hari demi hari pun berlalu, belum muncul keberanian darinya. Aku tak pernah mundur dan bosan menanti keberanian itu. Bagiku tidak masalah apa yang akan dia katakan, indah ataupun tidak kalimatnya, tapi ketika dia berani itu sudah cukup bagiku.
Akhirnya pada hari Jumat saat aku belum lama sampai dikelas, dia mengirimku pesan singkat untuk bertemu didepan lab komputer, yang berada dekat dengan kelasku. Sudah kuduga akhirnya dia berani menyatakan perasaannya padaku. Walaupun tak jelas apa yang dia katakan, setidaknya aku mengerti maksud pembicaraannya, dan aku bangga atas keberaniannya saat itu.
Sejak saat itu, yaitu saat menantikan keberaniannya. Banyak kisah yang lebih menarik lagi dan akan aku tulis ditulisan berikutnya.

No comments:
Post a Comment