Sunday, July 29, 2018

Melepasku tanpa Melepaskan Rasamu

Mencoba untuk melawan takdir, seperti berenang melawan arus sungai. Kita hanya bisa berusaha melawan arus, tapi hanya akan sia-sia saja. Apakah seharusnya kita tidak melawan arus itu? Membiarkan kita terbawa arus, sehingga kita berdua memiliki jalan cerita sendiri.
Kita pun tidak tahu, apakah kita akan dipertemukan di ujung sungai? Tapi itu tidak penting bagiku, yang terpenting kita berada di arus yang sama, dan kita bisa saling memperhatikan.
Aku takut, takut jika kau akan berada di arus yang berbeda. Aku takut segala perhatian dan kasih sayangmu tak bisa kurasakan lagi.
Kak Zayn, aku masih bisa memanggil namamu, aku pun masih sanggup berdiri tanpa ada kau di sampingku. Semua telah berlalu, benar katamu, "semesta hanya merestui kita disaat bersama." Tapi aku masih merestuimu yang meninggalkanku tanpa kau bawa rasa itu bersamamu.
Jangan lagi kau tanyakan kepadaku, apakah aku ingat semua kisah kita. Aku mungkin akan lupa satu per satu kisah itu, karena aku bukan perempuan yang kuat, seperti para pemujamu yang masih bertahan menunggumu.
Kau tahu segala hal tentangku, tak ada sedikitpun sifat buruk yang tidak kau ketahui, tapi kenapa kau masih menerima semua itu?.
Sekarang berhentilah bertanya padaku, bahkan kepada semesta. Karena semua itu tidak akan merubah apa pun. Kita yang memulai kisah ini, dan kita pula yang mengakhiri. Apalagi yang harus dipertanyakan? Terimalah semua yang telah takdir berikan.
Kak Zayn, dengarkan aku. Kau adalah sosok lelaki yang kuat bagiku. Tidak ada satu manusiapun yang akan sama sepertimu, yang mampu memahami dan mengenalku secepat kau mengenalku. Ini sudah jadi jalan takdir kita, yang tak bisa kita lawan. Kau harus sadar, aku pun tahu kau lelaki yang cerdas, tapi mengapa kau menjadi sebodoh itu.
Sekarang coba kau lihat ke depan, masih banyak jalan yang belum kau temui, jangan lihat kebelakang, kita tidak bisa lagi kembali kebelakang dan bermain dengan kenangan-kenangan yang kita buat bersama. Aku juga tak mungkin lagi menemanimu melangkah kedepan, menyusuri jalan-jalan yang belum kita lihat, sembari meninggalkan kenangan seperti yang biasa kita lakukan.
Ini keputusan kita bersama loh, aku sama sekali tidak menyalahkanmu, karena memulai pertengkaran ini. Jika ditanya siapa pemenang di saat bertengkar, kau lah pemenangnya. Karena selama ini kau lah yang berhasil mengajarkanku banyak hal, yang berhasil mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan, dan hanya kau lah yang mampu memahami sisi burukku.
Kak Zayn, janganlah bersedih dan menyesali semua ini, apakah kamu menyesal telah mengenalku? Perpisahan ini bukanlah akhir dari kisah kita, bukanlah akhir dari rasa yang kau berikan. Aku masih merasakan semuanya, rasa yang kau tinggalkan telah menjadi harapan bagiku. 
Jika memang benar, masih ada kesempatan dan waktu yang diberikan semesta kepada kita, maka kita akan dipertemukan nanti, seperti yang kau katakan padaku. Jika memang bukan kau, aku hanya berharap ada lelaki yang mampu memahamiku seperti caramu memahamiku.
Sudahlah, buang saja semua kenangan itu. Cincin, surat, bahkan fotoku didompetmu. Itu semua hanya akan membuatmu lebih sedih dan tak berani melangkah lagi. Kak, kamu cerdas, tak perlu kau bersikap bodoh seperti lelaki yang lain.
Akhir dari hubungan ini, merupakan awal dari cerita kita. Yah memang itu adalah awal pertengkaran kita, karena kau selalu tahu kapan aku marah dan kapan aku sedih. Jika kau meninggalkanku tanpa meninggalkan rasa, kenapa kau harus sedih? Aku masih disini, sebagai sahabatmu. Dan berharap kau tak marah dan mencampakkanku.
Berhentilah mengatakan tidak akan ada lagi wanita yang bisa menggantikanku, jangan bersikap bodoh. Apakah kak Zayn lupa? Sebelum kau mengenal sosok Karin, kau merupakan sosok yang dikagumi banyak orang dan akupun masih menjadi pengagummu. Seperti ini lah kehidupan, kita harus mempertanggung jawabkan setiap keputusan kita.
Aku Karin, Wanita yang tidak cerdas sepertimu, wanita yang tidak memiliki banyak pengagum seperti dirimu. Tapi aku masih paham semua yang kau ajarkan, dan aku akan berusaha lebih baik dari sekarang.
Kak Zayn, aku percaya dengan rasa yang kau tinggalkan, aku percaya kau akan masih mau memperhatikanku yang bodoh ini, memberiku perhatian, membantuku disaat aku butuh bantuan. Tapi berlapang dada lah untuk menerima takdir kita. Aku masih menjadi Karin-mu yang butuh perhatianmu.
Terima kasih atas semua kenangan kita selama ini, terima kasih telah mengizinkanku mengenalmu, sehingga kau menjadi bagian dari kisah hidupku. Satu hal yang akan aku ingat darimu, yaitu perhatian dan kasih sayang yang kau berikan bukan padaku saja, tapi kepada teman-temanku. Dan itulah caramu membuatku bahagia, bahagia karena kau menerimaku dan orang-orang disekitarku.
Aku memang tak sepandai dirimu dalam menulis kata-kata yang indah, tapi ini adalah tulisan dan harapanku untukmu. Tetaplah menjadi kak Zayn yang ku kenal, dan ketika aku butuh bantuan, kaulah orang pertama yang kucari, karena aku yakin kau satu-satunya yang akan membantuku tanpa syarat.
Sebelum aku akhiri tulisan ini, aku yakin bahwa cerita kita tidak sampai disini. Memang hubungan kita berakhir, tapi dengan berakhir hubungan itu, maka akan dimulai kisah tentang kita. Aku masih mampu melihatmu sekarang, dan berharap kita akan dipertemukan kembali dengan kisah yang lain.

No comments:

Post a Comment